
Redelong| Lintasgayo.com – Kasus dugaan sodomi terhadap seorang anak laki-laki usia sekolah oleh tiga pria, salah satunya diduga seorang oknum guru, telah mengguncang rasa aman Masyarakat Aceh khususnya Bener Meriah. Kejahatan ini bukan hanya tindak kekerasan seksual terhadap anak, melainkan juga pengkhianatan terhadap amanah pendidikan dan kepercayaan publik.
Selama ini, banyak orang tua lebih waspada terhadap anak perempuan. Namun kenyataan pahit menunjukkan bahwa anak laki-laki pun rentan menjadi korban. Kejahatan seksual tidak mengenal jenis kelamin, dan pelaku bisa datang dari kalangan yang selama ini justru dipercaya: pendidik, tokoh masyarakat, bahkan kerabat dekat.
Lebih mengkhawatirkan, perilaku menyimpang seperti ini bisa jadi tidak berhenti pada satu kasus. Bisa saja, tanpa kita sadari, ada praktik serupa yang menyusup ke lembaga pendidikan lainnya. Ini bukan untuk menuduh secara sembrono, tapi untuk mengajak semua pihak bersikap waspada. Lembaga pendidikan harus menjadi tempat paling aman, bukan tempat predator bersembunyi.
Pemerintah daerah, dinas Pendidikan/cabang dinas Pendidikan (Cabdin), dan institusi sekolah perlu melakukan pembenahan menyeluruh. Sistem pengawasan internal harus diperkuat. Perlu juga ada mekanisme pelaporan yang ramah anak dan tidak menyulitkan korban untuk bersuara. Seluruh tenaga pendidik wajib menjalani asesmen moral secara berkala, tidak hanya administratif.
Di sisi lain, orang tua juga perlu membangun komunikasi yang terbuka dengan anak. Ajari anak mengenali batasan tubuh, hak untuk berkata tidak, dan keberanian untuk melapor jika mengalami sesuatu yang membuat mereka tidak nyaman.
Sudah saatnya kita sadar, bahwa menjaga anak-anak kita bukan hanya soal memberi makan dan menyekolahkan, tapi juga memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang aman dan bermartabat.
Salam Semah Lintas Gayo.
