Foto: Dr. Salman Yoga S

Takengon | lintasgayo.com- Serombongan orang yang difasilitasi Kadis Perpustakaan Aceh Tengah , Zulfan Diara Gayo berangkat menuju Pantan Jemungket, Umang Isaq Kecamatan Linge. (12/11/25).

Zulfan menyebut kepergian ini dengan nama , Ekspedisi Literasi. Kenapa? Karena Dr. Salman Yoga , S.S.Ag. MA yang menulis buku , Batu Rupa per Empu an Membatu dan rempah ganja. Antologi Puisi.

Buku karya Salman Yoga ini akan dibedah pada 19 November 2025 di gedung Perpustakaan dan Arsip, Takengon. ” Sebelum kita bedah, kita ingin melihat bentuk dan rupa batu” kata Zulfan yang sarjana Tambang ini.

Lalu, Zulfan mengajak Zul MD,seorang Tenlok yang pernah mendampingi Dr Rita Margaretha Setianingsih, seorang ahli membaca Epigraph.

Dalam arkeologi, epigraph juga dapat merujuk pada tulisan atau inskripsi yang terukir pada batu, logam, atau monumen kuno.

Rita Margaretha yang bekerja di Balar Medan, kemudian menuliskan hasil bacaannya di Situs Atu Bertulis Umang Isaq , berjudul . Situs Atu Berukir di Pantan Jemungket, Desa Umang Isaq, Kecamatan Linge, Kabupayen Aceh Tengah : BUKTI ARKEOLOGI KLASIK INDONESIA DI TANOH GAYO, PROVINSI ACEH. Halaman 185.

Tulisan Dr. Rita terangkum dalam buku, ACEH dalam perspektif sejarah dan Arkeologi. Diterbitkan Cakra Press. Bekerjasama dengan Balai Arkeologi Medan , 2015.

Dalam rombongan ini, ikut serta Rahmat Jayadikarta, staf ahli pimpinan dewan , Dprk Aceh Tengah, Salman Yoga, Fadli Aman Putri, pegawai perpustakaan , Zul dari bagian Arsip perpustakaan serta penyair dan seniman Purnama K Ruslan, . Serta Penulis.

Menjelang siang , rombongan tiba di Umang Isaq. Disambut hujan renai renai . Lokasi Situs, persis di tepi jalan.

Kawasan situs dipenuhi semak belukar dan pohon Pinus mercusi bin Uyem. Belasan batu batu yang dulu pernah didata tertutup pohon, tertimbun tanah, daun dan semak.

Sulit menemukan batu batu bertulis ini. Bahkan banyak bagian batu yang sudah rusak karena mucerbeng, patah atau bahkan ada potongan yang hilang karena faktor alam.

Hampir sulit menemukan bagian batu vulkanik ini yang tergores yang disebut Yantra, trikona, bentuk lingkaran. suluran suluran dan rumbai singa.

Situs ini disebut sebagai sebuah bukti Arkeolog Klasik Indonesia yang ada di bumi Tanoh Gayo.

Rombongan dengan susah payah membersihkan batu dari sampah daun , ranting , pohon kecil, tanah, untuk mencari bagian yang diukir. Bahkan sebagian batu yang dulunya ditemukan ukiran, kini tak ada lagi karena sudah pecah.

Kawasan Situs Atu Berukir ini benar benar dengan kondisi yang mengkhawatirkan kelestariannya. Batu batu yang pecah dan hilang karena iklim semakin banyak terlihat.

Sejak diteliti Balar sekitar tahun 2014 dan menuliskan hasil penelitian tersebut, Balar sudah menyarankan agar situs yang berharga ini dilindungi dan dipelihara.

Bongkahan batu seharusnya diberi naungan. Karena kalau tidak, menurut Dr Rita, situs ini rusak oleh panas dan hujan serta kebakaran. Namun sayangnya hingga kini tak ada dinas atau pimpinan daerah serta wakil rakyat yang peduli. Ancaman kerusakan situs sudah terjadi. Tinggal menunggu kehancuran total.

Dr Salman Yoga menulis Puisi tentang batu ini berjudul , BATU RUPA. Ditulis dan dikumpulkannya dari tahun 2018 hingga 2024. Sembilan halaman khusus puisi Atu Berukir.

Salman Yoga didalam puisi ini menyindir berbagai pihak yang datang dan pergi ke batu ini sesungguhnya tak pernah peduli melestarikannya.

” Mereka datang dan berlalu

Hanya sekali dua saja singgah

Seperti juga pengembara kelana

Datang memandang dan mencatatnya

Memegang juga meraba sudut sudut rupa

Memotret serta menulis sebisanya

Lalu pulang dengan Dana Negara”.

Salman Yoga mengaku merenung lama di sebuah batu. Lalu , Salman dan batu itu berbicara lama. Pahatan seorang wanita.

“Parasnya oval teduh

Damai dab luruh tengah berbaring

Dengan tubuh miring

Memicing mata dalam pejam..”.

Salman ingin membawanya pulang. Memajang batu itu dirumahnya. Tapi sang Pemahat relief itu tentu akan cemburu..

Salman yang seniman, anak teater , Dosen dan sejumlah kegiatan lain yang membangun karakter jiwa, bukan akal . Bisa menyatukan dan juga memisahkan antara ilmiah dan imaginasinya.

Salman sadar betul ada jurang lebar antara sain dan imaginasi. Hebatnya, Salman punya keduanya. Salman tahu betul kapan dia ilmiah dan kapan dia menjadi diri sebenarnya sebagai seniman dan anak teater. Dan berteriak…

Salman menggambarkan goresan satu batu sebagai perempuan cantik yang menggoda.

” …Senyum tipis mengedipkan sebelah mata,..

Jelas aku kegirangan dan terpana

Sebagai laki laki gila dari Asir asir Atas..”.

(Win Ruhdi Bathin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.