Ketika Dengki Lebih Berbahaya dari Penyakit Gila

Arkiandi. Dok. Ist

Oleh: Arkiandi, ST, CGCAE*

Beberapa pekan terakhir, suasana di beberapa kampung berubah muram. Di pagi hari, ketika embun belum kering di pucuk daun, petani menemukan pohon tomat yang hampir panen telah dibabat habis.

Pohon kopi yang sedang merah ranum, ditebang tanpa alasan. Sapi yang menjadi tumpuan ekonomi keluarga, ditemukan berlumur darah dibacok oleh tangan-tangan tak dikenal.

Tangis para pemilik pun pecah. Bukan hanya karena kehilangan hasil kerja kerasnya, tapi karena tak mampu memahami, mengapa ada manusia yang tega menghancurkan rezeki orang lain?

Jika ini bukan kejahatan, lalu apa? Jika ini bukan kegilaan, maka apa nama penyakit yang lebih parah dari gila?

Jawabannya ialah Dengki.

Dengki dalam bahasa agama disebut hasad, dan hasad adalah penyakit hati yang membuat seseorang tidak senang melihat kebahagiaan orang lain, bahkan merasa lega jika orang lain jatuh.

Ibnul Qayyim pernah menulis, “Tidak ada penyakit hati yang lebih berbahaya dari hasad. Ia adalah sumber dari kezaliman, kebencian, dan kehancuran diri.”

Penyakit gila masih bisa diobati di rumah sakit jiwa. Tapi dengki? Ia bersembunyi di dada, menebar racun yang pelan-pelan membunuh nurani.

Dengki tidak hanya merusak pikiran, tapi juga mematikan akal sehat dan kasih sayang manusia.

Orang gila merusak tanpa sadar, tapi orang dengki merusak dengan sadar, dan di situlah bahayanya: sadar, tapi tanpa hati.

Dengki bukan sekadar emosi. Ia adalah warisan iblis pertama kali ketika menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam. Iblis berkata,

Aku lebih baik dari dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12)

Sejak itulah, api dengki pertama kali menyala di bumi. Dan api itu tidak padam sampai hari ini, membakar ladang-ladang orang baik, menebang pohon rezeki orang jujur, dan membacok hewan yang tak punya dosa.

Pelaku-pelaku itu mungkin merasa gagah malam hari, tapi di hadapan Allah, mereka lebih hina dari debu di bawah kaki orang yang dizalimi.

Dalam studi sosial modern, dengki dikategorikan sebagai malignant envy — iri hati jahat yang mendorong seseorang untuk merusak, bukan sekadar ingin memiliki.

Penelitian dari University of Kentucky (2018) menunjukkan bahwa orang yang memiliki rasa dengki tinggi, cenderung melakukan sabotase sosial: menyebar gosip, merusak aset, bahkan mencelakai fisik orang lain demi menenangkan egonya.

Dengki adalah kegagalan spiritual dan sosial sekaligus. Ia lahir dari kombinasi tiga hal yaitu Ketidakmampuan melihat rezeki sebagai ketentuan Allah, rasa tidak percaya diri yang kronis, dan kehausan untuk dianggap “lebih” dari orang lain.

Dan ketika tiga hal itu menyatu dalam dada yang gelap, lahirlah pelaku-pelaku keji yang merusak tanaman dan ternak tetangga dengan tangan sendiri.

Seseorang yang tega menebang pohon kopi orang lain yang sedang panen, sebenarnya bukan sedang menghancurkan pohon tapi sedang menebang akalnya sendiri.

Seseorang yang membacok sapi milik tetangganya bukan sedang membela harga diri — tapi sedang menyembelih kemanusiaannya sendiri.

Dengki itu seperti api dalam sekam, ia membakar hati pelaku lebih dulu sebelum membakar orang lain.

Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat zalim itu akan mendapatkan balasan sesuai dengan kezaliman yang mereka perbuat.” (QS. Al-An’am: 160)

Dan Rasulullah SAW bersabda:
“Hati-hatilah kalian dari hasad, karena hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)

Kepada para petani, peternak, dan masyarakat yang menjadi korban: jangan biarkan kesedihan membuat imanmu goyah.

Karena Allah telah menjanjikan bahwa setiap kehilangan karena kezaliman akan diganti dengan kebaikan yang lebih besar.

Allah Swt berfirman:
“Janganlah kamu mengira bahwa Allah lalai terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42)

Tangisanmu hari ini bukan tanda kalah, tapi tanda bahwa hatimu masih hidup. Sementara pelaku yang tertawa di atas penderitaanmu, sesungguhnya sedang menyiapkan penyesalan yang panjang di dunia dan akhirat.

Dengki hanya bisa dilawan dengan dua hal yaitu Syukur dan Sabar. Syukur karena masih diberi kesempatan untuk berbuat baik, meski dizalimi.

Sabar karena Allah Maha Melihat, dan balasan-Nya tak pernah salah alamat. Kita boleh kehilangan pohon, sapi, atau hasil panen.

Tapi jangan sampai kehilangan hati yang bersih. Sebab ketika hati kita ikut rusak karena marah, maka yang menang bukan pelaku, melainkan iblis yang menanam dengki di antara kita.

Namun setiap kejahatan harus diproses dengan hukum yang berlaku, laporkan kepada pihak yang berwajib yang berwenang mengusutnya dan menegakkan hukum.

*Penulis merupakan ASN dilingkungan Pemkab Bener Meriah.
**Seorang penceramah dan aktif di kegiatan keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.