by

Sejarah Lagu “Pegasing” Ceh Lakiki

Catatan Novarizqa Saefoeddin*

PEGASING, nama salah satu kecamatan di Kabupaten Aceh Tengah, berada dilintasan jalan Takengon – Isaq dimulai dari Kampung Uning yang berada di daerah aliran sungai Peusangan hingga Pedekok, kampung terakhir sebelum memasuki kawasan hutan di pegunungan Bur Lintang, batas dengan kecamatan Linge.

Sebuah lagu Gayo berjudul Pegasing, tak asing lagi ditelinga masyarakat Gayo umumnya dimanapun berada, ini petikannya :

Ike mungune kase saudere
Isihen kinen die
Onot o begeral Telintang
Oyale Pegasing

Ke gaeh sudere
Kadang kase jelen tapak
Dekat dene Uning
Oya le Pegasing
——-

Pecinta dan penikmat seni budaya Gayo pastilah mengenali penggalan lirik lagu diatas dan mengetahui kalau Muhammad  Basjir ceh Lakkiki adalah penciptanya. Namun, tidak banyak yang mengetahui sejarah lahirnya karya hebat itu.

Bapak Banta Cut, putra dari Djamat aman Mude Ali Reje Tjik Pegasing,  dalam kumpulan  tulisan berjudul “Kenang-kenangan di Pegasing” , mengisahkan sekitar tahun 1946, dalam pertandingan didong antara Lakkiki versus Kemara Bujang di Sekolah Rakyat Simpang Kelaping.

Beliau  sebagai kepala Mukim Pegasing didaulat untuk memberi kata sambutan. Kesempatan itu antara lain dipergunakan pak Banta Cut  ‘menantang’ ceh-ceh dan klub didong yang ada di daerah Pegasing untuk mengarang sebuah lagu berjudul Pagasing yang melukiskan kehidupan masyarakatnya, keindahan alamnya, gunung dan sawahnya yang terhampar dari Uning ke Bur Lintang, Kuyun dan Wih ni Bakong.

Pada masa itu, di kemukiman Pagasing, klub klub didong terus berkembang. Hampir di tiap kampung, namun yang menonjol adalah Lakkiki dari Kutelintang, Kemara Bujang dari Kung, Siner Pagi dari Paya Jeget Deret, Jago Pining dari Uring dan Burak Terbang dari Sanehen.

Tantangan Mukim itu  disambut positif sehingga tiap-tiap ceh kemudian memiliki karya berjudul Pegasing dengan lagu dan lirik masing-masing.  Sejak saat itu,  lagu Pegasing kerap didendangkan namun, yang sangat digemari hingga sekarang adalah lagu Pegasing karya ceh Lakiki Muhammad Basjir.

* Penyuka seni budaya Gayo

Comments

comments