Workshop Alam Dan Budaya : Mengenal Kebudayaan, Menyelamatkan Gajah

Wakil Bupati Aceh Tengah, Muchsin Hasan saat foto bersama. Dok Siera Studio.

Takengon | Lintasgayo.com – Meredam konflik gajah dan manusia di Kabupaten Aceh Tengah menjadi salah satu tugas Pemerintahan Aceh maupun Indonesia yang sampai saat ini masih berlangsung.

Dilansir dari gerindra.id, World Wide Fund for Nature (WWF) meminta Presiden Prabowo Subianto untuk menyediakan 10.000 hektar lahan di Aceh sebagai wilayah konservasi gajah.

Permintaan ini disampaikan oleh WWF saat Presiden Prabowo melakukan kunjungan kerja ke Inggris beberapa waktu lalu, tepatnya saat pertemuan dengan Raja Charles III.

Menanggapi permintaan itu, Prabowo tidak hanya menyetujui, tetapi malah menawarkan lebih dari yang diminta. Prabowo bersedia menyediakan 20.000 hektar lahan miliknya sendiri untuk tujuan konservasi gajah.

Untuk itu, Teuku Aga Renggali, mengadakan workshop terkait gajah dan budaya. Acara yang dilaksanakan di Nusantara cafe, Aceh Tengah, Kamis (21/8/2025).

Tampilan Tari Guel. Dok Siera Studio.

Acara ini dibuka oleh Wakil Bupati Aceh Tengah, Muchsin Hasan. Workshop ini juga menghadirkan pemateri dari kalangan budayawan, akademisi, serta pemerhati lingkungan yang akan membahas bagaimana nilai-nilai Tari Guel dapat menginspirasi solusi dalam menangani konflik gajah.

Dengan format diskusi panel interaktif. peserta tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga dapat berpartisipasi aktif dalam bertukar gagasan.

Ada beberapa pemateri yang akan mengisi acara tersebut, Ahli Lingkungan akan diisi oleh Zulfikar Ahmad, untuk memaparkan urgensi Interaksi manusia-gajah di Gayo.

Selanjutnya Budayawan Gayo, Drs. H. Ibnu Hadjar Laut Tawar akan menjelaskan Sejarah Interaksi Manusia dengan Gajah di Tanah Gayo.

Kemudian, BKSDA Aceh akan menjelaskan arah kebijakan & dukungan serta kondisi Gajah Hari ini. Praktisi Konservasi (WWF/FKGI) – (Fitria Edhy) Menjelaskan Pandangan, strategi, dan pendekatan ruang kolaborasi.

Balai Pemajuan Kebudayaan Aceh (BPK) menjelaskan tentang amanah undang undang no 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan indonesia (Aceh –Gayo) ke mata Dunia.

Disamping itu, ketua pelaksana, Teuku Aga Renggali, menyampaikan bahwa Tari Guel bukan sekadar tarian tradisi. Ia adalah warisan budaya masyarakat Gayo yang sarat makna, merefleksikan harmoni antara manusia, alam, dan gajah.

Dalam setiap gerakannya, lanjut Aga, Tari Guel menyimpan pesan mendalam: menjaga keseimbangan hidup bersama, tanpa merusak yang lain. Filosofi inilah yang kini kembali diangkat untuk menjawab persoalan nyata: konflik gajah dan manusia di Aceh.

“Untuk itu, digelar Workshop “Melindungi Kebudayaan, Menyelamatkan Gajah: Memahami Filosofi Tari Guel dalam Menjawab Permasalahan Konflik Gajah”, sebuah ruang belajar sekaligus dialog interaktif yang menyatukan perspektif budaya dan konservasi”, sebutnya.

“Melalui workshop ini, kita ingin menunjukkan bahwa kearifan lokal tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga dapat menjadi jawaban untuk permasalahan lingkungan yang kita hadapi hari ini,” ungkap panitia pelaksana. (Iqoni RS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.