Topeng Kelabu Serigala Berbulu Tengku

Ilustrasi. Dok. Internet/edit

Bagian I

Sebut saja Nur (bukan nama sebenarnya) gadis muda belia yang baru saja lulus dari sebuah Pesantren ternama di Sumatera Utara.

Meski masih muda Nur sudah aktif mengajar Al-Quran, kesehariannya berbagi ilmu agama. Mondok, sudah jadi bagian tak terpisahkan dari kehidupannya.

Namun semua berubah saat pondok yang ia pikir adalah rumah kedua, menjelma menjadi tempat yang akhirnya menulis luka dan trauma.

Nur tak ingin percaya, seseorang yang ia anggap sebagai pembimbingnya dijalan agama, menodai martabatnya sebagai wanita.

Kisah ini bermula saat Nur bertemu teman sepantarannya, Ramu (bukan nama sebenarnya). Ramu lah yang merekomendasikan Nur untuk mengajar Tahfidz di pesantren milik saudaranya.

Awalnya Nur sudah sempat mengajar disebuah pesantren modern cukup ternama, namun karena ingin fokus mengamalkan ilmu ia mencari pesantren yang fokus mengajarkan Tahfidz kepada santrinya.

Singkat cerita, Juli 2024 tibalah Nur disebuah desa. Tempat yang indah dipandang mata, hawanya sejuk, anginnya dingin, membuat Nur yang baru tiba sulit untuk terbiasa.

Di desa yang disebut-sebut sebagai penghasil kopi terbaik dunia itulah Nur akhirnya menetap untuk mengajar, di pondok pesantren kecil yang jauh dari bisingnya kota.

Setibanya disana, Nur bertemu pimpinan pondok yang ternyata masih lumayan muda. Sebut saja Mahli (bukan nama sebenarnya), pria yang gagah dan paham agama.

Mahli sudah beristri, dan buah hati. Suaranya merdu saat mengaji dan dihormati sebagai pemuka agama di desa sekitar Pondok miliknya.

Nur yang saat itu masih berumur 19 Tahun sama sekali tidak curiga, Lelaki yang ia lihat mengenakan jubah putih dan sorban itulah yang akan menyayat luka pada harga dirinya.

Bagi Nur, semua tampak berjalan normal. ia terus menjalankan kesehariannya mengajar santri. sembari sesekali bercengkrama dengan warga sekitar.

Di pesantren itu Nur bertemu A’al (bukan nama sebenarnya) pria dewasa yang sering bercengkrama dengannya dan berbagi cerita. A’al dan Mahli merupakan saudara.

Semuanya berjalan sebagaimana biasanya, sebelum semua berubah pada 21 April 2025, Pukul 20.00 Wib.

Nur sedang bersiap menuju Mushola, sebelum di panggil oleh Mahli untuk mengecek kasur milik santri pria. Nur yang tidak curiga apa-apa berjalan menuju bilik santri pria.

Ruang sempit itu agak gelap dan sepi ditinggal penghuninya menuju Mushola, Nur yang sedang melihat-lihat kasur, kaget tiba-tiba didorong oleh Mahli yang ada dibelakangnya.

Ia berusaha melawan tapi badannya kaku, bibirnya kelu, hanya air mata dan isak tangis yang menggema.

Mahli terus berupaya menuntaskan hasratnya, menyikap mukena putih Nur yang sudah tidak banyak berdaya. Beruntung, tangis Nur yang pecah sejadi-jadinya membuat Mahli membatalkan niatnya.

Nur berlari, ia langsung masuk ke bilik santriwati. Nur tidak tau harus mengadu kepada siapa, orang tuanya jauh, ia anak rantau.

Nur diam terpaku, menolak percaya apa yang terjadi pada dirinya. Nur sempat ingin mengakhiri hidupnya, namun ia urungkan karena mengingat orang tuanya.

Dua hari setelah kejadian itu, Nur sempat menuliskan isi hatinya di platform media sosial miliknya, tulisan itu ;

“Semenjak kejadian dua hari silam, aku seperti orang linglung. Tidak tau arah dan menyalahkan diri sendiri. Trauma pada suatu kejadian, sehingga membuat bekas yang sangat sukar untuk dilupakan. Pikiran ini berkecamuk, isi kepala terlalu berisik..

Haruskah aku Speak Up? tentang semua kejadiannya? kata-kata itu yang terus terngiang-ngiang dalam benak dan pikiran.

Tapi disisi lain, aku takut jika aku yang akan disalahkan, takut namaku menjadi jelek, takut melukai perasaan orang yang aku sayang, takut bila aku seolah adalah pelaku. Padahal, akulah korban dibalik cerita ini.

Duduk terdiam di sudut ranjang sambil menangisadalah jalanku saat ini. Dengan ketakutan yangamat dalam, aku pengen menghilang dan pergidari semua orang.

Aku ingin cerita, tapi aku juga gak tahu mau ceritake siapa? Aku gak tahu harus mulai dari mana jikamenceritakannya. Siapa orang yang harus kupercaya?

Kalau orang bilang, “Kenapa tidak cerita ke ayah dan ibu?” Sebenarnya bukan tidak ingin cerita, tapi tak semua orang tua bakal bisa menjadi pelindung atas ketakutan anaknya.

Tidak semua orang tua bisa menjamin kenyamanan itu. Entahlah, sesak sekali dada ini apabila teringat akan momen mengerikan itu,” tulis Nur Kamis 24 April 2025, 09.52 Wib.

Cerita ini akan bersambung di Salam Semah Edisi Senin 7 Juli 2025 – Bagian II.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.