Ini Pesan Ecek Bahim “Kabinet” tentang Didong Gayo

ECEK BAHIM sudah tidak asing lagi. Dia dikanal sebagai sesepuh Didong. Darah seni pria kelahiran Bebesen 1932, mengalir dari sang Ayah yang juga seorang ceh. Bedanya – soal ketenaran si anak lebih berhasil. Lagu-lagunya lebih melegenda. Salah satunya ”manuk” lagu yang sudah dilantunkan oleh SABA Group dan Beberu seribu satu.

Setamat Sekolah Rakyat (SR) diawal kemerdekaan Republik Indonesia, bersama kawan sejawatnya Banta Aman Parida, Maun Aman Wardah, (alm) Syeh Kilang, Damka dan Thalib, Ecek Bahim mendirikan Kabinet Baru, nama yang diberi manakala pemerintah pusat selesai membentuk susunan kabinet pemerintahan Indonesia.

Melihat perkembangan didong selama ini, Ecek Bahim bertutur kepada Hariye di Arul Latong Kecamatan Pegasing, tentang perasaan, pandangan dan visinya mengenai didong yang tersimpan. Berikut petikan wawancaranya.

Dalam pandangan Bapak sejauh mana perubahan nilai didong dewasa ini ?
Perubahan itu memang ada. Kalau dulu kami selaku ceh cenderung mengunakan kata-kata yang asli berbahasa Gayo, sekarang ini mulai menyelipkan kata-kata bahasa melayu. Bahkan, ada semua didongnya berbahasa itu (red. Melayu) dulu, setelah malamnya kami berdidong khususnya didong jalu paginya kamu sudah minum kopi bersama di kede kopi. Lain denga seni didong yang dimainkan anak-anak sekarang, dari ’persalaman’nya saja sudah mulai maki-maki kemudian bahasanya pun lebih menyakitkan.

Jadi, syair yang digunakan juga mengalami perubahan ?
Iya.. penyampainya berubah. Kalau dulu, bila ada niat ’memukul lawan’ itu kami sampaikan secara halus, tampaknya sekarang ini langsung  dan secara sepontan. Kata- kata yang digunakan bukan bahasa Gayo  asli. Umpamanya woy Sudere, Apakah Sudere nge sawah ari ’kaung’  dalam bahasa gayonya kan ’Kung’ yang dilantunkanya. Begitu kira-kira.

Pengaruh apa yang menyebabkan ceh sekarang tidak mengunakan bahasa Gayo asli ?
Saya rasa, setiap kita melakukan sesuatu yang maksudnya supaya tepat, tentua ada yang mengajari kita. Kita harus berguru. Tapi sekarang ini tidak asal sudah pande berdidong, dia sudah tidak mau belajar lagi.

Mungkin mereka tidak memiliki guru yang tepat ?
Itu mungkin saja. Saya juga tidak bisa menunukan si polan guru yang paling tepat, itu kan tidak etis. Maunya ceh itu yang mencari sendiri kepada siapa dia pantas berguru.

Apa ini tanda didong mulai berkembang ?
Berkembang boleh saja. Tetapi, perkembangan yang terjadi sekarang sudah tidak cocok lagi, gaya-gaya lagunya pun seperti sebuah nyayian malayu atau yang lain. Sedangkan didong Gayo asli itu kadang – kadang untuk dimusikkan pun sangat sulit.

Kalau ada perubahan menyempang, sebaiknya bagaimana ? atau didong dihapus saja. ?
Bukan. Kalau didong dengan gaya sekarang terus menerus berlanjut, tentu sangat mengkhawatirkan. Tapi, maunya objiktif-lah. Kalu ceh merasa dirinya tidak mampu, sebaiknya jangan berdidong. Apalagi sekarang ini masih ada beberapa ceh yang tua-tua, bertanya pada mereka. Jangan langsung menghapus didong. Bukan itu  penyelesaiannya.

Sejak kapan mulai terjadinya pergeseran nilai didong dari aslinya ?
Menurut hemat saya, pergeseran itu mulai terjadi sejak tahun 1975-an. Saya merasakan hal itu karena saya aktif dalam seni didong. Selain sebagai ceh saya juga pernah menjadi ketua Kabinet Baru.

Faktor apa yang menyebabkan terjadinya perubahan itu ?
Kalau kami (dulu ) klub itu memiliki manajemen. Punya ketua, bendahara, sekretaris. Dalam klub memiliki prinsip yang sama. Sehingga kalau ada kata-kata yang akan dilagukan tidak bisa untuk diungkapkan, maka ketua melarangnya. Kami patuh pada ketua, berbeda dengan sekarang , mereka terkadang dengan ketuanya saja sudah tidak seprinsip, sehingga muncul kemauan-kemauan sendiri dari personilnya.

Bagaimana  menurut bapak cara yang efektif untuk membina ceh didong sekarang ?
Sebaiknya klub itu mendatangi sesepuh didong jangan sesepuh yang mendatangi mereka. Tunjukan bahwa mereka (ceh muda) membutuhkan pembinaan.

Sejauh ini apa belum ada panggilan untuk membina salah satu klub didong ?
Oh… untuk itu tidak ada ! Bahkan saya merasa anak-anak itu beranggapan sudah tidak ada lagi yang  bisa menandingi mereka. Bagaiman kami bisa masuk lalu bagaimana kami bisa menggabungkan diri untuk melakukan pembinaan.

Apa perlu Pemda campur tangan dalam hal ini ?
Ini bagaimana ya ? bagaimana kami mau menyatukan pendapat dengan mereka (red Pemda) sedang kami tidak mengenal mereka.

Mungkin Bapak ada saran kepada Pemda demi didong ini tetap asli ?
Kalau kami mengenal meraka, tentunya kami bisa memberikan saran-saran yang mungkin akan berguna. Saya rasa kurang kenal ini yang membatasi kami selaku pelaku  didong . Bagaimana kami bisa dapat berkonsultasi dengan Pemda, Sementara kenalpun tidak. Sebaiknya kenal dulu.

Dalam mencipta lagu, bagaimana proses penciptaanya ?
Dalam mencipta sebuah lagu, biasanya dilakukan secara bersama –sama. Masing-masing inspirasi yang ada di gabungkan. Untuk satu lagu bisa memakan waktu seminggu , bahkan sampai sebulan. Sehingga beberapa jumlah lagu yang saya ciptakan tidak tercatat jumlahnya.

Berapa kira-kira jumlah judul didong yang bapak ciptakan ?
Seperti yang saya katakan tadi, angkatan didong era 45-an  seperti saya, dalam menciptakan sebuah didong tidak mencatat atau membukukan jumlah judul atau lagu  yang telah kami ciptakan. Tatapi kalau beberapa saja bisa saya ingat.

Apa fungsi didong ini, selain sebagai hiburan ?
Selain untuk hiburan juga memberikan petunjuk-petunjuk yang mengandung arti. Ceh-ceh dalam didong menceritakan sesuatu yang ada manfaat bagi orang banyak. Minsalnya melarang orang untuk menjauhi perjudian ”Ala beden, judi enti i bueten” atau menceritakan sebuah sejarah.

Berapa layaknya jumlah ceh dalam sebuah klub didong ?
Dalam sebuah klub, biasa enam orang ceh. Kemudian memilki satu orang ketua yang bukan dari kalangan ceh, dari keenam ceh tadi. Biar penonton yang memberi penilaian siapa yang mendapat peridikat ceh satu, dua dan seterusnya sampai keenam.

Ceh-ceh itu menguasai bidang apa saja  ?
Berbagai macam. Sebuah kelub didong tidak menunjuk siapa sebagai ceh satu atau dua. Tetapi penonton memberikan penilaian, minslanya si polan  bisa diandalkan sebagai ceh satunya (ulu tawar), kemudian si polan sebagai ceh duanya, ceh tiga sebagai ceh pembantu, ceh empat sebagai pelucunya  dan seterusnya. Itu semua dinilai oleh penonton.(Diketik ulang dari majalah Hariye edisi XI Desember 1997 hal 39-41 | Zan KG)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.