Bukti Orang Punya Akal adalah Bisa Berfikir

Arkiandi. Dok. Ist

Oleh: Arkiandi, ST, CGCAE*

Berpikir itu seperti orang memasak. Ketika seseorang memiliki bahan wortel, kentang, dan tulang sapi, ia bisa mengolahnya menjadi sop tulang, soto tulang, semur, atau sup krim kentang dan wortel dengan kaldu tulang.

Hasil akhirnya sangat bergantung pada informasi yang dimilikinya tentang cara mengolah bahan-bahan itu. Analogi ini sederhana tapi mendalam, berpikir itu sangat tergantung pada informasi.

Informasi hanyalah bahan mentah. Yang membuatnya hidup adalah kemampuan manusia mengaitkan informasi itu dengan fakta yang dihadapi. Inilah inti dari proses berpikir.

Seorang yang kaya informasi belum tentu mampu berpikir dengan baik jika ia gagal menautkan informasi yang dimilikinya dengan kenyataan yang ada.

Bayangkan kisah seorang santri yang bertanya kepada kiai:
“Kiai, apa hukum menggunakan Facebook?”
Kiai balik bertanya, “Facebook itu apa?”
Santri menjawab, “Tempat orang berselingkuh dan pacaran.”
Maka kiai pun berkata, “Kalau begitu haram.”

Masalahnya bukan pada fatwanya, melainkan pada kualitas informasi yang diberikan. Ketika informasi yang sampai kepada si kiai tidak mewakili fakta yang sebenarnya, maka hasil pemikirannya pun menjadi tidak akurat.

Dari sini kita belajar bahwa validitas berpikir sangat tergantung pada validitas informasi dan kesesuaian dengan fakta.

Sebagaimana dijelaskan oleh filsuf logika modern, John Dewey, berpikir adalah proses “reflective inquiry” menimbang informasi dan menautkannya dengan pengalaman faktual untuk menghasilkan kesimpulan yang benar.

Dalam dunia pendidikan dan profesi modern, kemampuan mengaitkan informasi dengan fakta disebut critical thinking atau berpikir kritis.

Berpikir kritis bukan sekadar mengetahui, tetapi memahami keterkaitan antara apa yang diketahui dengan apa yang nyata.

Inilah mengapa anak-anak yang dibiasakan membaca akan tumbuh dengan kemampuan berpikir yang lebih tajam. Setiap informasi baru memperluas peta asosiasi dalam otak mereka, membuatnya lebih mudah menemukan hubungan antara pengetahuan dan kenyataan.

Penelitian National Center for Biotechnology Information (NCBI, 2019) menunjukkan bahwa kegiatan membaca aktif meningkatkan kemampuan koneksi neuron pada area otak prefrontal cortex, bagian yang berfungsi dalam penalaran dan pengambilan keputusan.

Artinya, semakin kaya bahan bacaan seseorang, semakin kuat pula fondasi berpikirnya. Namun, informasi tanpa tujuan hanyalah tumpukan data.

Sering kita jumpai orang yang memiliki gelar banyak, wawasan luas, bahkan knowledge berlapis-lapis, namun tetap tidak menghasilkan dampak nyata. Mengapa?

Karena informasi dan kemampuan berpikir hanyalah alat (tools). Tanpa purpose (tujuan), semua itu tidak akan menuntun ke arah peradaban.

Dalam perspektif Islam, berpikir tanpa tujuan sama seperti berjalan tanpa arah. Tujuan berpikir dalam Islam diarahkan untuk mengenal kebenaran hakiki dan menuntun manusia kepada nilai-nilai ketuhanan.

Di sinilah muncul konsep akidah sebagai basic thinking yang melahirkan basic purpose. Akidah bukan sekadar keyakinan emosional, tetapi struktur berpikir dasar yang menuntun manusia memahami eksistensi dirinya, alam, dan Tuhannya secara rasional.

Sebagaimana diuraikan oleh Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Nizham al-Islam, berpikir adalah proses mencerap fakta melalui panca indra, kemudian mengaitkannya dengan informasi sebelumnya untuk menghasilkan pemahaman terhadap realitas.

Dengan kata lain, berpikir bukan hanya mengingat, tetapi memproses realitas secara sadar dan terarah.

Maka, berpikir adalah aktivitas akal yang menuntut keterpaduan antara:
Fakta yang ter-indera,
Informasi sebelumnya, dan
Tujuan berpikir yang benar.

Tanpa salah satunya, berpikir akan kehilangan arah. Informasi tanpa fakta hanya menghasilkan khayalan, fakta tanpa informasi melahirkan kebingungan, dan keduanya tanpa tujuan akan berakhir pada kesia-siaan intelektual.

Berpikir adalah bukti bahwa manusia memiliki akal. Ia bukan sekadar kegiatan mental, tetapi mekanisme rasional untuk menghubungkan fakta dengan informasi secara sadar dan terarah.

Oleh karena itu, berpikir yang benar akan melahirkan pengetahuan yang benar. Dan pengetahuan yang benar akan melahirkan peradaban yang benar.

Islam menempatkan berpikir sebagai fondasi keimanan, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Yunus ayat 101:

“Katakanlah: perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.”

Ayat ini bukan sekadar ajakan untuk melihat, tetapi untuk memikirkan. Melihat dengan mata itu mudah. Tetapi melihat dengan akal itulah bukti bahwa seseorang benar-benar hidup.

*Penulis merupakan ASN dilingkungan Pemkab Bener Meriah, Penceramah, dan aktif diberbagai kegiatan keagamaan.
**Kolumnis Lintasgayo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.