Surat : Johan Makmor Habib
Hari ini tepat sudah 7 tahun perdamaian antara Aceh dan RI. Kita harus mengucapkan, alhamdulillah. Dan perlu bersyukur pada Allah SWT dengan perdamaian ini. Setidak-tidaknya, kita sudah bisa melangsungkan kehidupan sehari-hari dengan aman dan tanpa perlu merasa takut dengan desingan peluru maupun sepakterjang dari pihak yang bertikai.
Sekarang ini kita lihat betapa luesnya rakyat Aceh bergerak kemana saja. Mereka mau pergi, tanpa takut diminta KTP atau ditahan di tengah perjalanan. Keadaan yang damai ini, telah membuat rakyat Aceh juga bisa berjualan dan pergi ketempat ibadah walaupun pada malam buta tanpa takut ada penculikan.
Damai Aceh ini telah memberikan kebebasan untuk rakyat Aceh dalam memilih pemimpin yang mereka mereka rasa mampu dan bisa mensejahterakan hidup rakyat Aceh. Atas dasar semua inilah, kita rakyat Aceh perlu berterimakasih atas datangnya perdamaian ini.
Pun begitu kita tidak boleh berhenti untuk terus berjuang untuk Aceh, butir-butir yang tertera dalam MoU masih terlalu banyak yang belum disempurnakan. Sebab itu, kita berharap kepada pemerintah saat ini, supaya terus berusaha semaksimal mungkin agar semua keinginan dalam MoU Helsinki bisa tercapai.
Yang paling pentin gadalah masalah TAPOL (TahananPolitik) dan NAPOL (Narapidana Politik) Aceh yang secara ilmu akal sangat-sangat tidak mungkin, setelah 7 tahun mereka masih mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).
Dalam perjanjian itu, semua tahanan GAM akan dibebaskan 15 hari setelah penandatangan MoU. Tapi sampai sekarang MoU sudah berumur 7 tahun mereka belum juga dibebaskan. Pemerintah Aceh harus tahu dimana hilapnya semua ini.
Sebagai rakyat Aceh yang berada di luar nanggroe (Europa). Kami hanya bisa berharap, agar Pemerintah Aceh yang dimotori oleh dr. Zaini Abdullah, bisa mendesak Pemerintah Pusat agar semua tahanan GAM yang masih mendekap di Lembaga Permasyarakatan agar segera dibebaskan.
Dengan ini rakyat Aceh akan melihat kesungguhan pemerintah sekarang ini, berjuang untuk membela rakyatnya. Banyak lagi yang perlu kita perbaiki untuk menyongsong perdamaian ini menjadi perdamaian impian. Tapi, kalau kita tidak bekerjasama dengan semua elemen yang ada di Aceh, maka perdamaian ini akan menjadi sia-sia.
Kita tidak mau perdamaian ini, hanya damai untuk sekelompok saja. Kita tidak mau kesenangan di Aceh hanya untuk kesenangan sekelompok saja. Kita tidak mau kesejahteraan di Aceh hanya untuk kesejahteraan sekelompok saja. Apa yang kita mau kedamaian, kesenangan, kesejahteraan di Aceh untuk semua rakyat Aceh.
Akhirnya, kami berharap, jagalah perdamaian ini, karena perdamaian ini adalah seperti jembatan yang akan membawa kita kearah yang lebih baik. Jadi jagalah jembatan itu dan rawatlah ia. (lauttawar[at]gmail.com)
*Rakyat Aceh berdomilisi di Denmark