
Oleh, Mustawalad*
Di dataran tinggi Gayo, istilah oleng dan neje’k bukan sekadar rangkaian kerja sawah. Ia adalah napas kehidupan, denyut kebudayaan, sekaligus cermin perjalanan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Oleng adalah proses memotong tangkai padi, mubenuh adalah mengangkat dan mengumpulkannya di seladang, lalu neje’k adalah memisahkan bulir padi dari tangkai—tahapan yang selama ini menjadi ritme keseharian petani Gayo.
Namun kini, pepatah lama itu berubah getir: “ Oleng, oleng, je’k !”
Artinya, proses normal yang seharusnya bertahap dan teratur kini terpotong. Mubenuh diabaikan, seladang dilupakan. Semua dipaksa langsung menuju neje’k.
Seolah-olah hidup tak lagi punya jeda, karena kebutuhan yang menekan datang tak mengenal ampun.
Perempuan yang biasanya sabar noleng, laki-laki yang terbiasa mubenuh, dan keluarga yang kompak di seladang kini dipaksa melompat. Hanya karena perut lapar, utang menumpuk, dan tuntutan ekonomi menjerat.
Masyarakat tak lagi sempat mengangkat dan mengumpulkan, semuanya harus segera selesai, harus langsung Neje’k, tanpa aturan, tanpa ritme.
Inilah potret getir Gayo hari ini. Hidup yang tergesa, bukan karena pilihan, tapi karena tekanan.
Harga-harga kebutuhan naik, tanaman holtikultura belum panen, lapangan kerja sempit, sementara rentenir menjelma seperti lintah yang menghisap darah di sawah basah.
Mereka hadir di pasar, di lorong-lorong kampung, menawarkan “jalan cepat” yang sebenarnya adalah jebakan.
Uang kecil yang dipinjam, berbunga besar, membuat pedagang kecil dan petani semakin terseret ke jurang kemiskinan.
Tidak sedikit ibu-ibu yang berjualan di pasar hanya untuk menutup bunga utang, bukan untuk membawa hasil ke rumah.
Tidak sedikit pula bapak-bapak yang bekerja di ladang, tetapi hasilnya hanya singgah sebentar di tangan, sebelum melayang ke kantong rentenir.
Ekonomi Gayo hari ini benar-benar oleng. Seperti padi yang ditebas sebelum waktunya, masyarakat dipaksa kehilangan keseimbangan. Mereka berteriak dalam batin: “Oleng, oleng, je’k!”—sebuah metafora getir bahwa tahapan hidup sudah dilompati, proses normal diabaikan, dan semua berjalan dengan tergesa dalam tekanan yang mencekik.
Jika keadaan ini terus dibiarkan, Gayo bukan hanya kehilangan ritme budaya bertani, tapi juga kehilangan masa depan generasi.
Dari sawah ke pasar, dari rumah ke kantor, dari hulu ke hilir, rentenir dan tekanan ekonomi menjelma menjadi arus deras yang menyeret semua orang.
Dan sekali lagi, masyarakat hanya bisa berteriak:
“Oleng, oleng, je’k! Kami dipaksa terburu-buru, padahal hidup butuh keseimbangan!”
*Penulis merupakan wartawan senior dan pengamat sosial di Tanoh Gayo.

Kebodohan ada di masarakat banyak desa yang membuat simpan pinjam di desa dengan menggunakan Anggara dana desa .
Tapi masyarakat yang meminjam tidak mau membayar untuk mengembalikan pinjaman ke pengurus simpan pinjam . Dengan dalil untuk apa di bayar uang negara .
Belum lagi terkena pengurus yang korupsi
dengan menilep modal dan uang simpan
pinjam desa .
Ujung ujung negara yang di salahkan yang sebenarnya pemimpin masyarakat nya yang bermental korupsi .