
Redelong | Lintasgayo.com – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Bener Meriah menyatakan komitmennya dalam menangani dan memberantas homoseksual atau sering disebut Lelaki seks dengan Lelaki (LSL) dan Lesbian (wanita suka dengan wanita) di Bener Meriah.
Hal ini sebagaimana disampaikan Ketua IDI cabang Bener Meriah, dr Ihsan Sarami Artanoga, Sp. KJ, menangapi kasus oknum guru dan dua pemuda yang melakukan pencabulan kepada anak di bawah umur beberapa waktu lalu.
“Disorientasi seksual merupakan gangguan psikologis yang dilakukan oleh orang yang menyukai sesama jenis, bisa homoseksual sering disebut LSL (lelaki Seks dengan Lelaki) atau Lesbian (wanita suka dengan wanita),”kata Ihsan kepada awak media, Kamis (03/07/2025)
Menurutnya, LSL lebih cenderung terjadi karena gangguan psikologis, yang disebabkan multifaktor.
Namun yang paling banyak terjadi karena traumatik hal yang sama di masa lalu, artinya LSL ini sering terjadi karena yang bersangkutan merupakan korban pelecehan homoseksual juga, sehingga menjadi pelaku.
Lebih jauh Dr. Ihsan menjelaskan, Ada 2 jenis disorientasi seksual yakni, Egosintonik.
Egosintonik, adalah disorientasi seksual yang tidak bisa dirubah lagi, terjadi dari dalam dirinya.
Dan Egodistonik, adalah disorientasi seksual yang bisa dirubah, terjadi karena pengaruh lingkungan/traumatik.
“Dampak dari LSL ini adalah berpotensi terjangkit penyakit seks menular sampai HIV/AIDS,” katanya.
Untuk mengantisipasi para korban sodomi agar tidak menjadi pelaku dikemudian hari, maka yang perlu dilakukan pihak keluarga adalah mencari pertolongan pada tenaga profesional untuk dilakukan pemeriksaan dan tindakan pengobatan.
Selain itu kata Dr Ihsan, perlu pengawasan extra kepada anggota keluarga jika ada perubahan perilaku yang mulai muncul.
“Pengawasan bisa dimulai dari pengecekan telepon genggam, karena pergerakan LSL ini dimulai dari alat komunikasi, bahkan saat ini sudah ada aplikasi yg memfasilitasi komunitas mereka,” ungkap Dr. Ihsan.
“Para pelaku akan terus berupaya mencari pengikutnya dari beberapa aplikasi yang bisa ditemukan melalui smart phone, bisa dari telegram, aplikasi di play store, AppStore, dan lain-lain,” tambah dokter spesialis jiwa ini.
Terakhir Dr. Ihsan menuturkan para korban pelecehan seperti itu dapat berpotensi jadi pelaku apabila traumatik nya tidak disembuhkan.
“Para korban LSL itu perlu dilakukan trauma healing agar tidak menyimpan dendam dan dapat berpotensi jadi pelaku nantinya. Untuk hal itu peran keluarga sangat penting untuk memulihkan psikologis korban,” katanya.
“Justru itu, IDI Bener Meriah berkomitmen menangani dan memberantas LSL di daerah yang kita cintai ini,” tutup Dr. Ihsan. (Mhd)
