
Seladang Cafe 26 November 2025. Sudah lima hari hujan tak henti. Siang dan malam. Sadikin, lebih sering disapa “Gembel” beraktipitas seperti biasa.
Sadikin dan istri Hasanah , pagi itu berada di dapur. Bagian paling utara perkebunan kopi mereka.
Disana, Sadikin biasa ngopi dan santai. Ada saluran air kecil yang disemen disana. Dikin membersihkan salurannya. Begitu kebiasaannya jika hujan. Beberapa meter dari irigasi ini adalah tebing.
Disamping dapur ada tempat meracik kopi arabika gayo. Tempat barista biasa melayani tamu.
Hasanah kemudian mengajak Sadikin kembali kedepan. Disana rumah mereka tinggal. Tak jauh dari jalan. Perasaan Hasanah “tak enak”.
Sadikin mempersilahkan Hasanah pulang lebih dahulu. Dia masih mengaso. Sambil mencekik tembakau berpelintir diantara jemarinya. Menikmati api dan kopi ditungku. Tempat disudut Seladang Cafe ini, favorit Sadikin.
Karena tak jua kembali ke depan, Hasanah meminta seorang karyawannya untuk memanggil Dikin kedepan.
” Ada tamu penting”, begitu pesan Hasanah. Mendengar ada tamu. Sadikin beranjak pergi. Tak lama setelah Sadikin pergi, tebing disamping dapur tempat Sadikin santai,runtuh, longsor. Dan menutup semua area dapur dengan tanah.
Sementara tamu yang disebut Hasanah , sebenarnya tak ada. Selisih Mara. Feeling Hasanah kuat dan Sadikin Bersyukur. Karena bila dia tak pergi dati sana. Dia telah terkubur.
……
Bencana dan Merawat Alam
Sadikin adalah pecinta alam. Konsep seladang Kafe yang dibuatnya berkonsep dari alam. Ngopi di kebun kopi. Disana , Sadikin menanam banyak jenis kayu dan naungan sehingga selaras.
Meski dekat dengan jalan , namun suasana disana tidak bising dengan suara burung dan gemercik air .
“Dari bencana kita belajar tentang pentingnya sebuah pohon”, kata Sadikin , Selasa 13 Januari 2026.
Menurut penerjemah masa rehab dan rekon Aceh paska tsunami ini , pemerintah dan masyarakat serta pengelola wisata harus mulai menanam pohon sebagai antisipasi hadapi bencana serupa di masa depan.
Selain itu, Dataran Tinggi Gayo yang merupakan kawasan pegunungan dan lembah sebagai aliran sungai harus ditata dengan menanam kayu kayu khas.
Kayu khas ini telah dikenal dan ditanam masyarakat gayo sejak dulu karena memiliki perakaran kuat mencengkeram tanah dan batu.
Umumnya kayu jenis Picus. Seperti Gele, Kayu Kul, Kelaping, Pongkeh , Gerupel , Dedalu,dll.
Pemerintah daerah juga harus lebih peduli terhadap mitigasi bencana. Menentukan lahan lahan yang cocok untuk pemukiman, perkebunan, dan lahan yang tidak boleh ditanami.
” Bencana ini harus membuat kita mengoreksi diri terhadap lingkungan”, harap Sadikin.
Sadikin juga memberi apresiasi yang tinggi terhadap semua mereka yang telah mewujudkan lahirnya Bandara Rembele. Karena terbukti, Bandara ini menjadi transportasi udara yang cepat membantu masyarakat yang terkurung akibat banjir dan longsor.
” Mari kita mengirim alfatihah untuk pak Tamy dan mereka yang telah berjasa pada bandara Rembele”, pungkas Sadikin…
(Win Ruhdi Bathin)
