Cerpen : Sri Wahyuni
SEPANJANG jalan itu tumbuh tanaman berwarna merah bata,tinggi bergerombol, misay bergelung-gelung mengikat tangkai dan daun pada ranting.
Keloang raksasa bagai payung menaungi bumi, batu sungai berpermukaan licin, nyaman bila diusap, hangat terpapar matahari. Meranti, beringin,rotan berpeluk-peluk dirimba raya.
Saat itu matahari jingga, langitpun sedang menunjukkan kesombongannya, lapang tanpa awan yang merata. Sirajuddin bersama rombongan duduk mengaso ditaman itu.
Di letakkannya bawar dan beberapa barang perbekalan yang tergantung sejak lama di pundaknya. Sengeda juga rebahan, ditatapnya langit nan jingga itu sekali lagi, o tanoh tembuni kepiluannya terbang pada Bener Merie yang telentang meregang nyawa.
Kilatan matanya menyambar ibarat sapuan pedang yang ditebaskan ke udara. Sengeda berkali-kali menenangkan dirinya, amarah yang menguasainya itu harus dilampiaskan fikirnya. Ibunda takkan pernah rela bila kepergian abangnya tercinta tak berbalas, meskipun harus terjadi perang saudara Sengeda sudah menyiapkannya.
Sementara tak jauh dari mereka ada rombongan lain dengan jumlah iring-iringan yang panjangnya melampaui dua batu. Rombongan itu terdiri dari seratusan prajurit biasa, para menteri dan penasehat Reje Linge 13, para pelayan dan penghuni istana yang setia. Gajah terbaik dan kuda-kuda pilihan dipakaikan pelana bertahta perak, emas dan intan.
Di sisi kanan kiri binatang-binatang pengangkut itu bergantungan upeti-upeti untuk sang raja di raja Sultan Ali Mughayatsyah. Kunjungan kali ini kunjungan istimewa Reje Linge ingin menunjukkan loyalitas tingginya pada Raja Aceh yang mulia.
Di lain sisi ia ingin menutupi kesalahannya menumpahkan darah Bener Merie, ia yakin Kutaraja akan menyambut mereka dengan suka gembira. Sementara Weh ne berguk bergolak darah suci itu membuat bumi berguncang.
Ruang sidang tinggi menjulang. Undakannya adalah batu pualam dari cadas-cadas negeri ini. Sepuhan putih pada lengan-lengan tangga yang lebar. Menaikinya adalah kenikmatan, ibarat sang malaikat menuju singgasana.
Qurratal aini memutar tubuhnya, gaunnya yang berwarna putih berlapis-lapis disulami benang perak bermotif emum berangkat. Lingkaran sanggul dari rambut keemasan bersunting renggali dan mawar, di ubun-ubunnya tergurat keagungan, sekujur tubuhnya adalah kemegahan itu.
Berikutnya di ruang sidang keagungan Datu Beru berwujud tamsilan, illah dan penaklukan. “Tuhan memberi kita dalil,bukan untuk kita kungkung dengan nafsu dan kesempitan berfikir. Seandainya kau tak menggunakan fikirmu untuk makrifatmu maka sia-sialah segala ciptaan itu.”
Jeda berselang, disudut ruang lain Qurratal aini menggengam jejari putri Johor, ditatapnya mata yang luka itu, pada Sengeda diajarkannya pula bagaimana memaafkan.
Bener Merie muda menuruni bukit, disisi kiri jalan sungai berliku. Nalurinya menghendaki dingin, dirasakannya cumbuan air pada batu dikakinya.
Bener Meria muda tak kuasa menolak rayuan alam, segera ia mencebur diri dalam surga bening. Tubuhnya yang semampai, dengan kulit kuning langsat.
Dirinya adalah seindah-indah pandangan, matahari akan selalu mengiriminya salam, atau bintang yang senantiasa menaunginya kehangatan. Mereka berbagi, bagai sebuah kutub yang bersatu dalam sebuah tarikan garis busur menghubungkan pusat bumi utara dan selatan.
Sekonyong-konyong langit gelap, angin ribut mengaum-aum….Bener Merie terkesiap, ringkikan kuda dan teriakan teriakan mengitarinya. Ini dia…..! Putra raja yang akan merebut kuasaku….habisi dia! penggal kepalanya! jauhkan dia dari restu bumi karena dia adalah kehinaan itu sendiri!
Aku adalah kuasa, ditanganku debu menjadi berhala, di kuasaku kenistaan adalah mulia!
Angin terus menderu-deru…………… teriakan Bener Merie memecah langit, sedetik Bawar berkelebat seketika mata air itu dimerahi, sang penghuni rimba menundukkan kepalanya darah suci menggenangi kaki, malaikat seketika berkelebat “Hei Tuhan mengapa tak kau hentikan jalan kelam ini”?
Epilog luka menemani sepanjang malam itu, tak berkedib penghuni rimba, dikuburnya semua kedukaan dalam kebijksanaan, namun darah suci terhisap akar mengakar, lalu merasuki buah-buahan dan jiwa-jiwa memakannya, Tuhan masih akan sediakan panggung pembalasan.
Kini Bener Merie tidur dalam sunyi, kehadirannya selalu ditandai angin yang menggoyangkan daun, atau anggukan bunga mungil disepanjang bor peruweren, Bener Kelipah, Mesidah, Samar Kilang adalah negeri pemangkuku. Setelah berabad-abad sunyi…..sang algojo ternyata pun tak pernah bisa tidur, meski tlah berganti ribuan raja-raja, sang Algojo tak kan pernah bisa mati.
Kian hari kian banyak darah suci yang ditumpahkannya. Tuhan terus menghukumnya, ditangannya tergenggam kuasa. Tuhan takkan pernah mencabut nyawanya sampai Bener Meria dan Datu Beru lahir lagi. (Sumber : The Atjeh Post)
Note:
Bener Merie adalah anak raja Linge 12 yang mati terbunuh atas perintah abangnya lain ibu. Nama ini sekarang ditabalkan sebagai nama kabupaten baru pemekaran dari Aceh Tengah.
Datu Beru alias Qurratal Aini atau Putri Kerja, adalah Qadhi Malikul Adil pada Kerajaan Aceh di bawah Ali Mugayatsyah.

