Banda Aceh | Lintas Gayo – Wakil Presiden (Wapres) Boediono hanya berkunjung selama 60 menit atau satu jam ke Banda Aceh pada Jumat (13/4/12). Kunjungan ini kurang maksimal, sebab hanya menerima laporan dari Pj Gubernur Tarmizi A Karim, Kepala BMKG Sri Woro B Harijono, dan Kepala BNPB Syamsul Ma’arif di Pendopo Gubernur Aceh.
Selepas itu, Wapres bersama rombongan langsung menuju Medan Sumatera Utara (Sumut) guna meninjau pembanguna Bandara Kuala Namu. Singkatanya kunjungan ini juga membuat Wapres batal melihat dari dekat Tsunami Early Warning System (TEWS) yang gagal berfungsi saat gempa Aceh 11 April lalu.
Dalam pertemuan tersebut, Wapres mengucapkan rasa syukurnya, bahwa masyarakat Aceh cukup kuat dalam menghadapi bencana gempa. Meskipun dua kali sempat diguncang gempa, masyarakat ternyata cukup siap dan siaga.
“Apa yang telah diperlihatkan masyarakat Aceh ini merupakan bukti bahwa masyarakat Aceh telah siap dan siaga dalam menghadapi bencana,” ujar Wapres Boediono.
Dikatakan, apa yang diperlihatkan masyarakat ini menjadi pelajaran berharga, bahwa semua masyarakat Indonesia harus bisa siaga dalam menghadapi bencana. Ini perlu, sebab wilayah Indonesia merupakan daerah rawan bencana.
“Kita tak bisa menyesali bahwa kita terlahir di Indonesia, namun karena nenek moyang kita terlahir disini, maka kita harus siap menghadapi segala potensi bencana yang bisa terjadi,” ujar Wapres Boediono yang dalam kunjungan ke Banda Aceh di damping Menko Kesra Agung Laksono, Mendiknas M Noeh.
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Ma’arif mengungkapkan, paniknya warga Banda Aceh saat pascagempa, karena jalur evakuasi yang sempit akibat banyaknya warga yang secara bersamaan ikut mencari penyelamatan.
“Banyaknya warga yang melarikan diri dengan mobil membuat jalur evakuasi jadi sempit, sebab banyak orang lebih sayang sama mobilnya karena itu bukti kekayaan, padahal jika tsunami datang, para pemakai mobil ini yang paling beresiko,” ujar Syamsul.
Kedepan, kiranya perlu diperbanyak jalur evakuasi. Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Sebab, dengan banyaknya jalur evakuasi ini bisa mengurangi resiko bencana yang terjadi.
“Pembuatan jalur evakuasi ini sudah dibuat di Padang, Sumatera Barat,” ujar Syamsul sambil menambahkan, selain jalur evakuasi, yang diperukan lainnya adalah menciptakan shelter vertikal atau tempat penampungan ada saat masa panik pascagempa terjadi. Sehingga saat gempa terjadi warga mengetahui kemana mereka harus lari menyelamatkan diri.
Shelter vertikal ini harus dibuat dibeberapa lokasi yang aman dan mampu menampung banyak warga. Salter ini diperlukan guna menampung warga jika terjadi bencana tsunami. Dengan demikian, warga bisa memastikan kemana dia harus menyelamatkan diri.(a. Zaiza)
