Cuap-cuap Eksplorasi OPSI 2012
Catatan:Pati Kemala dan Rengga Pamungkas*
“YAH... kamu gak bisa ya masuk di kelompok aku.. oh ya udah, gak apa. Terima kasih ya!” ucapku sambil menutup telpon. Kupikir sejenak, mengapa bisa serumit ini. Semua temanku tak ingin mengerjakan karya ilmiah bersamaku. Semuanya sudah memiliki kelompok sendiri. Akupun merasa ada yang aneh. Tapi aku tidak putus asa, kuhubungi semua teman yang mungkin bersedia membantu ku.
Setelah ku hubungi teman dekat, kerabat, teman jauh bahkan orang yang baru saja kenal, ternyata tidak satupun dari mereka yang tertarik dengan proyek ku. Akhirnya aku kuatkan diriku bahwa inilah yang ditakdirkan Allah kepadaku. Aku harus mengerjakannya sendiri, dan ini adalah yang terbaik untuk ku. Setelah ku yakinkan diri, akupun beranjak Shalat Isya. Aku berdoa setulus hati bahwa apapun yang terjadi inilah yang terbaik.
Apapun rintangannya aku akan berjuang hingga akhir. Semangatku yang membara diprovokatori oleh sikap ibunda yang menentukan universitas mana yang harus kupilih setelah selesai SMA ini. Kini aku sudah menginjak kelas XII SMA. Semua membuatku gundah, mulai dari berusaha fokus untuk SNMPTN dan memfokuskan diri pada cita-cita. Akhirnya aku mengerjakan sebuah tugas sambilan yakni menulis Karya Ilmiah Remaja pada acara OPSI (olimpiade penelitian siswa Indonesia) yang ku yakini sebagai taruhan dengan Tuhan. Apapun yang terjadi inilah yang terbaik. Dalam doa, selalu ku katakan pada Tuhan, jika ini yang mengirimku pada kesuksesan yang sempurna maka rencanakan aku di jalan ini Tuhan.
Setelah selesai Shalat Isya, seketika sebuah SMS menyambar HP-ku, aku terkejut mendengar sebuah SMS dari Rengga yang mengatakan akan meluangkan waktunya dan membantu aku dalam karya Ilmiah ini. Hal ini membuatku semakin bersemangat dan menyelesaikan tugas yang lumayan berat ini.
Hari demi hari kami selesaikan makalah kami yang berjudul “Analisis Pendidikan Karakter dalam Tradisi Didong Gayo”. Judul ini tiba-tiba saja muncul di benak ku dan mengotak-atik pikiran ku dan akhirnya aku tak tahan menahan keinginan dalam membuat penelitian ini.
Waktu terus berjalan pada deadline yang ditentukan, kami mengirim karya ilmiah kami melalui pos ke Jakarta. Beberapa dari teman lainnya juga mengirimkan karya ilmiah. Dengan hati lapang dan tak berani berharap kami kirimkan karya ilmiah tersebut. Sejak hari itu, seluruh siswa yang mengirimkan karya ilmiahnya ke nasional terlihat semakin rajin berdoa dan rajin beribadah.
Berbeda denganku, aku masih merasakan kecewa kalahnya timsee. Timsee adalah kepanjangan dari tim sepuluh yakni sebuah tim dalam lomba cerdas-cermat MPR. aku, Rengga dan kedelapan teman kami yakni Heni, Firda, Fadli, Annas, Ledy, Andika, Veni dan Sakti adalah anggota dari timsee sendiri. Setelah berusaha keras ternyata kami kalah karena kesombongan kami. Dari batu pijak itulah aku berusaha untuk memfokuskan diri pada satu tujuan dan bersifat profesinal dalam perlombaan.
Timsee merupakan hal yang paling mendasar dalam potongan kisah hidup kami ini. Seluruh anggota timsee juga mengirimkan karya ilmiah pada acara OPSI. Hal ini karena ingin mencapai tujuan kami aneh yakni menghitung jumlah tangga gedung MPR RI.
Beberapa hari kemudian tepatnya tanggal 13 September 2012, sebuah pengumuman mengejutkan muncul di internet. Kejutan itu rasanya seperti gosip yang sulit untuk di percaya. Pada urutan ke 24 finalis OPSI berasal dari sekolah kami, dan anehnya yang tercantum adalah namaku dan nama Rengga, beberapa kali kami memastikan bahwa itu adalah kebohongan belaka, tapi ternyata itu memang benar adanya.
Sesampainya di sekolah kami dilimpahi oleh sorak-sorai teman dan sahabat, serta ucapan selamat yang tidak ada ujungnya. Kami pun sangat bersyukur pada Allah dan akhirnya memastikan kejutan tersebut dengan melihat langsung pengumuman OPSI 2012 di internet.
Kami pun selanjutnya menyegerakan skedul agar semua yang harus direvisi dapat dibawa ke Jakarta dapat dibawa secara sempurna. Bagaikan membasuh muka di terik matahari, kamipun ternyata tidak menemukan titik temu yang membuat kami merasa puas akan kekurangan-kekurangan karya ilmiah kami. Tingkah kami yang manja dan semuanya tergantung guru pembina akhirnya ditegur Tuhan. Tuhan menurunkan cobaan kepada pembina kami sehingga membuat ia tak punya waktu dan kami harus mandiri dalam menyelesaikan tugas kami.
Dengan berbagai rintangan dan cemoohan guru karena selalu ijin tidak masuk kelas, kami tetap berbesar hati dan berharap tidak membuat malu nama sekolah di Jakarta. Sejak 13 September 2012, kami terus berusaha memikirkan segala sesuatunya baik mengenai stan pameran penelitian, power point presentasi, revisi makalah dan hal-hal kecil seperti softcopy makalah, tanda mata khas daerah dan lain sebagainya. Sebagai siswa yang baru pertama kalinya menjadi peserta nasinoal, kami benar-benar takut apabila merusak keharuman nama sekolah. Guru pembimbing kami, Bu Rahima pun ditimpa musibah sehingga tidak bisa membimbing kami secara VIP. Musibah itu sungguh menghancurkan hati guru tersayang itu sehingga menurunkan rasa semangatnya. Rumah orang tuanya telah musnah dilalap sijago merah.
Kami bertekad kuat menyelesaikan semuanya sendiri. Tapi ternyata, pikiran kami yang masih sangat kenanak-kanakan menghadapkan kami pada berbagai kendala. Hingga akhirnya, sebuah kekuatan kembali datang dari Tuhan, teman-teman ikut membantu kami dari seluruh aspek persiapan kami. Kami hanya mengecek pekerjaan mereka dan kami fokus untuk berpikir jernih dan terus berpikir positif bahwa ini akan selesai. Hari-hari sulit itu kami lewati bersama teman kami Firda, Heni, Nanda, Yosan, Amal, Juli, Fitrika, Helmi, Rifky, Agung, Yuli, Dwi dan Veni. Kami berpegangan tangan dan kekompakan kami membuat kami merasa hebat dan percaya diri. Aku percaya masa-masa SMA itu sungguh berarti, kekompakan ini akan sangat ku rindukan disetiap masalah yang ku lalui. Pak Irwansyah, pengganti bu Rahima sebagai pendamping kami ke Jakarta juga sangat bertanggung jawab akan kami. Walaupun Pak Irwansyah tidak banyak membantu dari segi revisi makalah, akan tetapi semua urusan stan pameran dan dana keberangkatan semua diembannya dengan rasa tanggung jawab. Selain itu, guru-guru lainnya yang ikut membantu dan menyemangati kami ialah Ibu Sri Nirwani yang memberikan penjelasan dan meluruskan presepsi-presepsi yang tidak perlu dalam makalah kami. Serta bu Diah Eka Sari yang terus membina kami dari berbagai aspek walaupun secara HJJ (hubungan jarak jauh).
Semua pengalaman pahit kami rasakan bersama. Tak ada yang terlewat, semua ketakutan, senyuman, tertawa, tangisan, malu, hinaan, dan kebahagiaan sudah kami alami bersama. teringat saat aku dan rengga dituduh mencuri kereta, saat-saat merasakan cemas dan takut ketika dimarahi polisi, berusaha masuk keruangan melewati jendela, kesalahpahaman kami dengan para sahabat dan seluruh pengalaman yang tak terlupakan. Semua tersusun manis di memori otak yang dibungkus rapi dengan rasa syukur.
Waktu tidak menunggu, kitalah yang mengejar waktu. siap tidak siap haruslah siap. Pada waktu yang ditentukan kamipun berlaga di Nasional. Bermodalkan harapan, doa dan dukungan dari orang tua dan teman-teman kami beranikan diri mewakili provinsi Aceh. Ini adalah perjalanan pertama ku ke Jakarta. Ya, sebelumnya aku dan Rengga belum pernah ke Jakarta. Ini sungguh membanggakan. Bersama guru pendamping, Pak Irwansyah kami mencoba membuka mata dan melihat-lihat di ibukota.
Apa kejadiannya saat Pati dan Rengga menginjakan kakinya di Jakarta…(bersambung)
* Peraih mendali Emas Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia 2012.