
Oleh: ARKIANDI, ST, CGCAE*
Di saat banjir bandang datang tanpa permisi, memutus jalan, mengurung manusia dari dunia luar, dan menanggalkan segala kenyamanan, Islam tidak sedang menguji kefasihan lisan kita dalam berdoa, tetapi kejujuran iman kita dalam bertindak.
Ada kegelisahan yang patut kita rawat, jangan sampai kita menjadi hamba yang rajin mengerjakan amalan-amalan yang terasa “aman”, “tenang”, dan “pribadi”, sementara kewajiban yang nyata, yang berat, berisiko, dan menuntut pengorbanan kita tinggalkan tepat di depan mata.
Para ulama ushul fiqh telah lama meletakkan kaidah agung tentang fiqh al-awlawiyat (fikih skala prioritas). Di antaranya “Mendahulukan yang wajib atas yang sunnah, dan mendahulukan kemaslahatan yang besar atas kemaslahatan yang kecil.”
Dalam kondisi normal, seseorang memperbanyak amalan sunnah adalah kebaikan.
Namun dalam kondisi darurat, menyelamatkan nyawa, menolong yang terisolir, memberi makan yang lapar, dan melindungi yang lemah adalah kewajiban syar’i yang tidak boleh dikalahkan oleh kesalehan individual.
Allah SWT menegaskan dengan sangat keras, “Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan seluruh manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 32)
Ayat ini bukan puisi spiritual. Ia adalah perintah hidup. Menyelamatkan satu nyawa di tengah bencana lebih berat nilainya daripada seribu amal sunnah yang hanya berputar pada diri sendiri.
Islam tidak memuliakan sikap netral saat kezaliman dan penderitaan terjadi. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya—dan itu selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Dalam musibah, kemungkaran itu bisa berupa pembiaran. Pembiaran terhadap orang yang kelaparan. Pembiaran terhadap yang terjebak tanpa bantuan. Pembiaran karena merasa “itu bukan urusan saya”.
Jika tangan mampu bergerak namun memilih diam, jika kaki mampu melangkah namun memilih aman, lalu kita berlindung di balik dalih “saya sudah berdoa”, maka kita patut bertanya dengan jujur, iman yang mana yang sedang kita jaga?
Rasulullah ﷺ adalah manusia paling dekat dengan Allah, namun beliau juga manusia yang paling pertama hadir ketika umatnya menderita.
Dalam banyak riwayat sahih, Rasulullah ﷺ pernah Mengangkat sendiri batu saat menggali Parit Khandaq, Menanggung lapar bersama para sahabat, bahkan mengikat batu di perutnya, bangun malam untuk shalat, namun siang hari memikul urusan umat tanpa mengeluh.
Beliau bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad, ath-Thabrani – hasan)
Perhatikan, Rasulullah ﷺ tidak mengatakan yang paling banyak ibadah sunnahnya, tetapi yang paling bermanfaat.
Lihatlah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Di masa paceklik, beliau berkeliling malam hari memanggul gandum sendiri. Ketika ditanya, “Mengapa tidak menyuruh pelayan?”
Umar menjawab:“Apakah pelayanku akan memikul dosaku di hari kiamat?”
Umar menolak kenyang ketika rakyatnya lapar. Beliau menolak tidur nyenyak ketika umatnya resah. Itulah iman yang tidak sudi hidup sendiri.
Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, meski menjadi khalifah, tetap menyempatkan diri memerah susu untuk janda-janda tua. Ketika ditegur, beliau berkata bahwa jabatan tidak menggugurkan kewajiban kemanusiaan.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata “Manusia itu dua: saudaramu dalam iman, atau setaramu dalam kemanusiaan.”
Maka bagaimana mungkin seorang muslim merasa aman, tenang, dan cukup, sementara saudara seiman—bahkan sesama manusia masih terisolir dan terhimpit?
Musibah bukan hanya menguji korban, tetapi mengadili yang selamat. Ia membuka topeng keimanan, apakah iman kita hanya pandai menangis dalam doa, atau sanggup berkeringat dalam ikhtiar.
Allah SWT mengingatkan, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2).
Diam di tengah penderitaan massal bukanlah takwa. Ia bisa berubah menjadi dosa sosial yang sunyi.
Jika engkau tenang karena rumahmu tidak terdampak, jika engkau diam karena keluargamu selamat, jika engkau sibuk dengan ibadah personal sementara jeritan manusia masih terdengar, maka jangan buru-buru merasa aman dengan imanmu.
Iman yang hidup tidak pernah netral. Ia selalu berpihak pada yang lemah. Ia selalu gelisah ketika melihat penderitaan. Ia selalu turun ke lumpur, meski doa-doanya tetap naik ke langit.
Sebab Islam bukan agama yang membesarkan kesalehan egoistik, tetapi agama yang menuntut kehadiran, keberanian, dan pengorbanan.
Dan pada akhirnya, kelak Allah tidak hanya bertanya, “Berapa banyak doa yang kau panjatkan?” tetapi juga “Di mana engkau berdiri ketika saudaramu membutuhkanmu?”
*Penulis merupakan kolumnis Lintasgayo.com.
