Kopi Pahit Pak Wiknyo

Pak Wiknyo (Foto: Wrb)

Hari itu Jumat 16 Mai 2025. Pak Wiknyo memintaku menemaninya ke Kala Segi Bintang. Untuk mengambil batang atas alpukat yang akan disambungnya.

Alpukat dari kawasan Selatan Danau Luttawwar ini terkenal rasa enaknya. Ditambah ukuran besar. Kami mengambil entres ini dari kebun Bahtiar Gayo. Seorang jurnalis senior yang masih aktip.

Tehnik sambung pucuk ini diharapkan akan menghasilkan perbanyakan bibit unggul secara vegetatif. Dan umur panen yang cepat.

Tiba di Kala Segi , kami mengambil batang atas alpukat. Namun, pak Wiknyo kehilangan parangnya. Tinggal sarungnya dalam tas plastik yang terbuat dari karung bekas beras.

Berusaha mencari, tapi parang itu, tak jua ditemukan. Pak Wiknyo, sering kehilangan parang atau pisaunya. Cara hilangnya begitu cepat dan tak masuk akal.

Setelah dirasa cukup. Kami pulang.
Pak Wiknyo adalah ahli pertanian. Bekerja sebagai penyuluh pertanian hingga pensiun. Di rumahnya kawasan Paya Tumpi, jeruk okulasi , kopi dan alpukat memenuhi halaman rumahnya.

Pak Wiknyo juga ketua MPIG Keprok Gayo. (Masyarakat Perlindungan Indikasi Geograpis) . Keprok Gayo adalah jeruk khas Gayo,endemik.

Tak lama tiba dirumahnya, dua gelas kopi arabika gayo disajikan keponakannya, dalam gelas duralex. Oleh keponakannya, pak Wiknyo disapa Ayah.

Pak Wiknyo dengan Kopi Hitamnya (Foto: Wrb)

Kopi dalam gelas duralex itu masih berasap saya kuteguk. Suhunya mencapai 90 derajat. Pahitnya memenuhi semua rongga penyecapku.

Aku mengernyitkan dahi.
Pak Wiknyo yang kini sepuh, membuka cerita. Sumber daya alam gayo begitu beragam, kaya dan unggul.

Namun peran pemda belum sampai kesana. Artinya, pemda tidak melihat produk pertanian unggul ini dikelola dan dijadikan sumber uang.

Semuanya masih berdasarkan kemampuan petani dan rakyat seadanya. Padahal ini potensi luar biasa.

Salah satu contohnya adalah alpukat Kelitu yang terkenal. Diceritakan, dulu, dibawah era 70-80. Aceh Tengah merupakan sumber daya manusia unggul.

Di Takengon sekolah guru berkembang pesat hingga banyak guru dari Takengon dikirim ke luar negeri. Seperti Timur Tengah dan Malaysia.

Di Indonesia, guru dari Takengon pernah dikirim ke Jawa Barat, Riau hingga Kalimantan dan Papua.
“Saat itu peran pemerintah begitu kuat dan visioner. Pemerintah bekerja baik dan benar. Tidak berharap kaya”, tegasnya.

Sekolah sekolah itu seperti SGB, SGA SPG,PGA, SKP dan lainnya. Kini semua sekolah itu tak ada lagi. Aceh Tengah benar benar kaya Sdm kala itu.

Pak Wiknyo juga menilai kawasan wisata Danau tak dikelola dengan baik. Peran pemda tidak terlihat disana. Sehingga tidak ada standar yang sama. Semua terserah pengelola.

Warga lokal yang mengelola warung atau kafe terlihat sederhana. Terserah yang mengelola warung, bentuk dan gaya warungnya. Idealnya, hal ini diseragamkan. Warga diberi pelatihan san dibantu membangun usahanya. Sehingga terlihat rapi dan indah.

Mimpi yang Tak Pernah Wujud

Begitu juga kebun buah unggul gayo. Sudah lama pak Wiknyo mengusulkan pemda membuat kebun buah unggul. Kebun ini jadi percontohan dan tempat wisata yang banyak dikunjungi.

Wisatawan bisa memetik buah unggul gayo langsung di kebun. Seperti Alpukat Gayo, jeruk Keprok Gayo, Kelele, pisang dll.

Idealnya kebun wisata gayo itu dibuat di seputaran danau. Sehingga mudah diakses dengan bonus pemandangan. Namun berkali kali usulan ini tak pernah wujud. Dari satu bupati ke bupati berikutnya.

Ingin sekali pak Wiknyo membuat kebun buah unggul ini sendiri. Namun kemampuan finansialnya tak ada.
Namun di halaman rumahnya di Paya Tumpi, pak Wiknyo merealisasikan mimpinya ini. Meski skala kecil.

Aku tercekat mendengar kisah pak Wiknyo. Kopi yang disuguhkannya terasa semakin pahit. Tidak ada pula gula disediakannya.

Meski tak lagi panas, kopi pahit pak Wiknyo begitu sulit melewati kerongkonganku. Jika saja saya milyuner. Betapi ingin kuwujudkan mimpi pak Wiknyo. Kebun buah unggul Gayo.
Ratusan orang akan datang dan memetik buahnya. Dan itu sumber pasti Pendapatan Asli Daerah…akh..

Gayo Kaya sumer daya alam. Sayang kokinya tak pandai memasak. Cuma bisa orasi dan makan dari Apbk. (Win Ruhdi Bathin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.