
Part II
Perjalanan kami masih panjang, menunggu kendaraan warga dari Buge ara untuk melangsir satu persatu relawan dan logistik.
Di sepanjang 15 menit perjalanan dengan motor itu, aspal jalanan amblas di mana-mana. Hanya motor yang bisa melintasi jalanan. Itulah mengapa distribusi logistik menjadi semakin sulit ke sini.
SMP 12 Buge Ara. Bangunan sekolah ini menjadi lokasi pengungsian warga Bintang Pepara, tujuan kami. Desa mereka masih jauh di atas sana. Tak ada lagi yang mau kembali, 96 KK warga menanti relokasi.
Banyak anak-anak bermain di halaman sekolah, melihat motor kami berhenti, menarik perhatian mereka.
Vest Sahabat Safar yang kami kenakan, sebagai identitas kerelawanan dikejar anak-anak, mereka berebut untuk bersalaman.
Ini pertemuan pertama, tapi kami sudah disambut dengan begitu hangat oleh wajah-wajah polos ini. Ya, kami memang datang untuk kalian, adik-adik!
Beberapa orang langsung melakukan assessment bersama reje dan ibu-ibu di posko. Sisanya bermain bersama anak-anak.
Permainan sederhana saja, bermain yang membuat mereka tertawa, berteriak, berlari dan berinteraksi satu sama lain. Lebih 50 anak hari itu. Semuanya terlihat bersemangat.
Aku yang membersamai para ibu dibuat haru, “Bu, kayak sedih hatiku melihat anak-anak kami bisa main seperti ini!” Dia tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca.
“Banyak yang datang, Bu, tapi hanya sebentar. Mengantarkan bantuan lalu pulang. Tidak ada yang lama bersama kami seperti ini.” Beliau menambahkan.
Memang di tahap awal bencana, tentu semua fokus akan mengarah ke pemenuhan pasokan pangan. Semua orang punya kewajiban untuk memastikan tidak ada penyintas yang kelaparan.
Kami Sahabat Safar hadir, H26 pasca bencana dengan tujuan utama untuk menemui anak-anak. Mereka banyak tersenyum, bertanya dan berceloteh.
Tapi kami tahu, di dalam hati mereka ada rasa-rasa yang menggangu, yang mereka bahkan belum bisa pahami apa artinya.
Anak-anak punya hati yang polos, mudah terikat. Kedatangan yang singkat ini membuat mereka bersedih hati. Waktu menunjukkan pukul 3 sore, kami harus segera turun dan sampai paling tidak waktu ashar di seberang sungai.
Kondisi cuaca masih tak menentu, berbahaya jika terjebak hujan di jalan. Hari itu kami hanya bisa membersamai desa Bintang Pepara selama dua jam. Bintang Pepara berhasil mengikat hati kami.
Menuruni bukit menuju sungai, kami kembali menapaki perjalanan awal dengan berjalan kaki. Satu jam perjalanan yang penuh, sebab energi kami sudah terisi di atas.
Kaki yang terasa letih tak sebanding dengan asa yang kami bawa. Ada tanggungjawab baru yang hadir, saudara kami di Bintang Pepara masih membutuhkan banyak bantuan.
Kami pasti kembali, batinku. Anak-anak itu juga masih butuh teman bermain. Para ibu dan perempuan juga butuh teman bercerita. Mereka butuh energi baru yang masuk, untuk menggantikan kesedihan di hati.
Kalian tidak sendirian, itu apa yang ingin Sahabat Safar bawa. Rasa percaya, bahwa mereka punya banyak saudara yang memperhatikan mereka.
*Fauraria Valentine merupakan Tim Relawan Sahabat Safar.
