Tidak Ada Pasangan Yang Sempurna, Yang Ada Amanah Untuk Saling Menyempurnakan

Arkiandi. Dok. Ist

Oleh, Arkiandi, ST, CGCAE*

Dalam kehidupan rumah tangga, sering kali kita tergoda oleh gambaran ideal, suami yang tanpa cela, istri yang serba sempurna, rumah tangga yang seakan tak pernah berkonflik.

Padahal, kenyataan selalu berbeda. Tidak ada suami yang sempurna. Tidak ada istri yang sempurna. Yang ada hanyalah dua insan yang sama-sama tak sempurna, lalu Allah Swt mempertemukan mereka dalam ikatan pernikahan untuk berusaha saling menyempurnakan.

Allah Swt berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21).

Ayat ini tidak menyebut kata “sempurna“. Justru Allah menekankan sakinah, mawaddah, dan rahmah sebagai fondasi rumah tangga.

Itu artinya, kebahagiaan bukan lahir dari kesempurnaan pasangan, melainkan dari upaya keduanya untuk saling memahami, melengkapi, dan menutupi kekurangan masing-masing.

Tidak ada rumah tangga tanpa konflik. Nabi Muhammad ﷺ yang maksum, bahkan rumah tangganya pun diwarnai dinamika.

Ada perbedaan pandangan antara beliau dengan istri-istrinya, ada cemburu, ada salah paham. Tetapi konflik itu bukanlah tanda kegagalan, melainkan ruang untuk saling belajar.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah (istrinya). Jika dia tidak menyukai salah satu akhlaknya, niscaya dia akan ridha dengan akhlak yang lain.” (HR. Muslim).

Hadis ini adalah panduan emas, jangan biarkan satu kekurangan menutupi seribu kebaikan pasangan. Karena konflik hanyalah episode sementara, sedangkan cinta dan amanah pernikahan adalah komitmen selamanya.

Maka indah sekali jika rumah tangga memegang moto: “Konflik sementara, bersamamu selamanya.”

Ustadz Salim A. Fillah pernah menulis, “Pria–wanita yang paling mawaddah ialah mereka yang merasa tidak mengenal pasangannya, sehingga baginya sepanjang hidup adalah ta’aruf yang menyediakan kejutan indah.”

Betapa dalam makna kalimat ini. Banyak pasangan yang setelah menikah merasa sudah “selesai mengenal” pasangannya, lalu berhenti berproses.

Padahal, pernikahan justru membuka perjalanan panjang ta’aruf yang tak pernah usai.

Kita terus belajar memahami, terus berusaha menerima, terus merayakan kejutan-kejutan kecil yang Allah selipkan dalam kehidupan bersama.

Kita belajar dari rumah tangga sahabat Nabi. Umar bin Khattab r.a., yang dikenal keras, pernah ditanya tentang istrinya yang sering mengeluh. Apa jawabnya?

“Dia banyak menanggung urusan rumahku, memasak makananku, mendidik anak-anakku, sedangkan itu bukan kewajibannya. Maka aku bersabar terhadapnya sebagaimana ia bersabar terhadapku.”

Lihatlah, Umar r.a. tidak mencari kesempurnaan, melainkan alasan untuk bersyukur dan bersabar. Inilah teladan, pasangan bukan untuk dinilai semata, tetapi untuk disyukuri keberadaannya.

Rumah tangga adalah amanah dari Allah. Amanah untuk menjaga pasangan, amanah untuk mendidik anak-anak, amanah untuk menumbuhkan mawaddah dan rahmah. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi).

Kebaikan seseorang bukanlah diukur dari jabatan, harta, atau retorika publik, melainkan bagaimana ia memperlakukan orang terdekatnya—pasangan dan keluarga.
Maka mari kita hentikan ilusi mencari pasangan sempurna.

Yang ada hanyalah dua insan yang ditakdirkan Allah untuk saling menutupi, saling menguatkan, dan saling menyempurnakan.

Konflik adalah bumbu, kesabaran adalah kunci, dan cinta yang terjaga karena Allah adalah tujuan.

Rumah tangga yang kuat bukanlah rumah tangga tanpa masalah, melainkan rumah tangga yang memilih untuk tetap bersama meski masalah datang. Sebab, sebagaimana doa Rasulullah ﷺ:

“Ya Allah, anugerahkan lah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

Dan semoga doa inilah yang menjaga setiap rumah tangga kita—bukan kesempurnaan, melainkan kesediaan untuk saling menyempurnakan.***

*Penulis merupakan ASN dilingkungan Pemerintah Kabupaten Bener Meriah.
**Penceramah dan aktif pada kegiatan keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.