by

Kisah Cinta dari Tamiang

Love’s for a lifetime not for a moment
So how could I throw it away
Yeah I’m only human
And nights grow colder
With no-one love me that way
Yeah I need someone who really sees me

Beberapa kisah cinta yang telah difilmkan dan isinya dekat dengan kehidupan sehari-hari pada umumnya lebih menarik minat para penonton, sebut saja seperti Love Actually, Love, Paris Je t’aime yang menyajikan beberapa kisah cinta para pemain dengan latar belakang berbeda-beda dalam satu film. Menyaksikan film-film tersebut, saya berpikir Indonesia ini memiliki banyak kisah cinta baik yang happy ending ataupun sad ending, hanya saja tidak terpublikasikan.

Saya jadi teringat dengan kisah cinta yang saya temukan di Tamiang beberapa waktu yang lalu. Tentu saja kisah cinta yang saya miliki ini bukan sekedar roman picisan belaka. Kisah cinta yang sarat makna dan mengajarkan saya banyak hal. Yang pertama dari seorang pria berumur 70an, ia merupakan penjual rujak di gerobak menggunakan sepeda motor.

“Halo darling” sapanya genit saat saya hendak membeli rujak dagangannya. Ia berasal dari Jawa dan merupakan salah satu warga transmigran pada tahun 1969 lalu. Samir, begitu namanya baru beberapa tahun tinggal di Aceh Tamiang sebelumnya ia tinggal di Aceh Utara.

Ia bercerita saat mencari anaknya yang merupakan korban tsunami pada tahun 2004 silam. “73 hari saya mencari anak saya dengan mengelilingi Kota Banda Aceh”, ujarnya mengawali cerita.

Menurut pengakuannya saat itu ia berjalan kaki dari Blang Bintang hingga ke Lhoknga, menginap dari satu mesjid ke mesjid lainnya. Sedangkan untuk makan ia ikut bersama para pengungsi di camp pengungsian. Anaknya, Sumardadi merupakan seorang TNI yang sedang BKO di Pulo Aceh pada saat tsunami terjadi. Melalui percakapannya dengan seorang nelayan asal Pulo Aceh, ia tahu anaknya telah meninggal. Namun hatinya masih belum merasa tenang jika belum melihat jasad anaknya secara langsung.

Untuk menyeberang ke Pulo Aceh saat itu bukan hal yang mudah, karena armada kapal yang terbatas. Para penumpang atau bantuan yang akan diserahkan ke Pulo Aceh harus sabar menanti giliran hingga berhari-hari.

Samir mengaku tidak pernah tidur nyenyak saat itu, ia seperti mendengar suara anaknya meminta tolong. “Rasanya saya ingin berenang menyeberang ke Pulo Aceh saat itu” ujarnya dengan nada sedih.

“Sebelum berangkat saya berjanji kepada keluarga saya, jika saya berangkat ke Banda Aceh maka saya akan menemukan anak saya hidup atau mati. Tetapi jika saya tidak kembali berarti anak saya juga tidak ditemukan.

Yang namanya anak, darah daging kita sendiri, walau telah menjadi bangkai sebagai orang tua pasti tetap ingin memeluknya” tambahnya. Dan pada akhinya ia berhasil menemukan jasad anaknya yang telah menjadi tengkorak.

Saya terenyuh mendengar ceritanya, jika selama ini kita sering mendengar betapa besar kasih sayang Ibu, hari itu saya mendengar dari mulut seorang laki-laki bahwa seorang bapak juga memiliki kasih sayang yang tidak kalah besar untuk anaknya. Cinta yang tidak akan dapat terbalas oleh apapun.

***

Cerita kedua, saya temukan di Mesjid Syuhada yang terletak di Desa Bundar, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. Saat itu hari Jum’at, waktu telah menunjukkan pukul 11.00 Wib hanya ada penjaga mesjid yang sedang bersih-bersih dan 2 orang musafir lainnya, jadi saya dan teman memutuskan untuk ikut beristirahat di mesjid sebelum ramai oleh para Jama’ah Jum’atan.

Tak lama seorang ibu datang menggandeng suaminya memasuki mesjid. Sang istri menuntun suaminya ke shaf paling ujung di barisan utama, kemudian memberitahukan dimana diletakkannya sebuah Handphone (Hp) sebelum beranjak pergi.

Ah, Subhanallah ternyata sang suami itu buta. Tetapi lihatlah, ia menjadi warga yang pertama datang ke mesjid untuk Jum’atan.

Ketika melewati saya dan teman-teman, sang istri tersenyum seraya berkata “baru nganterin suami” seakan mengerti makna tersirat dari tatapan kami. Cerita kemudian mengalir dari sang istri, bahwa suaminya terkena penyakit glaukoma sejak 4 tahun yang lalu.

Glaukoma adalah salah satu jenis penyakit mata yang secara bertahap menyebabkan penglihatan semakin lama semakin berkurang dan menyebabkan kebutaan. Hal ini disebabkan saluran cairan yang keluar dari bola mata terhambat sehingga bola mata akan membesar menekan saraf mata yang berada di belakang bola mata sehingga saraf mata akan mati karena tidak dapat mendapatkan aliran darah.

Sang suami merupakan Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Aceh Tamiang, namun kendati telah terserang penyakit ia masih kerap datang ke kantor. Kerjaannya tidak seaktif dulu, kini ia kerap menjadi pembicara pada acara pertemuan, rapat dan tempat bertanya bagi rekannya yang masih baru. Dan sang istri dengan setia mengantar-jemput sang suami kemana saja, serta mengurusi segala keperluannya. Tak pernah terlintas dibenaknya rasa lelah atau penat karena aktivitasnya tersebut, apalagi sampai mengakhiri pernikahannya seperti yang disarankan segelintir orang disekitarnya.

“Semula saya mengira bapak (panggilan untuk suaminya) akan depresi, jadi ketika saya berangkat kerja semua benda tajam saya singkirkan. Saya takut bapak akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, tapi ternyata tidak. Bapak melakukan hal yang bisa dilakukannya sendiri, bahkan ia yang kerap memberikan kami wejangan untuk tetap semangat. Kadang kami sekeluarga lupa bahwa bapak terkena penyakit glaukoma oleh semangatnya yang tinggi tersebut. Saya bersyukur bisa mengabdi kepada suami, sungguh saya ikhlas,” ceritanya seraya tersenyum.

Deg, kembali saya tergugu mendengar cerita kehidupan orang lain. Sanggupkah saya seperti sang istri, memiliki rasa sayang sedemikian luasnya. Kendati kejadian ini telah berlalu sebulan yang lalu, tapi ketika saya menuliskannya kembali, saya masih bisa merasakan kehangatan sang istri dan emosi saya saat mendengarnya.

Tentu saja bagi yang lajang seperti saya mendengar cerita seperti ini sangatlah menarik. Apalagi ini merupakan kisah nyata, bukan kehidupan sinetron yang kadang suka terlalu dilebih-lebihkan. Dan menemukan serta mempercayai seseorang itu sepertinya bukan perkara yang mudah.

Saya jadi teringat lirik lagunya The Corrs yang berjudul “All The Love In The World” yang lumayan relevan dengan cerita ini.

Dan sekali saya tekankan, saya yakin 100 persen ada banyak sekali kisah cinta yang sarat makna baik yang happy ending ataupun sad ending di sekeliling kita hanya saja tidak terpublikasikan. (Ria Devitariska)

Comments

comments