
Oleh, Arkiandi, ST, CGCAE*
Kita hidup di zaman yang serba cepat, di mana hampir setiap orang disibukkan oleh impian masa depan, ingin karier lebih baik, ingin sehat, ingin mapan secara finansial, ingin bahagia lahir batin.
Namun, ironisnya, banyak di antara kita yang berhenti pada tahap ingin, tanpa diikuti tindakan nyata untuk mewujudkannya.
Kita sering terjebak pada pola pikir menunggu—menunggu kesempatan datang, menunggu kondisi membaik, menunggu “waktu yang tepat” yang entah kapan.
Padahal, setiap hari yang berlalu tanpa perubahan berarti kita sedang mengambil sebuah keputusan, memilih untuk tetap berada di posisi yang sama.
Tak apa kita memikirkan di mana kita ingin berada, tetapi jangan lupa mensyukuri di mana kita berada sekarang. Kita boleh mengejar masa depan, tetapi jangan cemas pada hal-hal di luar kendali, dan jangan mengabaikan nikmat yang Allah hamparkan di hadapan kita hari ini.
Hal yang lebih penting, jika kita mengeluh pada keadaan, tapi tidak melakukan apa-apa untuk memperbaikinya, itu artinya kita sedang memilih untuk tetap di situ. Baik dalam karier, kesehatan, maupun kehidupan pribadi—diam adalah pilihan, dan pilihan itu punya konsekuensi.
Allah Swt sudah menegaskan prinsip ini dengan sangat jelas dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini bukan sekadar motivasi rohani, tapi hukum sosial yang berlaku sepanjang masa. Tidak ada perubahan tanpa ikhtiar. Bahkan doa sekalipun, agar efektif, harus disertai dengan usaha yang nyata.
Cobalah kita jujur pada diri sendiri. Jika kita tidak suka membaca dan belajar, maka pengetahuan kita akan terbatas, bahkan mungkin tidak ada sama sekali.
Jika kita malas belajar membaca Al-Qur’an, maka wajar lidah kita tidak fasih melafalkannya. Jika kita enggan menjaga kesehatan, jangan kaget bila tubuh rentan sakit.
Dan jika kita tidak pernah melatih diri untuk bersyukur, kita akan terus merasa kekurangan meskipun nikmat mengalir deras di sekitar kita.
Menjadi orang yang bersyukur dan shaleh pun harus kita pilih. Ia tidak datang begitu saja. Shalat khusyuk, akhlak baik, hati yang sabar—semua itu lahir dari kesadaran dan latihan, bukan kebetulan. Maka, jangan diam. Jangan salahkan takdir. Berubahlah.
Hidup bukan hanya tentang di mana kita ingin berada, tapi juga tentang bagaimana kita menghargai di mana kita berada sekarang sambil terus berusaha memperbaiki keadaan.
Jika kita tidak puas dengan pekerjaan, tingkatkan kompetensi. Jika khawatir dengan kesehatan, ubah gaya hidup. Jika ingin lebih dekat dengan Allah, perbanyak ibadah dan ilmu.
Sebab, yang tidak kita ubah hari ini adalah pilihan yang akan kita tanggung esok hari. Nikmatilah perjalanan, syukuri yang ada, ubah yang bisa diubah, dan serahkan hasilnya pada Allah. Karena pada akhirnya, bukan takdir yang membelenggu kita—tapi keputusan kita sendiri untuk tidak melangkah.
*Penulis merupakan ASN dilingkungan Pemkab Bener Meriah.
** Aktif pada kegiatan agama dan seorang penceramah.
