
Part I
Perjalanan ke desa Bur Lah dan Bintang Pepara sebenarnya adalah perjalanan tanpa rencana. Tujuan kami hari Minggu, 21 Desember 2025 itu memang menuju kecamatan Ketol.
Desa Bah dan Serempah, yang lebih dekat di telinga setelah bencana gempa Ketol 2013, menjadi salah satu pilihan utama Tim Sahabat Safar.
Namun, saat bertemu salah seorang teman, Bembeng, yang merupakan warga Ketol, maka nama Bur Lah dan Bintang Pepara menjadi rekomendasi prioritas saat itu.
Menurut beliau, di posko pengungsian Serempah yang berlokasi di pasar potong Simpang Rajawali, kebutuhan sembako mereka bisa dibilang cukup. Tidak demikian dengan desa Bur Lah dan Bintang Pepara.
Kami langsung tancap gas menuruni lembah yang berkelok-kelok. Perkebunan warga membentang di sepanjang perjalanan. Cabai, sedang ranum. Harga merosot jatuh, tampak hamparan cabai merah yang tak lagi berurus.
Di sepanjang jalan masih terlihat sisa longsoran, kami terus turun mendekati sungai. Di beberapa titik kami mulai dapat mengintip kerusakan yang terjadi di bawah sana.
Tak henti lisanku beristighfar, sungguh pemandangan yang menyayat hati. Sebuah peradaban lenyap disapu banjir.
Saat tiba di Bur lah, kami bercengkrama sebentar, menyerahkan bantuan berupa beras, bihun, jajanan anak dan obat-obatan ringan. Para penyintas menempati kelas-kelas di SDN 17 Ketol.
Setelah makan siang dan sholat. Kami membagi tim menjadi dua, satu tim menetap di Bur Lah untuk bermain bersama anak-anak, sisanya beberapa orang menyeberang menuju Bintang Pepara.
Target hari itu hanya mengantarkan logistik pangan, sambil mengamati keadaan di sana.
Turun menuju sungai, tempat penyeberangan. Kami menyaksikan bagaimana jembatan besi yang besar itu sudah berpindah posisi.
Yang seharusnya melintang di badan sungai, saat ini menjorok di sudut kanan kami. Ringsek tidak berdaya. Sudah banyak Sling, penyeberangan menggunakan tali, dibuat di sana.
Mungkin ada sekitar 4 tali. Ini yang menggantikan fungsi jembatan, sebagai penyebrangan darurat.
Motor, diseberang dengan Sling, orang-orang, logistik bantuan kami, juga hasil panen berupa cabai dan durian.
Berseliweran, sibuk sekali. Kata warga nanti sore akan lebih sibuk lagi. Saat orang-orang pulang dari kebun.
Menaiki Sling mungkin bukan yang pertama kali kulakukan. Tapi menyeberang sungai dengan peralatan keamanan yang seadanya, ini benar-benar yang pertama. Air masih coklat, dengan arus yang deras.
Sedikit takut, tapi hatiku terusik dengan berbagai gejolak emosi. Marah, sedih, kecewa! Sungguh begitu beratnya masyarakat menjalani hari-hari seperti ini.
Ibu menggendong anaknya melintasi arus sungai. Orang tua, anak-anak. Ini berbahaya! Tapi harus tetap dilakukan. Karena tidak ada pilihan lain.
Di seberang sungai, jelas terlihat sisa-sisa banjir bandang yang turun dari bukit di belakang desa Bur Lah. Sungai kecil yang mengalirkan air gunung itu biasanya dangkal sekali, semata kaki saja.
Tapi saat banjir terjadi, 48 rumah di pinggiran sungai disapu rata. Habis. Gelondongan kayu dan batu besar terhampar sepanjang mata memandang. Tak bisa kubayangkan bagaimana masyarakat desa melihat rumah-rumahannya hancur diterjang bah.
Tidak ada korban jiwa memang, karena saat kejadian, itu sore hari. Mereka sudah mulai berlarian keluar rumah sejak air mulai naik. (Bersambung ke Part II)
*Fauraria Valentine merupakan Tim Relawan Sahabat Safar.

Semangat tim..