Oleh: Konadi Adhan*
MASA Anak-anak adalah masa yang sulit untuk dilupakan. Dengan berbagai macam alasan dan berjuta hal yang terlewati dengan beribu cerita terurai dan di kemas dalam memori kenangan. Nantinya itu menjadi materi pokok yang suatu saat akan di sampaikan pada generasi selanjutnya setelah seorang anak menjadi menjadi seorang dewasa.
Anak merupakan karunia Allah SWT yang tidak dapat di nilai dengan mata uang negara manapun di dunia ini. Bagi orang tua, apapun akan dilakukan dengan harapan anaknya kelak bisa meraih apa yang mereka inginkan. Saat merasakan kejenuhan dan teriknya panas matahari bisa sirna seketika saat bersua dengan anak-anak tersayang di rumah.
Anak adalah penawar kesemua. Hanya dengan setitik senyum dari sudut pipinya, ia dapat mengubah kejenuhan itu menjadi semangat dan panasnya terik matahari berubah menjadi embun penyejuk saat ia minta di ajarkan pentingnya arti hidup dan menghidupi.
Ibu dan ayah merupakan sosok terpenting bagi anak. Ketika anak ingin mengenal siapa dirinya, dari mana ia berasal, untuk apa dia hidup di permukaan bumi, bagaimana cara ia menjalani hidup dengan saling menjaga satu dan yang lain.
Anak merupakan salah satu alasan utama ketika uang dan tahta di jadikan “Tuhan” ke dua setelah Allah SWT, akan tetapi terkadang seorang ayah dan ibu sering lupa untuk apa kesemua yang mereka cari, dan terkadang orang tua melupakan untuk apa mereka keluar di saat matahari belum menampakan cahayanya dan kembali lagi ketika Adzan Maghrib di kumandangkan pertanda bahwa siang dan sore hari telah terlewati.
Orang tua adalah orang pertama yang berinteraksi dengan anak yang di ikuti oleh lingkungan dan sekolah di mana ia di ajarkan Pancasila dan UUD 1945 yang menjadi pilar utama ber Negara, ada kerinduan dan alasan ketika ia berpapasan dengan seorang sosok penuh kasih sayang, yang tidak ia temui di sekolah dan lingkungannya di saat seorang Ayah menanyakan apa yang kamu lakukan hari ini? sudahkah kamu menunaikan kewajiban mu selaku hamba Allah? berapa nilai mu hari ini? yang membuat anak merasa sebagi seorang yang beruntung di lahirkan di keluarga ini.
Akan tetapi realita pada saat ini berkata lain, sadar maupun tidak sadar orang tua yang telah menjadi hamba rupiah dan kehilangan peran sebagai orang tua dan melupakan bahwa ia adalah tokoh utama kebobrokan anak dan generasi muda. Ketika anak membutuhkan seorang sosok untuk menceritakan masalah, orang tua hanya menjawab dengan materi, sehingga anak yang terbentuk adalah seorang anak penganut faham kapitalisme, yang menganggap setiap permasalahan bisa terselesaikan dengan rupiah.
Anak kehilangan sosok pendidik yang sesungguhnya ketika yang orang tua persembahkan untuk mereka tidak serta merta membahagiakan anak, kemewahan dan fasilitas yang orang tuanya berikan yang tujuan awal untuk memudahkan dan sarana untuk memotivasi anak tidak serta merta menjadi pokok kebutuhan anak bahkan menjadi bisa benalu dan menjadi jalan untuk anak berbuat hal yang bertentangan dengan agama, adat dan negara karena kurangnya waktu orang tua untuk sekedar bercengkrama bersama untuk berkomunikasi dan menjalin interaksi antara orang tua dan anak secara emosional.
Regenerasi sehat jasmani dan rohani merupakan harapan kita semua. Dengan harapan nantinya bangsa ini dipimpin oleh pemimpin yang penuh nilai positif secara intelektual, spiritual, dan emosional sejauh ini tumbuh kembang anak masih bergantung pada orang tua, akan di arahkan kemana anak nantinya, dan berbagai pemahaman dalam proses hidup dan menghidupi serta hal lain yang mendorong anak menjadi salah satu bagian penting ketika kita berada di alam lain selain dunia, bertukar fikiran bahkan saling memecahkan masalah satu sama lain.
Dan seorang anak yang terdidik dan dididik dengan penuh kasih sayang, keikhlasan dan ketekunan hendaknya menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua dan selalu mendo’akannya, karena sehebat apapun anak itu tidak terlepas dari sosok orang tua.
Dalam Al-Qur’an surat Al –Ahqaaf ayat ke 15 Allah SWT berfirman yang artinya: ”Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
Begitu penting tempat orang tua di mata Allah SWT dengan demikian maka dari kita wajib untuk menjaga, menghormati dan menyanyangi orang tua sebagai mana ia telah menyayangi anak-anaknya, keharmonisan dalam sebuah atap merupakan hasil kolaborasi antara kasih sayang orng tua dan anak yang terus dan terus akan mengalir sampai ke cucu dan cicit, ketika hari kita menuai buah kebaikan maka itu adalah hasil sewaktu kita menanam dan merawat kebaikan ,begitu juga sebaliknya.***
*Penulis adalah ketua Mahasiswa Gayo Kabupaten Bener Meriah
.
