Warga berjalan kaki melewati Burni Pase menuju Kem, Permata, Bener Meriah. Dok kiriman warga.

Memasuki hari ke-18 pasca bencana alam hidrometeorologi yang melanda wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah, kondisi kehidupan masyarakat semakin hari semakin memprihatinkan.

Terutama kebutuhan pokok rumah tangga semakin menipis bahkan kebutuhan khusus seperti susu bayi sulit ditemukan di toko-toko, ditambah masyarakat kini dihadapkan pada lonjakan harga yang ekstrem, memicu krisis kemanusiaan, terutama bagi kelompok kurang mampu.

Bukan hanya korban bencana yang merasakan susahnya mendapat bantuan tetapi masyarakat Aceh Tengah yang terdampak dihadapkan melonjak harga kebutuhan yang tidak masuk akal, apa lagi ditengah bencana. Miris.. Tetapi ini realitanya.

​Data harga yang dihimpun menunjukkan bahwa pasokan kebutuhan sehari-hari hanya bergantung pada pedagang yang berani membawa barang melalui jalur khusus, seperti Jalan KKA, untuk kepentingan bisnis pribadi. Tidak hanya pedagang masyarakat biasa pun rela berjalan kaki untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Harga jual yang melambung tak terkendali sesuka hati penjualnya, misalnya :

​Beras satu karung (15 kg) dijual seharga Rp 420.000 – Rp. 500.000

​Telur per papan mencapai harga Rp. 170.000 – Rp. 200.000

BBM per Liter Rp. 30.000 – Rp 50.000

Ikan Asin per ons Rp. 15.000 – Rp. 25.000

Kayu bakar per Ikat isi 5 batang ukuran 40 Cm Rp. 20.000 – Rp. 25.000

Minyak goreng masih langka dipasaran.

Tidaklah salah para pedagang mematok harga yang begitu tinggi, mungkin pedagang memperhitungkan biaya, tenaga, belanja barang ke Aceh Utara dengan memikul barang dagangan berjalan kaki berjam-jam.

Ditengah kondisi bencana hampir semua lapisan masyarakat terdampak bencana ini, kecuali mereka yang punya kuasa dan punya uang, bagi mereka barang yang menurut masyarakat mahal tidak berlaku pada mereka.

Masyarakat dituntut harus mandiri dengan situasi genting saat ini, mengharap bantuan dari pemerintah tak kunjung menyelesaikan masalah, apa lagi urusan perut, keluarga yang kelaparan kehabisan stok makanan.

Mendengar cerita masyarakat di media sosial ada keluarga sudah beberapa hari hanya makan 1 kali sehari, selebihnya hanya makan singkong, kentang, jagung, 1 bungkus mie instan untuk 4 orang anggota keluarga, “katanya apa yang bisa dimakan untuk mengganjal perut”.

Seandainya Pemerintah Daerah setempat ada inisiatif kenapa tidak pergi belanja melalui jalur KKA seperti pedagang, masyarakat yang beramai-ramai pergi belanja ke lhokseumawe. Jika pun harus di jual kembali ke masyarakatnya tidak masalah, namun, tidak mematok harga terlalu tinggi agar dapat dijangkau masyarakat. Dengan begini masyarakatnya sudah terbantu sedikit sambil menunggu bantuan kondisi normal. Semoga bencana ini cepat berlalu, bangkit dan bersatu Tanoh Gayo ku…. (Redaksi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.