Hadiah Terbaik untuk Anak-anakmu Adalah Pernikahanmu yang Baik

Keluarga Arkiandi. Dok. Ist

Oleh: Arkiandi, ST, CGCAE*

Tulisan ini lahir dari pengamatan, pengalaman pribadi, dan kisah banyak orang yang dengan tulus membagikan luka dan pelajaran dari kehidupan rumah tangga mereka.

Sebuah pengingat untuk kita semua agar terus berbenah, bukan hanya demi kebahagiaan pasangan, tapi demi masa depan anak-anak kita—penerus kita di dunia ini.

Di tengah hiruk pikuk membesarkan anak, memilih sekolah terbaik, memberi nutrisi terbaik, dan menciptakan masa depan cemerlang, sering kali kita lupa bahwa hadiah terbaik yang bisa kita berikan kepada anak-anak kita bukan benda, bukan fasilitas, melainkan pernikahan yang sehat dan penuh kasih di dalam rumah mereka tumbuh.

Anak-anak belajar cinta dari cinta yang mereka lihat. Mereka belajar menghargai diri dari cara orang tuanya saling memperlakukan satu sama lain.

Mereka memahami arti tanggung jawab, kesabaran, pengorbanan, dan penghormatan, bukan dari teori di sekolah, tapi dari percakapan yang mereka dengar antara ayah dan ibu mereka.

Pernikahan yang sehat menciptakan suasana rumah yang aman. Rasa aman ini adalah fondasi utama bagi tumbuh kembang emosional anak.

Dalam Islam, pernikahan bukan hanya akad formal, tapi ibadah sepanjang hayat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa tujuan dari pernikahan adalah sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang).

Ketika ketiga pilar ini hadir di rumah, anak-anak pun akan tumbuh dalam suasana yang menyehatkan jiwa mereka.

Mereka percaya bahwa cinta itu indah, bahwa pernikahan adalah ruang saling menguatkan, bukan tempat saling melukai.

Sebaliknya, ketika rumah menjadi ladang konflik yang tiada henti, anak-anak belajar bahwa hubungan itu menyakitkan. Mereka bisa tumbuh dengan luka-luka batin yang tak terlihat.

Mereka bisa menjadi generasi yang takut membangun rumah tangga karena apa yang mereka lihat tak pernah membahagiakan.
Nabi Muhammad SAW adalah teladan agung dalam kehidupan rumah tangga. Beliau bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Kebaikan itu bukan hanya soal nafkah atau tanggung jawab lahiriah, tetapi juga tutur kata, pelukan hangat, komunikasi yang sehat, dan kemampuan meminta maaf dan memaafkan.

Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa pun, karena setiap rumah tangga punya ujiannya masing-masing. Tapi ini adalah ajakan lembut agar kita kembali mengevaluasi: sudahkah kita memperjuangkan pernikahan yang menjadi hadiah terbaik bagi anak-anak kita?

Jika selama ini kita terlalu sibuk membentuk masa depan anak di luar rumah, mungkin kini saatnya kita mulai dari dalam rumah.

Dari cara kita menatap pasangan. Dari kesediaan memaafkan. Dari keberanian mencari bantuan ketika hubungan mulai retak. Karena memperbaiki pernikahan bukan tanda kegagalan, tapi tanda bahwa kita sungguh-sungguh ingin menghadiahkan yang terbaik untuk mereka yang paling kita cintai: anak-anak kita.

Akhir kata, saya menulis ini bukan dari tempat yang sempurna. Saya sendiri masih terus belajar menjadi pasangan yang lebih baik.

Dalam proses itu, saya juga banyak menerima nasihat dan kritik dengan tulus dari istri tercinta saya, Ibu Pipit Libianti, S.Psi yang bukan hanya menjadi teman hidup, tapi juga cermin yang terus mengingatkan saya untuk bertumbuh.

Semoga tulisan ini menjadi bahan renungan bagi kita semua, dan semoga Allah SWT senantiasa membimbing rumah tangga kita menuju surga-Nya.

Penulis adalah:
*Plh Kepala Inspektorat Bener Meriah
*Aktif pada berbagai kegiatan keagamaan dan seorang penceramah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.