Berkaca Pada Alat Tradisional Sebagai Peringatan Dini Dan Alarm Bencana Alam

Armi Arija. Dok Pribadi.

Oleh, ARMI ARIJA, S.IAN*

Bencana alam merupakan fenomena ataupun kejadian yang disebabkan oleh faktor alam yang kemudian memiliki dampak bagi pada manusia, baik itu kerusakan, korban jiwa serta trauma bagi yang mengalami kejadian tersebut.

Bencana alam terbagi kedalam 3 jenis menurut penyebabnya, yang pertama Bencana Alam Geologis, Yaitu bencana yang disebabkan oleh aktivitas bumi, contohnya seperti Gempa bumi,Tsunami,Letusan Gunung berapi dan tanah longsor.

Yang Kedua, Bencana alam meteorologi, Yaitu bencana alam yang terkait dengan iklim dan cuaca ekstrem contohnya adalah banjir, kemarau atau kekeringan dan angin Topan.

Jenis bencana yang ketiga yakni bencana alam ekstraterestrial, bencana ini merupakan bencana alam yang disebabkan oleh peristiwa luar angaka, contohnyab badai matahari dan hujan meteor.

Menurut Undang-undang Nomor 4 tahun 2007 tentang penanggulangan Bencana, Bencana didefinisikan sebagai peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam sehingga mengakibatkan korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Bencana Alam itu sendiri terkadang tidak bisa di prediksi kapan bahaya itu akan terjadi, namun amat sangat penting untuk diingatkan atau memperingatkan orang-orang sesegera mungkin sehingga mengurangi resiko korban, meningkatkan peluang penyelamatan bagi mereka yang tidak menyadari akan datangnya bencana.

Sistem peringatan dini akan bencana ini jika kita lihat pada sejarahnya, pada awal peradaban orang-orang menggunakan api unggun besar sebagai sinyal peringatan.

Api unggun semacam itu biasanya dinyalakan di perbukitan. Kemudian pada Abad Pertengahan, orang-orang mulai menggunakan lonceng untuk memberi peringatan, ilmuan percaya bahwa Lonceng berfungsi sebagai sarana untuk memperingatkan penduduk akan datangnya bencana, gangguan publik, atau musuh yang mendekat selama bertahun-tahun.

Pada abad ke-20, sistem peringatan dini berkembang pesat akibat Perang Dunia I dan II. Sistem ini menjadi masif dan lebih terpusat kemudian sampai zaman ini muncul alat peringatan moderen yakni Sirine.

Alat alarm bencana pada zaman dulu berbeda-beda di setiap wilayah dan budaya, khususnya diwilayah indonesia , yang memanfaatkan kearifan lokal serta sumber daya yang tersedia, seperti mengandalkan sinyal suara yang berasal dari kentongan, lesung atau pengamatan perilaku alam dan hewan.

Kentongan hampir ada sejak dahulu disemua wilayah indonesia, yang dijadikan sebagai alarm bahaya dan memiliki kode sendiri atau pola pukulan tertentu.

Kentongan dinilai sangat efektif untuk diaktifkan kembali alarm tradisional sebagai sarana peringatan dini bencana terutama di wilayah yang rawan atau berstatus potensi bencana, jika kita berkaca pada apa yang pernah terjadi di kawasan Gunung Semeru, Jawa Timur.

BNPB juga mengedukasi dan memberikan sosialisasi maupun penerangan mengenai hal-hal yang harus dilakukan saat terjadi bencana alam, yakni menggunakan kentungan sebagai kearifan lokal yang memiliki manfaat.

Manfaatnya bukan hanya untuk penanda terjadinya bencana, tapi bisa juga untuk pencurian, kebakaran, dan lain sebagainya.

*Penulis adalah Alumnus FISIP Universitas Malikussaleh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.