by

Selama 10 Hari di Tahun 1965, Diduga PKI Sekitar 2500 Orang Dibantai di Gayo

Takengon | Lintas Gayo – Sekitar 2500 orang dibantai di dataran tinggi Gayo beberapa hari setelah tanggal 5 Oktober 1965. Mereka dituduh sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Pembantaian tersebut dilakukan selama 10 hari setelah dikeluarkannya perintah dari penguasa militer di Aceh saat itu, Ishak Juarsyah.

Banner

Demikian dituturkan salah seorang aktivis Hak Azasi Manusia (HAM) di Aceh, Mustawalad, Senin 1 Oktober 2012. Dan mirisnya, menurut Mustawalad yang mengaku bertahun-tahun melakukan invetigasi terkait peristiwa tersebut, pembantaian itu kebanyakan salah tangan alias salah orang.

“Baru-baru ini, seorang saksi pembantaian bercerita kepada saya, jika dia sangat menyesal telah terlibat membunuh salah seorang imam masjid di daerah Simpang Tige Redelong (sekarang wilayah Kabupaten Bener Meriah). Padahal bukan dia yang dituduh sebagai PKI, namun anaknya. Namun karena sang anak tidak ditemukan, ayahnya yang dibantai,” kata Mustawalad.

Diceritakan Mustawalad, pembantaian itu terjadi di Timang Gajah. Korban ditembak, namun belum menghembuskan napas terakhir tetap dikubur hidup-hidup. Saksi tersebut sempat melarang, namun rekan-rekannya tidak peduli, tetap menguburkannya hidup-hidup. Keanehan terjadi setelah penguburan selesai, tiba-tiba azan berkumandang yang asal suaranya dari dalam tanah kuburan itu.

Pembantaian yang diduga salah orang juga terjadi di Kampung Kenawat Lut, saat itu datang 2 orang yang diduga PKI dan dibantai oleh warga. “Salah seorang dari orang itu adalah anggota DI (Darul Islam-red). Mereka memilih ke Kenawat Lut untuk mencari perlindungan karena saat itu Kampung tersebut adalah basis gerakan DI,” kata Mustawalad.

Selama 10 hari tersebut, suasana dataran tinggi Gayo betul-betul mencekam melebihi peristiwa-peristiwa menakutkan lainnya yang pernah ada dalam sejarah Gayo. “Di Gresek ada satu orang yang melakukan bunuh diri karena ketakutan yang tidak tertahankan. Padahal yang bersangkutan tidak terlibat sama sekali dengan PKI,” kata Mustawalad.

Ditanya dimana saja lokasi pembantaian orang dan kuburan massal yang diduga PKI saat itu, dirincikan Mustawalad diantaranya di Wih Percos Simpang Tige Redelong, Kubangan Gajah di Ponok Gajah, Totor Besi dan di Bur Lintang Aceh Tengah. “Namun saat ini kuburan massal tersebut sudah tidak ada lagi karena kerangka-kerangka manusia tersebut sudah dipindahkan kuburannya oleh keluarga korban,” ujar Mustawalad.

Penduduk Aceh Tengah saat itu sekitar 25.000 jiwa dan dibantai sekitar 2500 orang. Artinya, dikatakan Mustawalad sebanyak 10 persen rakyat Aceh Tengah dibantai yang belum tentu sebagai anggota PKI.

“Lokasi kuburan merekapun hingga saat ini kebanyakan masih tidak jelas dimana titiknya, termasuk pimpinan PKI Aceh Tengah saat itu THD. Rama yang berprofesi sebagai guru SMP 1 Takengon,” demikian Mustawalad.

Sama Nama Lain Orang

Secara terpisah, salah seorang saksi hidup warga Takengon yang sempat akan dibantai karena memiliki nama yang sama dengan salah seorang yang diduga PKI juga mengaku sangat trauma dengan kejadian tersebut.

“Saya sempat dipaksa naik ke atas truk untuk dibawa entah kemana, namun syukurlah, salah seorang guru agama saya yang kebetulan melihat kejadian tersebut melarang dan menjamin saya bukan sebagai PKI. Saya selamat,” kata sumber Lintas Gayo yang tidak ingin disebut namanya tersebut. (Tim LG)

Comments

comments