Mustawalad (Foto: Ist)

Oleh, Mustawalad*

Di tanah Gayo yang sawahnya telah banyak berganti bangunan dan kebun kopi, kata bukan sekadar bunyi. Ia adalah napas yang membawa hikmah, sindiran, sekaligus keindahan.

Orang Gayo, dengan tutur yang berlapis dan tamsil yang dalam, punya cara halus untuk menelanjangi kebiasaan manusia — tanpa perlu meninggikan suara atau menunjuk wajah siapa pun.

Salah satu ungkapan yang tajam, indah, halus, namun juga menohok adalah:
“Benoh ni polot i dewei.”

Kalimat pendek itu, jika diterjemahkan kata per kata, tak terlihat istimewa.
Benoh adalah tempat pengumpulan padi — wadah kecil, bukan Seladang. Ia hanya pelengkap, hanya tumpukan kecil di tepi sawah yang menampung hasil panen sementara.

Polot berarti beras ketan — jenis padi yang ditanam sedikit saja, untuk lemang, untuk hari besar, atau sekadar oleh-oleh bagi tamu jauh.

Sementara i dewei berarti diperdebatkan, diributkan, dibicarakan dengan semangat berlebih.

Jika disusun, artinya kira-kira begini: “Benoh berisi polot sedang diperdebatkan.”

Tapi di balik kata sederhana itu tersembunyi ironi yang dalam — sebuah ejekan lembut bagi mereka yang gemar memperdebatkan hal kecil, tak substansial, remeh temeh, seolah dunia bisa berubah karena omongan di warung kopi.

Dari Sawah ke Simbol

Dalam dunia pertanian Gayo, padi biasa yang dimasak menjadi nasi adalah sumber hidup. Ia ditanam di hamparan luas, jadi makanan pokok.

Sementara polot — beras ketan — hanya secuil dari keseluruhan ladang. Ditabur sekadar pelengkap, tak akan cukup untuk bertahan hidup.

Tapi anehnya, dalam banyak ruang percakapan manusia, hal yang kecil itulah yang justru paling ramai diperbincangkan.

Seperti para petani di Linung yang sibuk berdebat tentang ketan mana lebih pulen, sementara bulir padi di sawah mulai rontok karena hujan yang tak kunjung berhenti.

Begitulah manusia: selalu punya waktu untuk yang tak penting, tapi kekurangan tenaga untuk hal yang benar-benar berarti.

Tamsil yang Menelanjangi Zaman

Ungkapan “Benoh ni polot i dewei” kini seperti cermin buram bagi masyarakat modern.

Kita hidup di zaman ketika lidah lebih sibuk daripada tangan, ketika komentar lebih cepat dari kerja, dan ketika perdebatan lebih hangat daripada dapur yang tak lagi berasap.

Di media sosial, orang berseteru tentang warna pakaian, gaya bicara, siapa lebih berhak disebut “pejuang rakyat, lingkaran dalam”.

Di ruang politik, pejabat bersilang lidah soal istilah “visi dan misi” sementara jalan-jalan ke kampung masih berlubang, sawah kering, dan harga pupuk naik, rumah sakit penuh.

Setiap orang merasa paling benar, padahal yang dibicarakan — jika dikupas — hanyalah benoh kecil berisi ketan, bukan seladang penuh padi.

Dalam bahasa Gayo, sindiran ini bukan sekadar kelakar. Ia adalah refleksi moral.

Ia berkata: “Jangan habiskan tenaga untuk ketan ketika padi belum ditanam atau dipanen.”
Sebuah ajaran agar manusia menakar makna dan memprioritaskan substansi.

Lidah Sebagai Cangkul

Bagi orang Gayo, kata adalah alat bercocok tanam pikiran. Mereka menanam gagasan di dalam bahasa, lalu memanennya dalam hikmah. Tapi di masa sekarang, lidah sering menjadi cangkul yang salah arah — menggali hal remeh, memperdebatkan omong kosong, menumbuhkan kesalahpahaman.

Di beranda kopi, di ruang sidang, di rapat desa, bahkan di meja birokrasi, selalu ada yang i dewei — berdebat sengit soal prosedur kecil, soal siapa duduk di kursi mana, soal siapa lebih dulu bicara.

Padahal, yang lebih penting justru terabaikan: sawah masyarakat, nasib petani, masa depan anak-anak yang tak lagi mengenal tamsil leluhurnya.

Mungkin inilah yang membuat bahasa Gayo tetap hidup — karena ia menampar tanpa menyakiti. Ia menyindir tanpa mengutuk. Ia menertawakan kebodohan dengan kelembutan.

Dari Tamsil ke Kesadaran

“Benoh ni polot i dewei” bukan sekadar warisan tutur, melainkan ajakan untuk menimbang kembali apa yang kita perdebatkan dalam hidup ini.

Apakah perbincangan kita menumbuhkan padi, atau sekadar mengguncang wadah berisi ketan yang tak pernah menambah kenyang?

Orang Gayo percaya, bijak bukanlah yang paling banyak bicara, tapi yang paling tahu kapan harus diam. Karena diam, dalam kebudayaan ini, bukan tanda kalah — melainkan tanda sudah mengerti.

Dan mungkin, di zaman yang penuh suara, makna itu semakin terasa sakral.
Ketika setiap orang ingin berbicara, sedikit yang mau mendengar.
Ketika semua ingin jadi benar, sedikit yang mau menanam padi kebenaran itu sendiri.

Sebuah Penutup dari Sawah yang Tak Lagi Luas

Maka, bila suatu hari kamu duduk di warung kopi di Takengon, dan mendengar dua orang tua berdebat tentang hal sepele — entah soal durasi adzan atau warna bendera — jangan ikut menyela. Tersenyumlah saja, dan bisikkan dalam hati:
“Benoh ni polot i dewei.”

Karena di balik ungkapan itu, tersimpan kebijaksanaan kuno yang lebih tajam dari pisau cukur:
Bahwa banyak dari kita, hari ini, telah berubah menjadi penanam kata, bukan penanam padi.

Dan seperti benoh kecil berisi ketan, suara kita ramai, tapi tidak pernah mengenyangkan siapa pun.

*Penulis merupakan wartawan senior dan pemerhati sosial di Tanoh Gayo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.