“PNEUMONIA” Pembunuh yang Terlupakan

Oleh : Yati Nurhayati
Yati NurhayatiBalita sangat rentan terhadap infeksi penyakit baik yang berasal dari bakteri, jamur ataupun virus. Salah satu infeksi penyakit yang menyerang balita adalah pneumonia atau di Indonesia lebih dikenal dengan radang paru.
WHO menyatakan bahwa pneumonia merupakan The Forgotten Killer, pembunuh yang terlupakan. Mengapa penyakit ini sampai dijuluki pembunuh yang terlupakan? Hal ini bisa dikarenakan banyaknya masyarakat, kaum ibu, dan pemerintah yang kurang menyadari, meremehkan bahkan melupakan bahwa balita kita banyak yang meninggal karena penyakit ini. Terkadang kita tidak menyadari bahwa balita kita telah terinfeksi pneumonia bahkan sering menyepelekan tanda-tanda infeksi pneumonia sebagai penyakit yang biasa saja. Kita berpikir bahwa balita kita hanya batuk dan flu biasa. Padahal itu merupakan tanda-tanda infeksi penyakit yang membunuh banyak balita di dunia.
Di indonesia Pneumonia merupakan penyebab kematian kedua tertinggi pada balita setelah diare. Pneumonia diperkirakan menyebabkan kematian 935.000 anak di dunia di bawah usia lima tahun pada tahun 2013.Mirisnya terkadang kita mengabaikan penyakit ini atau karena ketidaktahuan kita tentang pneumonia.
Pneumoniaatau sering disebut radang paru adalah suatu penyakit infeksi atau peradangan pada organ paru-paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur ataupun parasit di mana pulmonary alveolus (alveoli) yang bertanggung jawab menyerap oksigen dari atmosfer menjadi “inflame” dan terisi oleh cairan.Penyebab yang paling sering ialah serangan bakteria streptococcus pneumoniae, atau pneumokokus.
Anak yang sehat memiliki sistem kekebalan tubuh alami yang melindungi paru-parunyadari bakteri atau virus yang menyebabkan pneumonia. Akan tetapi,anak-anak dan bayi dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah, anak-anak yang kekurangan gizi, terutama yangtidak ASI eksklusif atau dengan asupan zat besi yang tidak memadai, beresiko tinggi terkena pneumonia. Faktor lingkungan,seperti tinggal di rumah yang penuh sesak dan orang tua yang merokok atau polusi udara dalam ruangan, juga mungkin memiliki peran dalam menyebabkan pneumonia pada anak.
Untuk mengurangi jumlah penderita dan kematian akibat pneumonia, pencegahan adalah kuncinya.
Perawatan selama masa kehamilan diperlukan untuk mencegah risiko bayi dengan berat badan lahir rendah, perlu gizi ibu selama kehamilan dengan mengkonsumsi zat-zat bergizi yang cukup bagi kesehatan ibu dan pertumbuhan janin dalam kandungan serta pencegahan terhadap hal-hal yang memungkinkan terkenanya infeksi selama kehamilan.
Perbaikan gizi balitauntuk mencegah risiko pneumonia pada balita yang disebabkan karena malnutrisi, sebaiknya dilakukan dengan pemberian ASI pada bayi baru lahir sampai umur 2 tahun. Karena ASI terjamin kebersihannya, tidak terkontaminasi serta mengandung faktor-faktor antibodi sehingga dapat memberikan perlindungan dan ketahanan terhadap infeksi virus dan bakteri. Balita yang mendapat ASI secara ekslusif lebih tahan infeksi dibanding balita yang tidak mendapatkannya.
Memeriksakan anak sedini mungkin apabila terserang batuk. Balita yang menderita batuk harus segera diberi pengobatan yang sesuai untuk mencegah terjadinya penyakit batuk pilek biasa menjadi batuk yang disertai dengan napas cepat/sesak napas.
Mengurangi polusi di dalam dan di luar rumah. Untuk mencegah pneumonia disarankan agar kadar debu dan asap diturunkan dengan cara mengganti bahan bakar kayu dan tidak membawa balita ke dapur serta membuat lubang ventilasi yang cukup. Selain itu asap rokok, lingkungan tidak bersih, cuaca panas, cuaca dingin, perubahan cuaca dan dan masuk angin sebagai faktor yang memberi kecenderungan untuk terkena penyakit pneumonia.
Menjauhkan balita dari penderita batuk. Balita sangat rentan terserang penyakit terutama penyakit pada saluran pernapasan, karena itu jauhkanlah balita dari orang yang terserang penyakit batuk. Udara napas seperti batuk dan bersin-bersin dapat menular pada orang lain karena infeksi ini menyebar dengan mudah.
Kebersihan di dalam dan di luar rumah juga berpengaruh dalam pencegahan pneumonia. Gaya hidup sehat dan menghirup udara segar juga bersih bisa mengurangi terjadinya pneumonia sebanyak 50 persen.
Marilah kita tingkatkan kesadaran dan pengetahuan kita akan penyebab dan pencegahan infeksi pneumonia. Hal ini dapat terwujud dengan adanya kerjasama dan peran serta keluarga, masyarakat dan pemerintah untuk mengurangi terjadinya pneumonia.Salah satunya adalah dengan meningkatkanpromosi kesehatan terkait infeksi pneumonia. Dengan meningkatnya kesadaran dan pengetahuan,kita dapat menyelamatkan balita kita dari infeksi penyakit pnenumonia. Mari Selamatkan Balita Kita.
*Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.