by

Waspada Ancaman Malaria

Oleh :  drg. Leny Sang Surya

drg. Leny Sang SuryaLaporan Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2013, terdapat insiden Malaria penduduk Indonesia sebesar 1,9% dengan Prevalensi sebesar 6%, yang artinya terdapat kejadian penyakit malaria sejumlah 6 orang dari 100 orang penduduk yang terjadi selama 3 tahun terakhir.  Lima provinsi dengan insiden dan prevalensi tertinggi adalah Papua, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Sulawesi Tengah dan Maluku.

Berdasarkan The World Malaria Report 2010, sebanyak lebih dari 1 juta orang termasuk anak-anak setiap tahun meninggal akibat malaria dimana 80% kematian terjadi di Afrika, dan 15% di Asia (termasuk Eropa Timur). Secara keseluruhan terdapat 3,2 Miliyar penderita malaria di dunia yang terdapat di 107 negara. Malaria di dunia paling banyak terdapat di Afrika. Di Indonesia, sebagai salah satu negara yang masih beresiko Malaria (Risk-Malaria), pada tahun 2009 terdapat sekitar 2 juta kasus malaria klinis dan 350 ribu kasus di antaranya dikonfirmasi positif. Sedangkan tahun 2010 menjadi 1,75 juta kasus dan 311 ribu di antaranya dikonfirmasi positif. Sampai tahun 2010 masih terjadi KLB dan peningkatan kasus malaria di 8 Propinsi, 13 kabupaten, 15 kecamatan, 30 desa dengan jumlah penderita malaria positif sebesar 1256 penderita, dan 74 kematian. Jumlah ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2009, dimana terjadi KLB di 7 propinsi, 7 kab, 7 kec dan 10 desa dengan jumlah penderita 1107 dengan 23 kematian.

Malaria dikenal oleh para dokter pada zaman China kuno sekitar tahun 2700 sebelum masehi. Adalah Hippocrates, sang bapak kedokteran, yang pertama kali menggambarkan gejala-gejala klinis malaria pada sekitar abab IV Masehi. Kata malaria sendiri berasal dari bahasa Italia, “mal’aria”. Pada zaman dulu, orang beranggapan bahwa malaria disebabkan oleh udara yang kotor. Sementara di Perancis dan Spanyol, malaria dikenal dengan nama “paladisme atau paludismo“, yang berarti daerah rawa atau payau karena penyakit ini banyak ditemukan di daerah pinggiran pantai. Saking terkenalnya penyakit malaria, William Shakespeare, salah satu penulis Inggris yang paling terkenal sepanjang abad 16-17, juga telah menggambarkan penyakit malaria dalam salah satu karyanya sebagai “The Caliban Curse“.

Pertanyaan sekitar penyebab penyakit malaria akhirnya dijawab oleh Ronald Ross, seorang dokter militer Ingris yang bertugas di India pada tahun 1897. Ross berhasil membuktikan bahwa ternyata malaria tidak disebabkan oleh udara kotor tetapi akibat gigitan nyamuk anopheles. Secara teoritis, cukup hanya dengan satu kali gigitan nyamuk anophles seseorang sudah bisa terjangkit malaria, jika nyamuk ini mengadung parasite malaria. Berkat penemuannya, Ross akhirnya memenangkan hadiah Nobel.

Malaria merupakan penyakit menular mematikan yang menyerang sedikitnya 350-500 juta orang pertahun dan bertanggung jawab terhadap kematian sekitar 1 juta orang setiap tahunnya. Menurut perkiraan WHO, tidak kurang dari 30 juta kasus malaria terjadi setiap tahunnya di Indonesia, dengan 30.000 kematian. Survei kesehatan nasional tahun 2001 mendapati angka kematian akibat malaria sekitar 8-11 per 100.000 orang per tahun.

Infeksi malaria disebabkan oleh protozoa parasit yang merupakan golongan plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia. Penyakit ini secara alami ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles. Malaria merupakan salah satu penyakit yang tersebar di beberapa wilayah di dunia. Umumnya tempat-tempat yang rawan malaria terdapat pada Negara-negara berkembang dimana tidak memiliki tempat penampungan atau pembuangan air yang cukup, sehingga menyebabkan air menggenang dan

dapat dijadikan sebagai tempat ideal bagi nyamuk untuk bertelur. Diperkirakan masih sekitar 3,2 miliar orang hidup di daerah endemis malaria. Di Indonesia sendiri, diperkirakan 50% penduduk Indonesia masih tinggal di daerah endemis malaria.

Malaria disebabkan oleh parasit dari genus plasmodium. Ada empat jenis plasmodium yang dapat menyebabkan malaria, yaitu plasmodium falciparum, plasmodium vivax, plasmodium oval dan plasmodium malaria. Parasit-parasit tersebut ditularkan pada manusia melalui gigitan seekor nyamuk dari genus anopheles. Gejala yang ditimbulkan antara lain adalah demam, anemia, panas dingin, dan keringat dingin. Untuk mendiagnosa seseorang menderita malaria adalah dengan memeriksa ada tidaknya plasmodium pada sampel darah. Namun yang seringkali ditemui dalam kasus penyakit malaria adalah plasmodium falciparum dan plasmodium vivax. Malaria dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk yang membawa parasit plasmodium. Transfer parasit dapat terjadi baik dari nyamuk ke manusia rentan maupun dari manusia yang telah terinfeksi ke seekor nyamuk rentan. Jadi faktor penting pada penularan malaria adalah manusia dan nyamuk.

Menurut perkembangan biologi, plasmodium vivax memerlukan siklus penularan dari manusia ke penyakit yang disebabkan oleh parasit ini. Saat nyamuk menggigit kulit manusia,

plasmodium berada pada fase sporozoit. Sporozoit kemudian akan menuju ke hati (liver) dan membentuk merozoit dalam jumlah yang sangat banyak. Bentuk inilah yang kemudian masuk ke dalam aliran darah dan menginfeksi sel–sel darah merah. Sebagian dari sporozoit didalam sel hati membentuk hipnozoit yang dapat bertahan sampai bertahun-tahun, dan bentuk ini yang akan menyebabkan relaps (kembali hidup) pada malaria.

Walaupun ditularkan oleh nyamuk, penyakit malaria sebenarnya merupakan suatu penyakit ekologis. Penyakit ini sangat dipengaruhi oleh kondisi-kondisi lingkungan yang memungkinkan nyamuk untuk berkembang biak dan berpotensi melakukan kontak dengan manusia dan menularkan parasit malaria. Contoh faktor-faktor lingkungan itu antara lain hujan, suhu, kelembaban, ketinggian, arah dan kecepatan angin. Air merupakan faktor esensial bagi perkembang-biakan nyamuk. Oleh karena itu dengan adanya hujan bisa menciptakan banyak tempat perkembang biakan nyamuk akibat genangan air yang tidak dialirkan di sekitar rumah atau tempat tinggal. Nyamuk dan parasit malaria juga sangat cepat berkembang biak pada suhu sekitar 20-27 derajat Celcius, dengan kelembaban 60-80 %.

Kondisi Perubahan iklim yang sangat tidak menentu menyebabkan makin berkembangnya berbagai macam penyakit, intensitas curah hujan yang tinggi memberikan peluang yang bagus bagi nyamuk untuk hidup dan memperbanyak diri untuk menginfeksi manusia. Rata-rata lama hidup nyamuk yang mengandung parasit malaria adalah 21 hari. Pada suhu 220 derajat Celcius, parasit malaria dalam tubuh nyamuk membutuhkan waktu 19 hari untuk menjadi dewasa sedangkan pada suhu 300 derajat Celcius hanya membutuhkan waktu 8 hari. Sebagian dari dataran Afrika dan wilayah terjauh bagian selatan dan utara Afrika memiliki rata-rata suhu benua di atas 25 derajat Celsius. Sehingga proyeksi peningkatan temperatur antara 1,4 sampai dengan 5,8 derajat Celcius di bawah perubahan iklim akan menyebabkan percepatan perkembangan parasit dan berpotensi untuk terjadinya peningkatan kasus Malaria. Berdasarkan penelitian Zhou et.al. dan Wandiga et al., faktor seperti temperatur dan tingkat penguapan yang tinggi memainkan peran yang penting dalam peningkatan kasus malaria.

Berdasarkan luasnya dampak yang diakibatkan oleh penyakit ini, maka negara-negara di dunia sepakat untuk menjalankan suatu program pemberantasan malaria yang di sebut Global Malaria Action Plan (GMAP). Organisasi Kesehatan dunia menetapkan pemberantasan penyakit Malaria hingga prevalensi minimal sebagai salah satu target Millenium Development Goals (MDGs). Dengan adanya target MDGs tersebut, upaya pengendalian penyakit malaria di Indonesia semakin membaik. Angka kesakitan malaria selama tahun 2000-2009 cenderung menurun yaitu dari 3,62 pada tahun 2000 menjadi 1,85 per 1.000 penduduk pada tahun 2009. API malaria secara nasional berdasarkan hasil pemeriksaan darah sebesar 2,89 persen (Riskesdas, 2007). Angka ini menurun menjadi 2,4 persen pada tahun 2010 (Data sementara Riskesdas, 2010). Sehingga saat ini tercatat tingkat kejadian malaria hingga 18.6 juta kasus per tahun.

Salah satu usaha penanggulangan penyakit malaria yang digalakkan oleh WHO adalah penggunaan insektisida dalam pemberantasan vektor malaria. Publikasi laporan 10 tahun terakhir (2000-2009), WHO menyimpulkan bahwa terjadi tren kenaikan penggunaan insektisida dalam mengendalikan vektor termasuk vektor malaria. Program penggunaan insektisida ini dilakukan secara luas di seluruh dunia termasuk Indonesia. Salah satu dampak dari program pengobatan untuk memberantas malaria adalah semakin meningkatnya angka resistensi terhadap obat ACT yakni Artemicin.

Apabila hal ini terus meluas maka dapat menyebabkan peningkatan kematian terutama pada bayi dan anak di bawah 5 tahun. Program yang dijalankan oleh WHO tersebut lebih bersifat kuratif. Dengan adanya kemajuan di bidang kesehatan, hendaknya upaya penanggulangan suatu penyakit atau permasalahan kesehatan lebih mengutamakan prinsip pencegahan (preventif). Upaya pencegahan penyakit merupakan suatu upaya untuk menigkatkan kesehatan komunitas bukan hanya terbatas pada individual sehingga diharapkan target yang tercapai menjadi lebih luas. Upaya preventif ini juga dapat dilakukan dalam penanggulangan malaria. Hal yang dapat dilakukan baik oleh stake holder maupun petugas lapangan adalah memprioritaskan program intervensi terhadap perilaku dan lingkungan dalam setiap upaya peningkatan derajat kesehatan. Hal ini sejalan dengan teori yang dikembangkan oleh Blum bahwa faktor yang memberikan kontribusi paling besar terhadap status kesehatan seseorang adalah perilaku dan lingkungan. Perubahan lingkungan dan iklim banyak mempengaruhi dinamika populasi vektor.

Hal ini menjadi faktor utama yang harus diperhatikan dalam upaya intervensi lingkungan guna menurunkan insiden penyakit malaria. Penanggulangan penyakit yang ditularkan vektor tidak hanya melalui pengobatan pada manusianya tetapi juga pemberantasan vektornya yang secara terpadu. Hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi hendaknya melibatkan peran serta dari masyarakat secara aktif. Keterlibatan masyarakat dalam memberantas kejadian malaria merupakan kontribusi yang penting. Masyarakat perlu dibina agar secara sadar hidup dalam lingkungan yang bersih sehingga mencegah perkembangbiakan vektor malaria. Oleh karena itu, intervensi lingkungan dan perilaku menjadi kunci pokok dalam penanggulangan penyakit malaria.

Intervensi perilaku, antara lain diharapkan kesadaran, ketertarikan, evaluasi, mencoba, dan mengadopsi sikap dan pengetahuan, dimana hal tersebut dapat diimplikasikan dalam kegiatan penanggulangan penyakit malaria guna menyadarkan masyarakat tentang pentingnya penerapan pola hidup bersih dan sehat. Kegiatan peduli lingkungan yang dapat dilakukan seperti penimbunan, pengeringan dan pembersihan genangan air. Selain intervensi perilaku, juga dibutuhkan intervensi lingkungan berupa pembasmian jentik, penyemprotan dinding rumah dan penggunaan kelambu ber insektisida.

Pengendalian vektor harus dilakukan secara REESAA (rational, effective, efisien, suntainable, affective dan affordable). Hal ini dilakukan dengan pertimbangan kondisi geografis Indonesia yang luas dan bionomik vektor yang beraneka ragam sehingga pemetaan breeding places dan perilaku nyamuk menjadi sangat penting. Oleh karena itu, peran pemerintah daerah, seluruh stakeholders dan masyarakat sangat dibutuhkan dalam pengendalian vektor malaria. Malaria juga bertanggung jawab secara ekonomis terhadap kehilangan 12 % pendapatan nasional, negara-negara yang memiliki malaria.  United Nation Development Program (UNDP,2004) juga mengklaim bahwa akibat malaria, Indonesia sedikitnya mengalami kerugian ekonomi sebesar $ 56,6 juta pertahun. Dalam program pengendalian malaria, ditargetkan penurunan angka kesakitannya dari 2 menjadi 1 per 1.000 penduduk. Program eliminasi malaria di Indonesia tertuang dalam keputusan Menteri Kesehatan RI No 293/MENKES/SK/IV/2009. Pelaksanaan pengendalian malaria menuju eliminasi dilakukan secara bertahap dari satu pulau atau beberapa pulau sampai seluruh pulau tercakup guna terwujudnya masyarakat yang hidup sehat dan terbebas dari penularan malaria sampai tahun 2030.

Jaga terus lingkungan tempat tinggal dari malaria yang terus mengancam, selamatkan keluarga dimulai dari sekarang dan dari diri sendiri.

* Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Biostatistik Universitas Indonesia

Comments

comments