
Takengon|lintasgayo.com- Jeremias Nyangoen biasa disapa Jery. Bagi sebagian warga gayo, Jery sudah dikenal sejak 12 tahun lalu.
Jery lahir di Pontianak 57 tahun silam. Jery adalah jebolan Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Berprofesi sebagai pemeran, produser, penulis, dan sutradara ternama.
Jery ke Takengon kala itu terlihat di acara Resam Berume yang digelar di Kampung Toweren tahun 2012. Jery ikut bergabung dengan warga dan sejumlah wartawan sempat mengabadikannya.
12 tahun setelah acara Resam Berume, Jery datang membuat film Black Coffee. Jery kemudian mempercayakan penterjemahan skrip dari Indonesia ke dalam bahasa Gayo.
Disinalah peran Dr Salman Yoga bermula. Salman adalah penyair nasional Indonesia. Pendiri Teater Reje Linge,penuliis, wartawan, penerbit , dosen dan petani kopi.
Salman diminta Jery bekerja sama sebagai konsultan bahasa dan budaya. Tiga artis utama pemeran film ini diajar Salman berbahasa gayo, seperti logat aslinya.
Selama berkomunikasi dengan Jery, Salman merasakan bahwa Jery adalah orang yang sangat peduli, teliti dan perhatian.
” Jery sangat menjaga perasaan orang lain”, tegas Salman. Selain itu, Jery juga sangat tegas dan berprinsip kuat. “Jery adalah lelaki yang berhati lembut”, ujar Salman.
Kepada Salman. Jery menyatakan ingin datang lagi ke gayo membuat film teater. Film Black Coffee bukanlah film biasa. Ini adalah film seni dengan biaya yang milyaran.
Jeremias Nyangoen , Sutradara dan penulis naskah film, Women from Rote Island . Film ini membawa pulang empat Piala Citra di Festival Film Indonesia atau FFI 2023, satu di antaranya di kategori Film Cerita Panjang Terbaik
(Ashaf)
