SPIRITUAL RELOAD: Al-Qur’an sebagai Mukjizat dan Kompas Bagi Langkah yang Tersesat

Arkiandi. Dok. Ist

Oleh: Arkiandi, ST, CGCAE*

Mukjizat para nabi selalu memukau manusia dari masa ke masa. Nabi Isa ‘alaihissalam menghidupkan orang mati. Nabi Musa ‘alaihissalam membelah lautan, Nabi Sulaiman ‘alaihissalam mampu memerintah angin, berdialog dengan binatang, dan menguasai bangsa jin.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bahkan dibakar api, namun tak sedikit pun tubuhnya terbakar.

Semua itu luar biasa visible miracles, mukjizat yang terlihat oleh mata manusia.

Namun, di antara mukjizat para nabi itu, ada satu yang tampak “berbeda.” Nabi terakhir, Muhammad ﷺ, tidak diberi mukjizat yang dapat dilihat mata. Beliau justru diberi sesuatu yang dapat didengar yaitu Al-Qur’an.

Di zaman Rasulullah ﷺ, Al-Qur’an belum berbentuk mushaf. Wahyu tidak hadir sebagai tulisan, tetapi sebagai suara yang disampaikan oleh Nabi, didengar oleh sahabat, dihafal, lalu diulang dengan lisan kepada generasi berikutnya.

Maka, sejak awal, mukjizat Al-Qur’an bersifat auditory, bukan visual.
Mari kita berpikir sejenak. Bayangkan kita hidup di masa Bani Israil, menyaksikan sendiri Nabi Musa membelah laut merah.

Tentu pemandangan itu menakjubkan, mengguncang iman, bahkan membuat kita ingin menceritakannya pada anak cucu.

Tapi, apa yang terjadi seratus tahun kemudian? Cerita itu berubah bentuk dari pengalaman nyata menjadi sekadar kisah yang didengar.

Dari visible menjadi auditory. Dari yang bisa dilihat menjadi yang hanya bisa diceritakan. Anak-anak kita kemudian bertanya, “Mana buktinya laut terbelah?”

Dan di situlah batas mukjizat yang visible, ia berakhir bersama saksi mata yang menyaksikannya. Mukjizat seperti itu memiliki masa berlaku. Begitu peristiwa selesai, keajaiban pun menjadi narasi.

Namun Al-Qur’an berbeda. Mukjizat ini tidak bergantung pada ruang dan waktu. Ia tidak pernah “selesai.” Sejak awal hingga kini, ia tetap bisa didengar, dibaca, dan dibuktikan kebenarannya.

Itulah sebabnya dalam Islam, mukjizat terbesar bukanlah peristiwa yang dapat dilihat, tapi pesan itu sendiri. “The miracle is the message itself.”

Al-Qur’an bukan sekadar kumpulan kata. Ia adalah simfoni bahasa yang tak mungkin ditiru. Keindahan struktur gramatikalnya, ritme, dan makna yang saling mengikat melampaui kemampuan manusia mana pun.

Bahkan para ahli bahasa Arab klasik musuh-musuh Islam pada masa Rasulullah ﷺ mengakui bahwa tak ada satu pun karya sastra yang bisa menandingi gaya bahasanya. Itulah sebabnya Al-Qur’an menantang:

“Dan jika kamu ragu-ragu terhadap (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat yang semisal dengannya, dan panggil lah saksi-saksi kamu selain Allah jika kamu orang-orang yang benar.”
(QS. Al-Baqarah: 23)

Selama 14 abad, tantangan itu tak pernah terjawab. Karena Al-Qur’an bukanlah karya manusia, ia adalah bahasa Sang Pencipta, Allah Swt.

Keajaiban Al-Qur’an bukan hanya dalam bahasanya, tetapi juga dalam kebenaran ilmiah yang kini terbukti oleh penelitian modern. Beberapa di antaranya:

1. Asal Usul Kehidupan dari Air

“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.” (QS. Al-Anbiya: 30)

Penelitian ilmiah membuktikan bahwa air adalah unsur penting bagi kehidupan. Harold Urey dan Stanley Miller dalam Journal of Science (1953) menunjukkan bahwa kehidupan biologis tidak mungkin terbentuk tanpa keberadaan air.

Penemuan ini menegaskan apa yang telah dinyatakan Al-Qur’an berabad-abad sebelumnya.

2. Ekspansi Alam Semesta

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan Kami, dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”
(QS. Adz-Dzariyat: 47)

Ilmuwan Edwin Hubble menemukan pada tahun 1929 bahwa galaksi-galaksi bergerak saling menjauh, menunjukkan bahwa alam semesta sedang mengembang.

Fakta ini dikenal sebagai the expanding universe, dan diabadikan dalam buku The Nature of the Universe karya Sir Arthur Eddington (1933).

3. Embriologi Manusia

“Kemudian Kami jadikan air mani itu segumpal darah, lalu segumpal daging, kemudian Kami jadikan tulang, lalu Kami bungkus tulang itu dengan daging.”
(QS. Al-Mu’minun: 14)

Profesor Keith L. Moore, pakar embriologi dari University of Toronto, dalam bukunya The Developing Human: Clinically Oriented Embryology, menyatakan bahwa deskripsi Al-Qur’an tentang proses penciptaan manusia sangat akurat dan tidak mungkin diketahui pada abad ke-7.

4. Gunung Sebagai Penstabil Bumi

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung sebagai pasak agar bumi itu tidak goncang bersama mereka.”
(QS. Al-Anbiya: 31)

Penelitian geologi modern, sebagaimana dipaparkan oleh Frank Press (Presiden Akademi Sains Amerika Serikat) dalam buku Earth: Its Structure and Processes, menunjukkan bahwa gunung memiliki akar yang dalam dan berfungsi menstabilkan kerak bumi.

Semua ini menunjukkan satu hal, Al-Qur’an bukan sekadar kitab bacaan, tapi kitab kebenaran. Ia berbicara kepada akal, menegur hati, dan menantang sains.

Ia hidup, dibacakan lima kali sehari di seluruh penjuru dunia, dan tetap relevan dari padang pasir Arab hingga ruang laboratorium modern.

Mukjizat para nabi terdahulu berakhir dengan waktu, namun mukjizat Al-Qur’an terus hidup di setiap telinga dan hati yang mendengarnya.

Ketika manusia modern haus makna di tengah hiruk-pikuk teknologi, Al-Qur’an hadir sebagai panggilan untuk kembali. Bukan hanya untuk dibaca, tapi dipahami, direnungkan, dan dihidupkan dalam kehidupan.

Inilah saatnya bagi setiap insan untuk melakukan Spiritual Reload menyalakan kembali iman yang mungkin telah meredup. Karena mukjizat terbesar itu bukan di masa lalu, tapi di genggaman kita hari ini.

Pada akhirnya, kita akan menyadari bahwa mukjizat terbesar bukanlah lautan yang terbelah, bukan pula api yang menjadi dingin melainkan firman yang hidup, yang menembus ruang dan waktu, berbicara kepada hati setiap manusia.

Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang dilafalkan di bibir, tapi cahaya yang menghidupkan akal, menentramkan jiwa, dan menuntun langkah manusia menuju kebenaran.

Selama dunia masih berputar, selama manusia masih mencari makna, mukjizat itu tidak akan pernah padam, karena ia bukan benda, melainkan pesan Tuhan yang kekal.

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)

*Penulis merupakan seorang ASN di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Bener Meriah.
** Kolumnis Lintasgayo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.