Foto WRB: Luluhlantak longsor dan banjir

Hujan kini menjadi teror yang menakutkan paska banjir dan longsor yang meluluhlantakkan, 26 November 2025.

Hujan menjadi pemicu banjir. Banjir membawa serta tanah kuning dari bawah pohon. Lalu, mengaduknya menjadi satu. Batu, kayu. Menjadi bubur lumpur.

Turun dari gunung kebawah. Melumat yang menjadi penghalang laju air permukaan tanah. Rumah, kebun,sawah. Rata.

Membuat aliran air baru dari gunung. Melebarkan sungai menjadi lebih besar 10 sampai 50 kali dari sebelumnya.

Banjir dan longsor kali ini, tak pernah terjadi di era ini. Bahkan dua atau tiga dekade sebelumnya.

Yang tak patut menjadi patut. Yang tak mungkin , sudah terjadi. Menjadi mungkin. Di luar nalar dan akal.

Bekas longsor di bukit dan gunung yang terjal dan curam. Kini menjadi momok menakutkan mana kala hujan tiba. Hujan kecil sajapun menjadi hal menakutkan. Karena air keruh dan banjir , mudah terjadi.

Fakta ini dengan mudah dilihat di One one. Longsor menutup jalan . Banyak yang terjabak karena membuat orang terkurung. Maju kena,mundur kena.

Terdengar juga di Kampung Kenawat, Toweren, Nosar, Rawe, Genuren, Kala Segi, Mendale. Dan semua kawasan longsor dan banjir.

Nurmani Inen Herman di Rawe, setiap kali hujan turun, langsung membungkus kainnya. Dalam satu tempat dari kain sarung. Bukuten. Dia takut dan trauma, banjir datang lagi.

Psikologisnya telah terganggu melihat peristiwa banjir yang dahsyat lalu. Begitu juga para korban lainnya.

Hujan menjadi hal menakutkan,meski telah sebulan lebih berlalu …

Pemerintah dan relawan masih fokus pada penanganan darurat. Memasok sembako dan tempat pengungsian. Membuka akses jalan , jembatan Hingga hunian sementara.

Penanganan pada bukit yang longsor dan sungai, belum tersentuh. Begitu juga pembersihan material longsor pada pemukiman, kebun, sawah.

Semua lokasi bencana telah merubah aliran air. Banyak sungai sungai kecil tertutup longsor dan muncul aliran sungai baru.

Langsung dari gunung ke bawah.

Parahnya, aliran sungai baru yang tegak lurus melewati kampung. Itulah yang kemudian menjadi teror menakutkan , bila hujan tiba, longsor bisa kapan saja kembali datang.

Teungku Haji Muda, Imam Kampung Kala Segi Bintang memberi solusi agara banjir dan longsor susulan , bila terjadi tak masuk kampung.

Caranya, dengan dibuatkan aliran air dari gunung. Saluran ini dibuat lebar dan diberi bronjong.

Aliran yang melewati jalan, tidak lagi hanya dipasang gorong gorong. Tapi dibuatkan jembatan. Karena debit air bisa besar. Jika melihat banjir dan longsor lalu.

Untuk semua itu, Teungku Haji Muda bersedia mewakafkan tanahnya di Kala Segi untuk itu.

Hal yang sama dikatakan Ilham, guru agama di SD 11 Pegasing yang hancur dan hilang dihantam longsor. Menurutnya, aliran air harus dikelola dan diatur. Dibuatkan dari hulu ke hilir. Agar tak liar dan kembali menghantam pemukiman dan fasilitas umum. Jika longsor dan banjir terjadi lagi.

Tampaknya , kedepan Pemda dan Dprk harus mulia berpikir tentang pengelolaan dan solusi dari banjir dan longsor.

Seperti kawasan pemukiman yng harus direlokasi ke tempat ynag aman dari bencana. Membuat aliran sungai baru dan ekosistim yang ramah dan aman bencana.

Ini pekerjaan berat dan lama. Tapi tentu harus dimulai dan berkelanjutan. Karena masyarakat korban bencana harus menata hidup baru.

Dimana sumber utama ekonomi mereka telah rusak dan hancur. Yakni kebun kopi, sawah dan lain lain. Diperlukan waktu hingga 5 – 10 tahun kedepan memulihkan lahan mereka yang tertutup material tanah liat, batu dan kayu.

Meski ada tindakan terhadap kondisi lingkungan mereka. Agar mereka nyaman dan tak takut akan hujan.

Karena selama belum ada usaha merubah aliran air dari pemukiman dan menatanya . Mereka akan selalu takut hujan…

(Win Ruhdi Bathin) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.