Air Mata Linge, Harapan yang Kembali Menyala

Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, saat mengunjungi, Kecamatan Linge. Dok Ist.

Hujan turun tanpa henti di Kecamatan Linge, seolah langit ikut menangis bersama hamba-hamba Allah yang sedang diuji.

Malam itu, Kampung Jamat, Pertik, Kute Reje, Payung, dan Kampung Linge dan Kampung lainya, dilanda longsor dan banjir bandang yang datang tiba-tiba. menjadi saksi betapa kecilnya manusia di hadapan kuasa-Nya.

Rumah-rumah rusak, sebagian roboh dan hanyut terbawa arus. Sawah yang dulu hijau kini tinggal lumpur. Kebun tertimbun, tanaman lenyap tak bersisa. Jalan terputus, kampung-kampung terisolasi.

Warga hanya bisa pasrah, bertahan dalam dingin dan gelap, di tenda pengungsian ditemani suara air dan isak tangis.

Anak-anak menangis ketakutan, memeluk ibunya yang gemetar, sementara bibir mereka lirih menyebut asma Allah, Bertakbir, Bertahlil dan Bertahmid ,memohon perlindungan Allah di tengah malam yang mencekam.

Listrik padam, jaringan terputus. Tak ada kabar yang bisa dikirim, tak ada tangan yang segera datang menolong.

Sembako menipis, perut lapar menjadi ujian. Dalam lelah dan duka, mereka sujud di lantai yang basah, menengadahkan tangan, berdoa:
“Ya Allah, kami lemah tanpa pertolongan-Mu. Selamatkan kami, kuatkan hati kami.”

Bencana ini begitu dahsyat, meninggalkan luka di tanah dan di hati. Namun di balik air mata, Allah tak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Harapan mulai menyala ketika hadir pimpinan daerah, Bupati dan wakil Bupati Aceh Tengah, di tengah warga yang tertimpa musibah. Kehadirannya bagai jawaban dari doa-doa panjang di malam gelap.

Beliau menyapa, mendengar keluh, dan menguatkan, membawa pesan bahwa masyarakat Linge tidak sendirian.

Bantuan yang datang terasa seperti rezeki dari langit, menguatkan iman bahwa pertolongan Allah selalu hadir lewat tangan-tangan manusia.

Warga kembali menegakkan kepala. Di antara puing dan lumpur, mereka saling menggenggam, menguatkan satu sama lain.

Air mata masih jatuh, tetapi kini disertai syukur dan harapan. Mereka yakin, setelah kesulitan pasti ada kemudahan.

Dari peristiwa ini, kita diingatkan untuk lebih tunduk dan bersyukur. Alam adalah amanah dari Allah yang harus dijaga, bukan dirusak.

Hutan yang lestari, sungai yang bersih, dan lereng yang terawat adalah bentuk ibadah kita kepada-Nya. Menanam pohon, menjaga bumi, dan tidak merusak alam adalah wujud syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT.

Air mata mungkin masih mengalir di Linge, namun doa tak pernah berhenti terucap.

Dengan iman, kesabaran, kebersamaan, dan tawakal kepada Allah, warga Kampung Jamat, Pertik, Kute Reje, Payung, Linge dan Kampung lainya.

Percayalah luka ini akan sembuh. Dari tanah yang basah oleh air mata, akan tumbuh harapan baru, dan kehidupan akan bangkit kembali, lebih kuat dan lebih dekat kepada Allah SWT.

Catatan, Alwin Al-Lahad.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.