
oleh: Kin Langit
Kabut turun perlahan dari lereng Bur Ni Telong. Meneteskan embun menangis membasahi bumi. seolah gunung pun ikut bersedih atas cinta yang diam-diam hancur.
Nona Vitara bukan perempuan yang suka membuat keributan. Tapi itu bukan berarti ia tidak merasa sakit. Di teras rumah kayu yang mulai lapuk, ia duduk membisu. Matanya kosong menatap jauh ke depan. Angin yang masuk dari celah pintu membawa kabar pahit. “pengkhianatan” yang tak bisa ia hindari.
Ia tidak menangis dengan air mata, tapi dengan diam yang menyiksa. Tubuhnya seperti membatu, kaku, seperti pohon Pungkeh tua yang terlalu sering disambar petir. Ia sebenarnya sudah tahu, bahkan sebelum kabar itu benar-benar sampai. Hatinya lebih dulu memberi isyarat. Suaminya, Ferguso, akan menikah lagi.
Perubahannya mulai terasa dari hal-hal kecil. Waktu pulangnya yang makin larut. Pesan-pesan yang terasa dingin. Dan jarak yang makin terasa. Tapi tetap saja, ketika kabar itu datang dari kaki Gunung Leuser, hati Nona seolah pecah.
“Benarkah Ferguso akan menikah lagi? Katanya pestanya sudah disiapkan. Undangan sudah disebar.”
Begitu isi pesan dari kerabat yang tak tega menyimpannya sendiri.
Nona tidak langsung marah. Ia tidak mengadu pada keluarga, tidak pula menyebarkan cerita ke kampung. Ia tahu, luka pribadi bisa berubah jadi aib jika menyentuh harga diri keluarga. Bisik-bisik tentang “jejisen” sebuah sindiran untuk suami yang menikah lagi tanpa izin mulai terdengar di sekitar mereka.
Padahal dulu, Ferguso datang dengan penuh harap dan air mata. Ia bersimpuh di hadapan orang tua Nona, meminta restu seperti anak yang ingin dimaafkan.
“Rai ko jeroh, ulaken pe jeroh-jeroh.”
“engkau jemput dia dengan baik-baik, jika sudah tak saying, pulangkan juga anak ku dengan baik-baik,” pesan ayahnya saat itu. Sebuah petuah adat yang biasa diucapkan saat lamaran.Tapi kini, semua itu terasa seperti sandiwara.
Nona menahan semua luka dalam diam. Ia memilih bertahan demi anak-anak. Dua wajah kecil itu masih menganggap ayah mereka sebagai pahlawan. Ia ingin mereka tumbuh tanpa beban, tanpa aib, tanpa luka dari cerita orang tua yang gagal menjaga cinta.
Namun, kesabaran manusia ada batasnya. Ketika suara pesta makin terdengar, dan undangan tersebar dengan nama Ferguso tertera jelas, Nona mengambil keputusan. Ia memanggil suaminya. Bukan dengan amarah, bukan dengan tangisan, tapi dengan suara pelan.
“Kalau kau benar-benar ingin menikah lagi, aku beri izin. Tapi demi anak-anak, aku punya beberapa syarat.”
Syarat-syarat itu bukan untuk membalas dendam. Ia hanya minta rumah yang layak untuk anak-anak, pendidikan yang terus berjalan, waktu yang adil, dan hak yang jelas. Ia ingin, meskipun cinta mereka sudah retak, anak-anak tidak ikut merasakan pecahnya.
Ferguso mengangguk. Ia diberi selembar kertas “surat izin dari istri pertama”. Ia menandatangani. Atau mungkin bukan hatinya yang menandatangani, tapi egonya yang ingin menang.
Tapi setelah itu, semuanya tetap berjalan. Pestanya tetap meriah. Musik canang menggema ke seluruh kampung. Ferguso tampil gagah dengan pakaian adat terbaik, tersenyum bahagia bersama pengantin barunya.
Padahal, ada banyak alasan yang bisa membawa Ferguso ke meja hukum: kekerasan dalam rumah tangga, dugaan selingkuh, penggunaan narkoba, hingga menelantarkan keluarga. Tapi semua itu ditahan oleh Nona. Demi nama baik orang tuanya. Demi anak-anaknya yang masih ingin menyebut Ferguso sebagai ayah.
Namun kali ini, Nona tidak bisa diam lagi. Syarat yang ia ajukan tak pernah ditepati suaminya.
Ia tidak ingin anak-anaknya tumbuh dalam rumah yang penuh luka. Ia tidak ingin mereka belajar bahwa diam adalah satu-satunya pilihan saat disakiti. Maka, Nona memutuskan untuk bersuara—bukan sebagai istri yang ditinggalkan, tapi sebagai ibu yang menjaga masa depan anak-anaknya.
Ia datang ke kantor polisi dan melaporkan pernikahan kedua suaminya yang tanpa izin resmi. Ia mengirim surat ke tempat kerja Ferguso. Bukan untuk minta belas kasihan, tapi untuk menuntut keadilan atas harga dirinya yang diinjak tanpa rasa bersalah.
Nona bukan perempuan sempurna. Ia hanya perempuan biasa yang mencintai dengan sepenuh hati. Ia tidak gila jabatan. Tidak haus harta. Ia hanya ingin Ferguso yang dulu yang meminangnya dengan mata berkaca-kaca. Bukan lelaki yang sekarang menjadikan keperkasaannya sebagai tameng untuk menyakiti.
Ia belum tahu ke mana arah rumah tangganya akan pergi. Tapi satu hal ia Yakini, luka tidak boleh diwariskan. Anak-anaknya berhak tumbuh dengan utuh, tanpa dendam yang diwariskan dari orang tua. Jika cinta hanya tinggal luka, biarlah itu jadi Pelajaran.
Nona meninggalkan mahligai rumah tangga yang dulu mereka bangun bersama.Bukan sebagai istri yang kalah, tetapi sebagai perempuan yang memilih tetap kuat. Meskipun cinta sudah tak lagi utuh.
Catatan Redaksi:
tulisan ini merupakan Cerita fiksi. Cerita fiksi merupakan hasil dari imajinasi penulis, bukan berdasarkan fakta atau peristiwa yang benar-benar terjadi.
