Memanggul Asa, Menapaki Harap

Aman Ipak memanggul cabe dari Bener Meriah menuju Aceh Utara. Dok Mhd.

Derap langkah kaki nya pelan namun pasti, perlahan ia mendaki, menapaki jalan turunan yang berlumpur. Ia tak sendiri, hilir mudik orang-orang datang dan kembali, banyak yang saling menyapa, tapi semua sama memanggul asa dengan menapak harap tak pasti.

Keterisoliran ternyata semengerikan itu, ia merenggut kebebasan, membelenggu hasrat dan keinginan. Membenam harap.

Sebut saja Aman Ipak, memanggul cabe merah puluhan kilo di pundaknya, menapaki puluhan kilometer jauhnya, menembus batas keterisoliran dari Bener Meriah menuju Aceh Utara.

“25 Kilo, satu kilo ongkos panggulnya 12 ribu,” ujarnya lirih saat ditanyai wartawan lintasgayo, Kamis (11/12/2025).

Aman Ipak mengaku bahkan bukan pemilik cabe, ia hanya kuli. Terpaksa ia lakukan agar perut anak dan istrinya tetap terisi.

“Nanti ongkosnya di tukar beras, untuk dibawa pulang,” sambungnya sedih.

Aman Ipak ialah satu dari seribuan laki-laki yang memilih melawan keterisoliran. Menolak menunggu mati kelaparan dirumah, memilih berjuang melewati jalan berlumpur.

Bukan tidak percaya pemerintah, tapi lambat. Sibuk dengan birokrasi yang berbelit-belit. Padahal rakyat kian sulit.

Pak Presiden, sampai kapan? Apakah harus ada yang kelaparan dan mati, barulah tuan memberi beras kepada kami?

Catatan, Mhd

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.