Foto: Aman Jarum atau Abu Kari.

Catatan : Win Ruhdi Batin

Fauzan Azima, Kepala BPKEL. Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser , meminta saya untuk melihat kondisi Pining yang pernah dihantam banjir bandang.

Kondisi Pining dan sekitarnya paska bencana diperlukan kondisi rilnya untuk merancang upaya pemulihan. Waktu itu setelah MoU. Belum ada laporan kondisi Pining yang menyedihkan.

Konplik Aceh membuat keadaan Pining belum tertangani dengan baik. Terlantarkan.

Fauzan Azima meminta saya menyertakan Lsm dan Photographer. Kami berangkat ke Banda Aceh membuat kontrak dan uangpun cair. Tidak ada birokrasi yang rumit.

Kami berangkat berempat. Sampai di Blangkejeren , menginap di sebuah hotel dekat lapangan bola. Lalu menghubungi Ama Abu Kari.

Besoknya, Aman Jarum tiba. Kamipun berkenalan. Aman Jarum direkomendasikan Fauzan Azima sebagai tokoh yang harus ikut serta.

Aku tertegun saat pertama jumpa. Seorang lelaki tinggi besar. Berkulit putih dan kumis tebal. Dia seperti lelaki dari Ambon. Atau dari Erofa yang gagah dan berwibawa.Senyumnya meneduhkan.

Tak ada angkutan umum ke Pining ,kala itu. Di Gayo Lues, sebelum ke Pining, Abu Kari membeli sebuah parang. Entah untuk apa.

Dari penginapan, kami berjalan beberapa ratus meter kearah jalan Pining. Lalu, Abu Kari mencegat sebuah dump truk yang membawa barang ke Pining. Kami menumpang di bak tebuka itu.

Tibalah kami di Pining,.menjelang sore. Mobil hanya sampai kampung di tepi sungai Pining. Jembatan besi satu satunya ke Kota Kecamatan Pining hanyut terbawa banjir.

Foto; Win Ruhdi Batin dan Abu Kari ( Aman Jarum)

Hanya satu cara keseberang. Mulipe. Melewati derasnya sungai Pining. Kamipun menyeberang beriringin dibawah komando Aman Jarum, Yang terbiasa menyeberangi arus deras.

Persis ditepi sungai Pining, kediaman Abu Kari Aman Jarum. Sebuah rumah sangat sangat sederhana. Beratap seng dengan dinding kayu.

Kami disambut ramah istri Abu Kari, keturunan Jawa yang medok bahasa Belang. Jernih, anak semata wayang Abu Kari ada disana.

Di Pining, kami mangambil data dan foto Kota Pining yang hancur. Rumah ditepi sungai yang berantakan . Sawah menjadi lautan pasir. Sumber penghidupan yang rusak. Parah. Kami juga mendapat data penduduk Lesten yang terkena penyakit kusta. Dan dinyatakan sembuh , lalu memilih bermukim di tengah hutan. Lesten.

Setelah cukup. Aman Jarum merancang perjalanan ke Lesten. Sebuah kampung di pedalaman Pining yang terisolir.

Lesten hanya bisa diakses berjalan kaki. Sekitar 9- 12 jam.

..,

Kami duduk di sebuah warung kopi di Pining. Di pinggir jalan utama. Disana, banyak anak muda Pining yang dipinggangnya terselip belati. Ada juga yang menyembunyikan sangkur. Diantara ikat pinggangnya sebelah kiri.

Sebuah pemandangan asing bagi saya. Namun hal itu biasa di Pining. Di warung itu, biji ganja berserakan dilantai. Meski kaget, saya mencoba memahami keadaan ini. Dan tampak semua yang minum disana tak peduli. Bukan sebuah soal.

Abu Kari meminta tiga orang warga Pining membantu perjalanan kami ke Lesten. Semacam Sherpa.

Dua warga sipil dan seorang lainnya mantan kombatan. Perjalanan dimulai. Dari Pining ke Lesten hanya ada jalan setapak. Menanjak. Sore hari, perjalan baru ditempuh setengahnya. Menginap semalam di kawasan Pintu Angin yang sepi.

Dikawasan ini masih dilihat oleh warga Badak , harimau, gajah dan binatang buas lainnya. Uten Mujana. Paginya, setelah sarapan, perjalanan dilanjutkan.

Menjelang sore, tibalah di Lesten. Fauzi Ramadhan, fotographer kami sempat terkapar dijalan sebelum masuk Kampung. Kakinya tak kuat lagi melangkah. Fauzi membuka baju dan menjadikan ransel sebagai alas tubuhnya.

Lesten agalah Kampung di tepi sungai yang damai. Dikelilingi hutan yang asri. Dimana jejak harimau membekas di tanah becek dekat pemukiman.

Malam itu warga Lesten yang menjadi Sherpa kami memotong seekor ayam kampung. Dia mengambil daun ganja yang gantungnya pada dinding rumahnya. Dalam sebuah tape ” Kati tir lempuk keh”, katanya tersenyum lebar. Ganja adalah bumbu pelunak daging.

Lesten juga terkena dampak banjir bandang 2006. Kawasan sepanjang sungai Lesten luluhlantak. Bangunan rumah, sekolah dan sawah jadi tumpukan tanah lumpur yang membawa batang kayu.

Sumber kehidupan berupa sawah tak lagi bisa ditanami. Mereka pindah ke ladang . Seperti halnya Pining. Sewaktu konplik disini pernah dibangun sebuah pos militer. Seorang anak disana diberi nama Jawa .

Di Lesten ada dua komunitas penduduk. Satu kawasan bermukim penduduk yang pernah terkena penyakit kusta dan sudah dinyatakan sembuh oleh petugas medis.

..,

Seteah dirasa cukup, kami pulang dari Lesten yang sepi di hamparan belantara Leuser yang dilindungi dunia. Sebagai paru paru dunia yang dianggap masih perawan.

Di perjalan pulang ini. Kami dimanatkan oleh Abu Kari Aman Jarum. Kami akan bertemu serombongan lelaki yang membawa beban.

Beban dipunggung lelaki dewasa itu dalam karung plastik berwarna putih adalah ganja. Mereka membawa ganja dari Pining.

Pining- Lesten. Menyeberang sungai- tembus ke Pulo Tige, Aceh Timur. Perjalanan dua tiga hari. Disana ganja – ganja ini berpindah tangan. Menjadi perdagangan di pasar gelap.

Abu Kari meminta kami tak memoto mereka dan menyembunyikan kamera. Kami berpapasan. Bertegur sapa. Mereka saling kenal. Lalu mengaso sejenak. Membakar tembakau dan meminum air yang dicampur serbuk mineral. Air mineral.

” Setelah sawah menjadi pasir. Tak ada lagi sumber penghidupan. Sebagian warga harus menjual ganja demi menghidupi anak istri”, kata Abu Kari lirih hampir tak terdengar.

Perjalanan dari Lesten ditengah rimba, berakhir di Pining. Kehidupan di Lesten sama dengan Pining. Pemukiman di pinggir sungai. Sungai di kehidupan awal manusia adalah sumber penghidupan. Untuk dapatkan ikan, air bersih dan mengairi sawah.

Banjir bandang yang parah tahun 2006, telah membuat keadaan berubah. Sementara hidup harus tetap berlangsung. Apapun caranya.

….

Aman Jarum Dalam Falsafah tentang Alam.

Setelah ekspedisi Lesten bersama Abu Kari Aman Jarum. Kami berpisah. Sesekali bertemu bila Ama Aman Jarum melintas di Lut tawar.

Komitmenya menjaga lingkungan bukanlah tumbuh karena ilmu pengetahuan di perguruan tinggi . Lalu mendapat gelar karena teori.Bukan itu. Karena itu hanyalah kulit , bukan isi.

Abu Kari mencintai lingkungan dan berani mati untuk itu, karena kesadaran dan tradisi. Tradisi yang berisi amanah dari alam semula jadi hingga kembali menjadi debu.

Amanah yang yang dipegang Abu Kari seperti kitab suci. Dipahat dalam diri. Semua kata kata itu disimpan dalam tradisi lisan. Peri Mestike.

Peri Mestike berisi peraturan dan perundangan lisan dialam bawah sadar dan menjadi hukum mengikat. Seperti jasad dengan ruh.

Kata atau kalimat adat ini seperti mantra. Jika diucapkan harus dilakukan. Dan itu disimpan dalam lirik atau syair didong. Melengkan, bines, saman. Bahkan mantra yang disebut Dowa (Do’@).

Hutan atau lingkungan tempat manusia tinggal, dalam filsafat atawa falsafah yang dipahami Abu Kari adalah warisan yang tidak diganggu atau dirusak.

Menebang kayu sesungguhnya adalah penyiksaan. Menyiksa mahluk hidup. Kecuali untuk keperluan yang urgen bagi kelangsungan hidup manusia.

Untuk sawah, perkampungan, perkebunan ,rumah ibadah, sekolah dan lainnya.

Alasan apapun atas nama pembangunan , apalagi pertambangan adalah kerakusan yang dikemas. Itu merusak dan harus dilawan.

Abu Kari memahami bahasa alam. Sebagai bagian dari diri manusia. Ketergantungan yang mengikat satu dan lainnya. Alam dan manusia sama sama memiliki ruh. Alam tidak dipahami sebagai objek yang bisa dieksploitasi demi kekayaan.

Dia hanya bisa diambil sedikit demi kebutuhan. Bukan keinginan. Selebihnya, tetap menjadi hutan. Rusaknya hutan, akan menghancurkan manusia. Itu terbukti dan terjadi.

Hubungan tradisional masyarakat gayo dengan alam yang ditanamkan dalam ruh adalah kesadaran. Bukan diajarkan. Tapi pemahaman.

Banyak kisah yang diceritakan Abu Kari bagaimana alam dan manusia bersinergi. Tak bisa lepas satu dan lainnya. Ceritanya bak dongeng tapi logis. Masuk akal. Masuk akal akal berarti ilmiah. Ilmiah adalah ilmu pengetahuan.

Kisah seorang yang berpenyakit. Lalu mandi di sebuah sungai. Lalu penyakitnya sembuh. Bagi orang ini mungkin fiksi. Tapi tidak bagi Abu Kari.

Logisnya dimana? Mereka yang berpenyakit tertentu ,mandi di sungai, lalu sembuh. Sungai sungai yang asri dengan hutan terjaga adalah sumber obat alami. Pohon pohon tertentu yang mengandung minyak atsiri bisa menjadi obat jika terkena kulit atau diminum.

Itulah alasan kenapa hutan harus dijaga dari kerakusan manusia atas nama apapun hingga kiamat.

Kisah Pilu Abu Kari

Abu Kari adalah lelaki Pining yang gagah dan tampan. Sebagai lelaki gayo tradisional, dia dibekali dengan pengetahuan dan tradisi yang tidak didapat dari sekolah.

Tapi dari adat dan rapalan. Rapalan rapalan atau kebiasaan yang menjadi kearifan lokal. Diturunkan dengan keyakinan dan cara tertentu. Bisa disebut turun babah. Pengetahuan dari kesadaran yang ditancapkan pada jiwa.

Lalau merantaulah Abu Kari ke Aceh Timur. Disana, Abu Kari berada di kawasan terminal yang keras. Abu Kari menjadi pengaman disana. Begitulah tradisi lelaki gayo jika sudah merantau. Bertahan hidup dengan resiko berada di terminal.

Abu Kari menjadi lelaki terminal yang disegani. Lalu Abu Kari muda berkenalan dengan wanita cantik berdarah Jawa. Mereka jatuh cinta dan menikah.

Keduanya melanjutkan hidup di Pining. Lahirlah putri mereka bernama Jernih. Hidup bahagia dalam sederhana.

Kebahagiaan Abu Kari dan keluarga di tepi sungai Pining yang banyak dihuni iken pedeh, mulai berubah. Jernih kemudian menikah dengan lelaki pilihannya.

Lalu, sebuah kecelakaan merenggut nyawa Jernih. Tinggallah Abu Kari berdua istri tanpa buah hati lagi.

Tak lama kemudian sang istripun menyusul. Dua orang wanita terkasih Abu Kari telah pergi selamanya.

Abu Kari melanjutkan hidup dan kisahnya sendiri. Komitmennya tentang hutan tak pernah berubah oleh waktu dan keadaan.

Lalu, lelaki garang berkumis tebal, berambut keriting itupun telah pergi untuk selamanya dan tak pernah akan kembali…lelaki berwajah Ambon itu menghembuskan napas terakhir di rumah kayu pinggir kali Pining, Sabtu, Lo ke Due puluh lime, ulen kesepuluh tun dueribu duepuluh lime. Selamat Jelen Ama. Beriijin kin ilmu urum amalme😭😭😭🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻❤️

Luttawar 25 Oktober 2025.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.