Ketika Kebun Kopi Hilang, Harapan Petani Ikut Terkubur

Dr. Fadli, S.P., M.P. Dok Ist.

Oleh, Dr. Fadli, S.P., M.P.*

Bencana longsor dan banjir yang melanda Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah pada 26 November 2025 tidak hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga menghancurkan sumber kehidupan ribuan petani kopi.

Di balik angka kerusakan dan laporan bencana, tersimpan kisah pilu tentang keluarga-keluarga yang kehilangan harapan masa depan.

Hamparan kebun kopi yang selama puluhan tahun menjadi sandaran hidup kini telah berubah menjadi tanah longsor.

Pohon-pohon kopi yang dulu menjadi saksi perjuangan petani dari membiayai dapur, sekolah, hingga kuliah anak-anak kini lenyap terseret tanah dan air.

“Kalau kopi kami hilang, dari mana lagi kami hidup?” ucap seorang petani dengan suara bergetar. Kalimat sederhana itu mencerminkan jeritan kolektif masyarakat Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Bagi petani Gayo, kopi bukan sekadar komoditas ekonomi. Kopi adalah identitas, warisan, dan masa depan.

Setiap biji kopi adalah hasil kerja keras, doa, dan harapan. Ketika kebun kopi hilang, yang runtuh bukan hanya lahan, tetapi juga rasa aman dan kepastian hidup.

Bantuan Ada, Tetapi Tidak Menjawab Luka Jangka Panjang

Pasca bencana, bantuan logistik memang berdatangan. Beras, mie instan, dan kebutuhan dasar lainnya membantu petani bertahan dalam satu hingga dua bulan pertama. Namun, bantuan tersebut tidak mampu menggantikan hilangnya mata pencaharian.

Kini para petani menghadapi dilema yang jauh lebih berat. Banyak dari mereka masih memiliki utang kepada pengumpul kopi desa. Harapan untuk melunasi utang dari hasil panen tahun ini pupus seketika.

Tanpa kebun, tanpa panen, dan tanpa pendapatan, mereka terjebak dalam lingkaran ketidakpastian ekonomi.

Lebih menyedihkan lagi, lahan yang terkena longsor tidak dapat langsung ditanami kembali. Dibutuhkan waktu minimal satu hingga dua tahun agar tanah kembali stabil dan aman untuk ditanami kopi.

Artinya, dalam kurun waktu tersebut, petani harus bertahan tanpa sumber pendapatan utama.

Pemulihan Ekonomi Rakyat Dari Bertahan Hidup Menuju Bangkit

Situasi ini menuntut perhatian serius dan pendekatan yang lebih manusiawi. Pemulihan ekonomi rakyat tidak cukup hanya dengan bantuan darurat, tetapi harus dirancang secara bertahap dan berkelanjutan.

Dalam jangka pendek, bantuan logistik tetap dibutuhkan agar keluarga petani dapat bertahan. Namun dalam jangka menengah, petani perlu diarahkan pada usaha hortikultura seperti cabai, bawang, kol, kentang, dan sayuran lainnya yang mampu memberikan penghasilan bulanan.

Sementara itu, untuk jangka panjang, harapan petani tetap tertuju pada kembalinya kebun kopi.

Karena itulah, persiapan harus dimulai dari sekarang. Pembibitan kopi, alpukat, dan tanaman konservasi seperti lamtoro sangat penting agar ketika lahan sudah layak tanam, petani tidak lagi memulai dari nol.

Para donatur dan pihak yang peduli dapat berperan sejak hari ini bukan dengan menanam di lahan yang belum siap, tetapi dengan menyiapkan bibit dan sarana produksi untuk masa depan petani.

Seruan Nurani untuk Aceh Tengah dan Bener Meriah

Bencana ini adalah pengingat bahwa di balik secangkir kopi yang kita nikmati, ada kehidupan petani yang sangat rapuh ketika alam murka.

Petani Aceh Tengah dan Bener Meriah tidak meminta belas kasihan, tetapi kesempatan untuk bangkit dan bekerja kembali.

Sudah saatnya perhatian publik, pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan para dermawan bersatu dalam satu tekad:
mengembalikan harapan petani kopi, memulihkan ekonomi rakyat, dan menjaga masa depan generasi Gayo.

Karena ketika kebun kopi hilang, yang dipertaruhkan bukan hanya ekonomi tetapi martabat dan masa depan sebuah masyarakat.

Uluran tangan Anda hari ini bukan sekadar bantuan, tetapi investasi kemanusiaan: menjaga dapur tetap berasap, anak-anak tetap bersekolah, dan petani kembali bekerja dengan martabatnya.

Karena bagi petani Gayo, menanam kopi berarti menanam masa depan. Dan masa depan itu kini sangat bergantung pada kepedulian kita bersama.

* Penulis merupakan Dosen Fakultas Pertanian Universitas Gajah Putih (UGP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.