Pelajar Sakit di Pakistan Ternyata Anak Korban Konflik Aceh, Ibunda Inginkan Anaknya Pulang

Pelajar di Karachi, Pakistan Noprizal Putra. Ist

 

Takengon|Lintasgayo.com – Noprizal Putra (27), santri asal Aceh Tengah yang saat ini menuntut ilmu agama di Karachi, Pakistan, dikabarkan mengalami penurunan kondisi kesehatan dan kesulitan ekonomi. Ibundanya, Susilawati, memohon bantuan dari berbagai pihak agar anaknya dapat dipulangkan ke tanah air untuk mendapatkan pengobatan yang layak.

Permintaan bantuan tersebut disampaikan Susilawati melalui sebuah video berdurasi hampir dua menit yang beredar luas di media sosial dan grup WhatsApp warga Gayo sejak dua hari terakhir.

Susilawati merupakan warga Kampung Bintang, kecamatan Bintang yang kini tinggal di Simpang Belgia,  Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah, dan istri dari almarhum Busran, korban konflik Aceh. Dalam keterangannya, ia mengatakan bahwa semangat anaknya untuk menuntut ilmu agama sudah tumbuh sejak kecil.

Noprizal mengawali pendidikan di Raudhatul Athfal (TK) Bintang Fajar, kemudian melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Negeri Bintang dan lulus pada 2013. Setelah itu, ia menimba ilmu di sejumlah pesantren, di antaranya di Arul Gading (Bener Meriah), Karang Rejo (Bukit, Bener Meriah), dan Magelang, Jawa Tengah.

Susilawati, Ibu dari pelajar di negara Pakistan yang dilaporkan mengalami sakit.

“Keinginannya untuk memperdalam ilmu agama sangat besar. Meski ekonomi kami pas-pasan, dia tetap semangat. Alhamdulillah, Baitul Mal Aceh Tengah pernah membantu tiga kali, dengan total bantuan sekitar Rp5,5 juta,” ujar Susilawati.

Pada 2022, Noprizal berangkat ke Karachi bersama beberapa temannya dengan bantuan para ustaz dan rekan-rekannya. Di sana, ia berjuang mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan dengan berjualan stiker dan kalender.

Namun, kondisi kesehatannya yang tidak stabil menjadi kendala. Ia pernah menjalani operasi usus lipat pada 2017 dan hernia pada 2020. Kini, gangguan kesehatannya kembali kambuh akibat pola makan tidak teratur dan kondisi hidup yang terbatas.

“Dia sering sakit. Kami putuskan sebaiknya dia pulang saja. Di sini bisa berobat pakai BPJS, bisa lanjut belajar, dan mungkin sambil mengajar untuk bantu biaya hidup,” tutur sang ibu.

Keluarga berharap adanya bantuan dari pemerintah daerah, lembaga sosial, dan masyarakat luas untuk memfasilitasi pemulangan dan pengobatan Noprizal. Komunikasi juga telah dilakukan dengan beberapa pihak, termasuk World Gayonese Community (Diaspora Gayo Dunia).

Yusradi Usman. Ist

Menanggapi hal itu, Yusradi Usman al-Gayoni, tokoh Diaspora Gayo Dunia yang kini berdomisili di London, membenarkan bahwa ia telah berkomunikasi dengan Susilawati sejak 13 Agustus 2025.

“Melihat tekad anaknya yang luar biasa untuk belajar hingga ke luar negeri, di tengah keterbatasan ekonomi, patut kita apresiasi dan bantu,” ujar Yusradi saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Senin (19/08/2025).

Sebagai tindak lanjut, ia menyarankan Susilawati mengajukan bantuan ke Baitul Mal Kabupaten Aceh Tengah. Yusradi mengaku telah berkoordinasi langsung dengan Ketua Baitul Mal, Azkia Umar, serta sejumlah komisioner seperti Azhar Aziz, Fakhruddin Cibro, dan Uun Fajaruna pada 14 Agustus 2025.

Jika nantinya Baitul Mal tidak dapat memberikan bantuan karena keterbatasan anggaran, Diaspora Gayo Dunia menyatakan siap membuka penggalangan dana (eteng-eteng iyak) untuk membantu proses pemulangan dan pengobatan Noprizal.

“Kami juga mulai menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk di Pakistan. Mohon doa masyarakat agar semua proses berjalan lancar,” tutup Yusradi. (LG07)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.