
Redelong| Lintasgayo.com – Perjalanan Wakil Bupati Bener Meriah, Ir. Armia, menuju Kampung Samar Kilang, Kecamatan Syiah Utama, terhenti di Kampung Tembolon, Sabtu siang, (27/12/25).
Mesin mobil offroad berwarna putih yang ditumpanginya mati setelah Jalan Lintas Syiah Utama, penghubung antar desa sekaligus jalur alternatif menuju Kecamatan Mesidah berubah menjadi kubangan lumpur akibat banjir bandang dan longsor.
Badan jalan tergerus, longsoran menutup hampir seluruh jalur, dan kendaraan roda empat tak bisa melintas. Armia turun dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Samar Kilang berada di balik bukit dan lembah yang rusak berat sejak banjir bandang dan longsor sebulan sebelumnya. Bencana itu merusak rumah dan kebun warga, memutus jalan, listrik, serta distribusi logistik.

Perjalanan dilanjutkan menggunakan sepeda motor trail setelah Armia dijemput Kapolsek Syiah Utama, Ipda Agus. Jalur sempit dan licin dipenuhi pohon tumbang. Kabel listrik melintang di badan jalan akibat tiang roboh, terpaksa dilindas demi melewati satu-satunya sisa jalur.
Armia didampingi Camat Syiah Utama, Kapolsek, relawan Kadin, komunitas trail ekstrem, serta personel Polsek dan Posramil Syiah Utama. Rombongan kecil ini hanya bisa bergerak dengan motor trail. Mereka sempat singgah di Polsek Syiah Utama, Kampung Rusip, sebelum melanjutkan perjalanan.

Medan semakin berat. Tiang listrik rebah, sebagian tertimbun tanah. Di satu titik, longsor setinggi sekitar tujuh meter menghadang jalan. Motor yang ditumpangi Armia sempat rusak akibat rantai terlepas dan diperbaiki seadanya di tengah lumpur.
Sekitar pukul 15.30 WIB, Armia tiba di Samar Kilang. Kampung tampak lengang. Aktivitas warga sangat terbatas. Lumpur mengeras menutup sawah dan kebun. Tanaman kopi, kakao, durian, dan rambutan mengering. Sebagian kebun sebenarnya selamat, tetapi hasilnya tak bisa dipanen karena akses terputus.
“Airnya setinggi pohon,” ujar seorang warga sambil menunjuk bekas terjangan banjir di pohon rambutan kebun mereka.
Sejak bencana, kehidupan warga nyaris berhenti. Jalan terputus total, listrik padam tanpa kepastian, sinyal hilang, dan distribusi kebutuhan pokok bergantung pada cuaca serta keberanian relawan.
Dengan sepatu berlumpur, Armia menyusuri kampung dan berdialog singkat dengan warga, menanyakan kebutuhan paling mendesak, kondisi jalan, serta waktu terakhir bantuan masuk.
Samar Kilang bukan satu-satunya wilayah terisolasi. Jalan Lintas Syiah Utama terputus di banyak titik, melumpuhkan mobilitas warga dan membuat distribusi logistik sepenuhnya bergantung pada motor trail.
Untuk membuka kembali jalur tersebut, tiga unit alat berat dikerahkan. Dari arah Samar Kilang, satu ekskavator bekerja menuju Keken. Dari arah Kanis Bandar, dua unit lainnya bergerak hingga Berawang Lukup, Kampung Tembolon. Longsoran dan lumpur tebal masih menjadi hambatan utama.
Pembersihan jalan provinsi milik Pemerintah Aceh itu dilakukan melalui kolaborasi pemerintah daerah dan masyarakat. Di lapangan, 14 desa di Kecamatan Syiah Utama patungan membeli BBM dan membayar operator alat berat agar pekerjaan tidak terhenti.
Armia mengapresiasi relawan Kadin yang menyalurkan dua ton beras, dibantu relawan kecamatan, Karang Taruna, serta personel Polsek dan Posramil Syiah Utama.
“Kami berterima kasih beliau mau datang langsung,” kata Imam, warga Lane, Samar Kilang. Namun warga berharap lebih dari sekadar kunjungan. percepatan pembukaan jalan, pemulihan listrik, dan perhatian terhadap lahan pertanian yang rusak.
Hingga akhir Desember 2025, akses menuju Samar Kilang belum pulih. Air bersih sulit, jalan darurat mudah rusak saat hujan, listrik belum stabil, dan komunikasi masih terbatas. Warga hidup dalam ketidakpastian. (Ihfa)
