Maria Effiyana
Perjalanan hidup begitu mengalir dan tiap-tiap patahannya sungguh sulit ditebak. Prediksiku meleset jauh ketika harapan dan cita-cita yang ingin ketempuh bergeser jauh dengan kondisi yang kualami dalam hidup. Cinta orang tua dan kasih sayang keluarga yang meluap seakan menjaga lentera yang terus bergantung di palung hatiku. Cahaya Ilahi adalah alasan kuhidup dan masih hidup hingga saat ini untuk menuliskan perjalanan ini.
Ini adalah kisah yang biasa. Kurasa memang sangat biasa. Orang tuaku melahirkan ku di kota dingin Takengon. Dalam perantauan mengubah kehidupan. Saat itu aku adalah anak ketiga dalam keluarga. Bayi perempuan yang lahit 15 maret pada tahun 1991, kata ibu seperti jantong pisang candaanya saat kutanya tentang kelahiranku. Mereka bahagia. Dan ibuku memberiku nama Maria. Ungkapnya, ibuku sangat terkesan dengan salah seorang Qariah Nasional yang sangat terkenal pada saat itu. Maria Ulfa. Ibu berharap suatu saat nanti aku bisa menjadi sepertinya.
Saat usiaku berajak menuju 2 tahun. Ayah dan ibu memutuskan untuk pulang ke kampung halaman ayah di Bireuen, tepatnya di desa Mns Tgk Di Gadong. Dulu, desa kami masih di dominasi ladang-ladang kosong yang tampa dihuni. Kian tahun terlihat orang-orang mulai membangun rumah mereka dan menetap menjadi penduduk desa tersebut.
Belum begitu lama tinggal ketika ayah kehilangan pekerjaan sebagai salah seorang pedagang ternama di Bireuen yang biasanya selalu naik-turun Bireuen Takengon untuk membawa biji kopi dan berbagai komoditi lainnya, ayah harus meninggalkan pekerjaan yang disukainya karena ditipu oleh rekannya sendiri. Kata ayah, kita tidak boleh langsung mempercayai orang lain. Saat itu dengan beratnya ayah menerima pekerjaan lain sebagai tukang angkut tanah di puncak desa kami. Lebih tepatnya buruh angkut tanah, yang upahnya hanya cukup untuk makan sehari dan jangan berharap lebih.
Ibuku juga cukup tanggung mengarungi suka duka bersama ayah. Ibu memasak makanan kesukaan ayah setiap hari, dan tugasku adalah mengantar bekal siang ayahku ke puncak desa dengan mengayuh sepeda hadiah ayah di ulang tahunku yang ke-5. Sepeda warna Pink yang kusukai. Rutinitas yang sangat kutunggu setiap harinya seusai pulang dari sekolah Taman Kanak-kanak ternama di Kota Bireuen. Kuingat jalan yang kutempuh sangatlah terjal dan mengerikan. Bayangkan jika hujan lebat tanah bisa saja kusut dan akan membawa para pejalan masuk jurang. Tapi, itu tidak mengurungkan niatku untuk mengantarkan bekal untuk ayahku tercinta.
Dari kejauhan kumelihat ayah begitu letih dan seakan tak bertenaga mengangkat tanah galian dan batu-batu perkasa untuk dimasukkan kedalam truk-truk raksasa. Kupanggil ayah dari kejauhan, dia memaksakan senyuman manisnya padaku. Hari-hari kujalani. Menjadi saksi akan cinta ayahku pada kami semua.
***
Kehidupan di Sekolah dasar dimulai saat pertama kali ibu mengantarkaku ke Sekolah SD Neg. No 6 Bireuen. Disana, pada saat penerimaan kulihat anak-anak yang terus memegang tangan orang tua mereka dan tak mau lepas. Tapi diriku begitu lepas dengan ibuku. Terkesan anak-anak manja masuk sekolah apa jadinya, pikirku saat itu dalam hati. Ibu hanya sekali itu saja mengantarkanku ke sekolah dan ia berpesan bahwa harus menghormati guru, seperti menghormati ibu dan ayah, juga menyayangi teman-teman seperti aku menyayangi kakak-kakak dan adik-adik di rumah. Saat itu aku belum begitu paham. Untuk apa harus melakukan itu. mereka di sekolah ini adalah orang asing bagiku. Tapi, diriku mengiyakan pada ibu sambil tersenyum.
***
Di sekolah aku mendapat teman-teman baru. Temanku sianak kembar dan satu lagi teman yang agak mirip dengan ku dilihat dari fisiknya. Kami berempat adalah teman dekat. Apapun yang kami lakukan selalu bersama. Entah bermain boneka, kartu, lompat karet, kelereng, dan rumah-rumahan gambar princess yang kami beli di toko langganan komik kami di pusat kota Bireuen. Dari merekalah aku belajar menjadi seorang anak perempuan yang tugasnya masak-masak dan membersihkan rumah. Kusadar, saat itu sebenarnya aku lebih suka bekerja diluar dan melakukan hal-hal berbau pertualangan di luar rumah. Teman-temanku sangat feminim. Jika kami bermain rumah-rumahan, maka aku kebagian peran ayah. Lantaran karakterku yang kaku dan dewasa. Barangkali, pikirku.
Maria Effi Yana, namaku seperti nama orang Kristen kata teman-temanku. Mereka sering mengejekku bunda maria, Tuhan sesembahan. Aku terus menyangkal bahwa anggapan mereka salah. Aku berpikir untuk mengganti namaku menjadi lebih bernuansa islami. Apapun itu. nama itu begitu keras dan sarat ejekan dari orang-orang sekitar. Apalagi saat itu aku sudah masuk Taman Pengajian dan para Tengku-tengku Gampong menyarankanku untuk mengubah nama tersebut.
Tapi, saat ibu tanya apakah aku marah? Hatiku berkata bagaimana aku bisa marah pada malaikatku. Dari situlah aku mulai menerima diriku bersama namaku.
Kata ibu, Yana… begitu nama panggilan keluarga padaku. Aku begitu dewasa dalam berpikir. Anak kecil yang tumbuh dewasa sebelum usia seharusnya. Kedewasaanku hadir lebih awal dibandingkan anak-anak seusiaku. Mungkin, lantaran kondisi yang memaksakanku atau anugerah Tuhan yang harus kuhargai. Karakterku yang kuketahui adalah aku orang kuat dan tidak akan pernah menangis. Aku akan hidup seperti diriku dan menjadi bahagia.
Perjalanan panjang masih kudaki, moment-moment baru dalam kehidupan. Memasuki sekolah SMP. Sebelum perpisahan teman-temanku menyarankan untuk kami berempat terus melanjutkan ke sekolah yang sama dan paling ternama di Bireuen. Kutahu, SMP 1 adalah impianku. Kami berjanji. Aku ragu.
Ayah menyaranku untuk masuk di SMP 3 saja. Katanya sekolah tersebut lebih nyaman dan sesuai dengan kondisi ekonomi ayahku. Bibirku terkatup kaku. Tak berani bersuara. Hanya bisa menangis dalam hati. Aku harus berpisah dengan teman-temanku dan meninggalakan impian sekolah di SMP 1 yang elit dan didominasi anak-anak kelas atas.
Di sekolah SMP aku berangkat dengan berjalan kaki pulang-pergi menempuh 2 kilometer setiap harinya. Lalu lalang pelajar tampak ramai di jalan depan rumahku. Sejauh apapun tak terasa jika ditemani kawan-kawan dengan guyonan dan candaan tampa teras telah mengantarkan diri ke sekolah. Beberapa waktu tidak ada yang menarik di sekolah ini. Semua hambar. Satu hal yang telah menarikku mengenal seorang guru yang sangat penasaran diriku padanya. Bapak Bahasa Inggris yang sangat ditakuti dan dijauhi oleh orang-orang sekolah. Entah kenapa aku begitu ingin dekat dengan beliau. Bahasa Inggris adalah bahasa asing yang mempelajarinya adalah nilai plus yang menuai banyak manfaat, kata Bapak tersebut dengan seriusnya. Jika diperhatikan dari dekat memang dia tampak aneh. Tingkahnya yang emosional, gertakan keras dengan bantingan-bantingan pintu kelas yang memekak telinga akan terjadi jika kami tidak merespon dari materi-materi bahasa inggris yang tak kami pahami.
Hal ini kuceritakan kepada ibu dirumah tentang perilaku guruku yang sangat aneh itu. kata ibu. Dulu Bapak itu sekampung dengan ibuku yang tinggal di daerah Juli Km 6. Dari cerita ibu, guru tersebut adalah pria kesepian yang hanya ditemani musik klassik penghibur kesepiannya. Kali ini aku mengerti. Sesunggguhnya aku sama seperti bapak itu dengan kesepian kami yang menghantui. Bahagia sesungguhnya adalah di sini. Dalam hati ini. Nasehat ibu yang tergiang dalam sadarku. Begitupun diriku yang harus menciptakan kebahagiaan itu sendiri di sekolah yang saat ini kumiliki. Dari situlah komitmen yang kubangun membawa hasil mengantarkanku menjadi siswa teladan sekolah dan ikut berbagai kompetisi mewakili sekolah untuk merebut kemenangan.
***
Awal memasuki bangku SMA hal serupa juga kembali mewarnai. Aku gagal meyakinkan orang tuaku bahwa aku mampu untuk sekolah dimana tempat yang kuinginkan. SMA 1 sudah menjadi acuan pacu kudaku kedepan. Tapi harus rem tajam orang tuaku membuatnya lemah dan tak berdaya. Lagi-lagi faktor ekonomi menjadi hambatan. Saran ayah yang harus selalu kedengar dan kupatuhi. Aku memang anak yang patuh.
Masa pubertas sepertinya mulai menghampiri. Di masa-masa bangku sekolah diriku mulai dekat dengan hal-hal yang berbau rasa ketertarikan dengan seseorang. Cukup aneh dan menggelikan jika diuraikan. Aku bukan tipe orang yang mudah dengan begitu saja memberi rasa pada seseorang. Berawal dari kawan-kawan sekolah yang pada saat itu mereka ingin coba-coba untuk berperilaku layaknya orang dewasa dengan berbagai perasaan dengan lawan jenis. Mereka selalu membujukku dengan mencoba yang namanya pacaran. Kata pacaran begitu aneh dan tidak menarik bagiku. Karena saat-saat itu ketertarikan hanya pada pelajaran sekolah dan persiapan berbagai kompetisi tingkat sekolah dan daerah.
Alhamdulillah, Allah menjaga diriku dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Diusiaku yang terus beranjank dewasa aku mulai bergabung dengan kawan-kawan yang kehadiran mereka akrab dengan masjid dan berbau dengan hal-hal positif. Diriku juga gemar mengikuti kajian-kajian rutin dengan tema-tema ibadah dimanapun jika waktu luang. Terasa iman dalam hati kian bertambah dan menebal dengan Allah sebagai alasan hidup. Jika ditanya tentang cinta. Pernah, seorang laki-laki datang dengan menawarkan hatinya untukku. Dengan janji sucinya menjadikanku kekasihnya.
Benar-benar tidak dewasa aku menolaknya. Sampai dia mengeluarkan kata bahwa diriku adalah orang yang tak mengerti tentang rasa dan cinta. Sungguh, kata-katanya itu menusuk. Alasan yang bisa kuberian saat itu bahwa aku memiliki cinta yang sangat mudah bagiku. Allah dan rasul adalah cintaku. Keluarga adalah orang-orang yang akan kulindungi. Bagiku, cinta tak semudah diungkapkan. Perlu waktu yang panjang dan pengorbanan untuk mendapatkannya. Akhir cinta adalah bahagia bukannya sengsara yang tiada kata dapat mewakilinya.
Sebenarnya kuliah di Banda Aceh belum terbayangkan bagiku. Karena ayahku benar-benar tidak ingin melepas anak kesayangnya yang sangat keras kepala dan cukup membuat tensi ayah naik. Ayah dan ibu yang takkan pernah bisa terbalas jasa mereka dalam membesarkanku. Walaupun aku sangat bandel dan sangat nakal dimasa kecilku. Tapi tetap ada pintu maaf dan cinta yang mereka berikan. Dan kini kuliah di banda Aceh merupakan dukunan mereka dengan harapan aku menjadi manusia yang baik dan berguna.
Banda Aceh menjadikanku lebih dewasa dan belajar hidup mandiri dengan mengatur hal apapun dengan mengandalkan potensi otak sendiri. Setiap malam sebelum tidurku selalu terbayang wajah ibuku yang sangat kusayangi. Muka lelahnya yang semakin keriput dan menunuda keperluannya hanya untuk memenuhi kebutuhan kami anak-anaknya.
Aku begitu menyayanginya. Diriku ingin menyayanginya seperti ia menyayangiku. Kurasa belumlah terlambat bagiku membuatnya bahagia dan yakin akan menciptakan senyum bahagia diwajahnya. Satu kata yang ingin kusampaikan padanya. Ibuku nomor satu bagiku. Aku tidak ingin membuang waktuku di Banda Aceh. Maka dari itu seberapa lelahnya tubuh ini tetap terjaga dengan sendirinya ketika suara samar-samar ibuku memanggil. Itu karena kekuatan cintanya untukku. Kutahu, dalam sujudnya selalu mendoakan kebahagiaanku. Allah terima kasih telah memberikanku kebahagiaan yang tak terhingga dengan Engkau kirimkan ibu yang begitu membuatku bahagia. Dan kini perjuangan menjadi diri sendiri baru saja dimulai.***
Maria Effi Yana, lahir di Takengon Tgl. 15 Maret 1991 yang sementara ini tinggal di Tanjung Selamat Darussalam. Alumnus SMA Negeri 3 Bireuen dan sekarang tercatat sebagai mahasiswi Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam IAIN Banda Aceh, pernah bekerja sebagai karyawan di Toko Buku Madinah Banda Aceh dan Penyiar Radio Seulaweut 91 FM. Mempunyai hoby browsing Internet, membaca dan menulis dapat dihubungi di maria.effiyana@yahoo.com.

