Ribuan Jiwa Mengungsi akibat Banjir di Aceh Tenggara

Kutacane, (Analisa). Ribuan jiwa penduduk terpaksa mengungsi setelah tiga desa di Kecamatan Bukit Tusam, Kabupaten Aceh Tenggara, Kamis (12/4) sekitar pukul 21.00 WIB dilanda banjir bandang setelah wilayah ini diguyur hujan terus-menerus selama tiga jam.

Ketiga desa yang dihantam banjir bandang tersebut ialah Desa Rikit Bur, Kuning Atas dan Lawe Dua.

Kepala Badan Pengguangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tenggara, Drs Rajadun Pelis, saat dikonfirmasi mengatakan hingga saat ini diperkirakan sedikitnya 20 unit rumah warga rusak akibat banjir. “Untuk ini secepatnya akan kami turunkan alat berat,” katanya singkat tentang upaya mengatasi dampak banjir bandang ini.

Hingga berita ini diturunkan, belum diketahui adanya korban jiwa. Namun, diperkirakan puluhan rumah penduduk rusak berat akibat bencana alam ini.

Ribuan warga yang berasal dari tiga desa itu masih bertahan di lokasi pengungsian di sejumlah rumah ibadah dan bangunan sekolah yang ada di seputaran pemukiman penduduk.

Diperkirakan, selain akibat tingginya curah hujan, terjadinya banjir juga diduga kuat akibat luasnya areal pegunungan di bagian atas pemukiman penduduk yang telah dialihfungsikan untuk pembukaan lahan perkebunan.

Menurut pantauan Analisa di lokasi kejadian, ribuan warga yang panik itu mengungsi dengan mengendarai berbagai kendaraan yang ada.

Kepanikan kian menjadi saat listrik tiba-tiba padam. Akibat banjir ini, arus lalu lintas di sepanjang jalan penghubung Kutacane-Medan yang melintasi ketiga desa itu macet karena badan jalan tertimbun longsoran batu dan tanah.

Menurut keterangan warga, banjir bandang diawali dengan turunnya hujan sejak pukul pukul 17.30 WIB.

Setelah guyuran hujan hingga tiga jam, warga langsung panik mendengar suara gemuruh dari pegunungan. Mereka panik dan trauma karena pemukiman mereka pernah dilanda banjir serupa. Spontan, warga berusaha menyelamatkan diri.

Mayoritas penduduk yang bertahan di pengusngian adalah kaum perempuan dan anak-anak. Sementara, kaum lelaki umumnya masih bertahan di pemukiman untuk memantau perkembangan dan menjaga harta-benda mereka. (shd | analisadaily)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.