
Redelong | Lintasgayo.com – Baru-baru ini publik di Bener Meriah dihebohkan oleh beredarnya video pengeroyokan oleh sekelompok siswi kepada siswi lainnya.
Belakangan diketahui, siswi dalam video itu merupakan pelajar dari sekolah Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Bener Meriah.
Video berdurasi 10 detik tersebut di unggah ke akun Instagram milik salah seorang pelaku, menampilkan adegan seorang siswi melakukan pose akan memukul dan siswi lainnya terekam melakukan tendangan kearah paha korban.
Video itu juga di edit dengan efek slowmotion, ditambah musik jedag-jeduh ala gen Z, dengan caption “Part Mukul ada di laen Video”.
Penasaran dengan apa yang menjadi alasan para remaja itu tergugah untuk mengunggah konten pengeroyokan/Bullying ke media sosial, Tim Lintasgayo.com mencoba mewawancarai seorang Psikolog yaitu Ismi Niara Bina, M.Psi, Psikolog.
Berikut rangkuman wawancara tersebut;
Kenapa pelajar/remaja tergugah mengunggah video (Bullying) yang dilakukanya ke media sosial?
Ismi Niara Bina : Jika dilihat secara logika seharusnya mereka menyembunyikan bullying yang mereka lakukan, tapi kenapa mereka mengupload ke media sosial pribadinya?
Hal ini disebabkan pada usia remaja dalam proses tumbuh kembang anak ada masa mereka ingin diakui, ingin terlihat unggul, ingin terlihat lebih hebat dan ingin terlihat berbeda dari teman-temannya.
Intinya mereka ini butuh pengakuan. Sayangnya, mereka ini mencari pengakuan itu lewat jalur yang agak kurang tepat. Hal ini bisa jadi disebabkan karena kurangnya pengawasan dan pendampingan dari orang tua.
Bisa jadi juga ungkapan pemberontakan karena dirumah tidak mendapat dukungan, kasih sayang, sebagaimana yang mereka butuhkan dan harapkan.
Jadi, mengunggah video bullying tersebut ke media sosial adalah untuk mendapat pengakuan dari teman-teman sebayanya.
Jika hal tersebut sudah terjadi, Apakah diperlukan penanganan khusus?
Ismi Niara Bina : Sudah pasti perlu penanganan khusus, karena anak-anak kita ini sudah melenceng dari norma sosial anak-anak seusianya.
Dasar perilakunya itu bisa diterima, mereka ingin perhatian, pengakuan, terlihat keren, namun caranya salah. Kenapa bisa salah, karena bisa jadi mereka kurang terpapar dengan norma norma yang baik.
Jadi penanganan khususnya itu, orang tua harus lebih intensif dalam melakukan pendekatan ke anak dengan bekerja sama bersama pihak sekolah untuk menelaah karakter anak tersebut.
Pendekatan seperti apa yang cocok dilakukan apakah pendekatan disiplin tinggi atau pendekatan demokratis dan ini sifatnya gak instan, harus dilakukan terus menerus.
Kemudian, terkait perbuatan yang sudah mereka lakukan sebelumnya tentu harus ada sanksi. Sanksi nya dirumuskan bersama apa yang sebaiknya diberikan kepada anak-anak ini sebagai pengingat.
Apakah kejadian pengeroyokan ini sama halnya dengan kasus geng motor remaja beberapa waktu lalu?
Ismi Niara Bina : Dibilang sama enggak, namun kemiripannya ada. Kemiripannya mereka ini terdiri dari kelompok , ada yang bertindak sebagai pemimpin, dan sama sama usia remaja.
Ada juga perbedaan dari dua kasus ini yaitu jika dikasus bullying pelaku dan korban merupakan pelajar di sekolah yang sama ada kemungkinan bullying tersebut juga terjadi didalam sekolah.
Sementara kasus geng motor remaja dilakukan diluar sekolah dan ada juga remaja yang sudah putus sekolah.
Kesamaanya yaitu sama sama usia remaja, dan ingin diakui.
Apakah ada saran untuk pihak keluarga korban, keluarga pelaku dan pihak sekolah ?
Ismi Niara Bina : Kepada keluarga korban, anak sudah pasti butuh pemulihan, kebetulan keluarga korban juga sudah berkoordinasi dengan kami , kami akan susun program pemulihan psikologis untuk korban supaya bisa kembali seperti semula dan tidak lagi menjadi sasaran bullying juga memiliki pertahanan diri yang lebih baik.
Diharapkan nanti kita juga dapat memulihkan dendam dan sakit hati korban supaya korban tidak bertransformasi menjadi pelaku.
Untuk keluarga pelaku, kita berharap koordinasi dan kerjasamanya , bagaimana kita bisa memberikan sanksi sesuai dengan usia anak kita tersebut.
Juga memberikan pendampingan sebaik-baiknya seperti yang kita sampaikan di awal tadi, bahwa orang tua harus mengenali sekali karakter anaknya, potensi anaknya, sifat anaknya juga kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan anaknya.
Salah satu caranya adalah dengan menjalin komunikasi sebaik-baiknya, jangan sampai kita tidak memahami tumbuh kembang anak kita.
Untuk pihak sekolah, tentu saja ini menjadi pukulan tersendiri bagi sekolah, akibat kejadian ini nama sekolah jadi mencuat dan menimbulkan persepsi negatif.
Semoga sekolah bisa berkerjasama dengan melakukan berbagai kegiatan untuk mengantisipasi dan mencegah terjadinya bully di masa yang akan datang.
Memberi lebih banyak ruang kepada siswa untuk dapat mengembangkan bakat, dan yang pasti menjalin komunikasi intensif dengan orang tua.
Kedepan jika bisa, salah satu syarat penerimaan murid baru disertakan komitmen antara orang tua dan pihak sekolah tentang bersama sama memberikan pendampingan kepada anak untuk kepentingan pendidikan dan tumbuh kembang anak.
Supaya jangan antara pihak sekolah dan orang tua murid putus komunikasi, agar tidak terjadi kejadian perilaku anak yang sekolah tau tapi orang tua tidak tau maupun sebaliknya.
(Mhd)
