
Oleh, Teguh Hapit Maulana*
Di tengah derasnya arus digitalisasi yang melanda berbagai sektor, dunia pendidikan juga tak luput dari perubahan yang cukup signifikan.
Teknologi kini menjadi bagian integral dalam proses pengajaran dan pembelajaran.
Namun demikian, muncul pertanyaan penting: apakah teknologi bisa menggantikan peran seorang guru?
Saya berpendapat bahwa teknologi memang memberi banyak peluang, tetapi guru tetaplah elemen kunci yang tak tergantikan dalam pembelajaran berbasis teknologi.
Pertama-tama, teknologi memperluas akses dan variasi metode pembelajaran. Dengan kehadiran platform digital, video interaktif, aplikasi kuis online, dan perangkat mobile, siswa dapat belajar kapan saja dan di mana saja.
Ini sangat membantu terutama di wilayah yang sebelumnya terbatas fasilitasnya. Guru di era ini dapat memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran yang lebih menarik dan dinamis.
Dengan demikian, perannya bergeser dari “pemberi semua materi” menjadi “fasilitator dan pengarah” proses belajar siswa.
Namun, bergeser saja peran guru tidak berarti menjadi kurang penting. Justru, guru memiliki tugas yang makin kompleks: menjadi mediator antara teknologi dan siswa.
Tanpa bimbingan guru, teknologi bisa saja tersebar tanpa arah—siswa mungkin memiliki akses ke banyak informasi, tetapi belum tentu mampu memilah yang benar atau relevan.
Guru perlu membantu siswa mengembangkan kompetensi literasi digital, yakni kemampuan menilai, memilih, dan menggunakan sumber informasi secara bijaksana.
Selanjutnya, teknologi seringkali menuntut perubahan dalam gaya pembelajaran—from teacher-centred ke learner-centred.
Guru dituntut merancang pengalaman belajar yang lebih aktif dan partisipatif: siswa bukan hanya menerima, tetapi juga mengeksplorasi, bertanya, berdiskusi, dan menciptakan.
Teknologi menjadi alat yang memperkuat proses ini, guru merancang bagaimana alat itu digunakan, menyesuaikan dengan karakter siswa, memastikan bahwa hasil belajar bukan hanya “teknologi digunakan” tetapi “belajar meningkat”.
Dengan demikian, peran guru sebagai inovator sangat penting: memilih alat, mengatur konteks, dan mengevaluasi efektivitasnya.
Selain fungsi teknis dan pedagogis, guru juga membawa unsur kemanusiaan yang tak bisa digantikan oleh sekadar perangkat digital.
Empati, motivasi, penguatan moral, serta pembentukan karakter siswa adalah hal-hal yang masih sangat membutuhkan interaksi langsung, pengamatan, dan penilaian guru.
Teknologi mungkin membantu menyampaikan konten, tetapi sentuhan manusia tetap penting agar pembelajaran menjadi menyeluruh — tidak hanya aspek kognitif tetapi juga afektif dan sosial.
Di sisi lain, terdapat tantangan nyata yang harus dihadapi. Salah satunya adalah kesiapan guru dan sekolah dalam menghadapi teknologi: infrastruktur, pelatihan, dukungan teknis, dan mindset.
Banyak guru yang masih merasa kurang percaya diri menggunakan teknologi atau belum mendapatkan pelatihan memadai. Hal ini berpotensi membuat teknologi hanya “alat tambahan” yang digunakan secara minim atau bahkan kurang efektif.
Oleh karena itu, pengembangan profesionalisme guru dalam teknologi sangat penting: guru harus terus belajar, beradaptasi, dan berpikiran terbuka terhadap metode baru.
Tantangan lain adalah risiko bahwa teknologi digunakan secara “pasif” — siswa menjadi penerima pasif melalui video atau aplikasi tanpa interaksi yang bermakna.
Di sini peran guru kembali muncul: memastikan bahwa teknologi bukan hanya “ditonton” atau “diakses” saja, tetapi diintegrasikan dalam proses pembelajaran yang aktif, kritis, dan reflektif.
Guru harus mendesain aktivitas yang memanfaatkan teknologi dengan cara yang memicu berpikir, kolaborasi, dan penerapan pengetahuan.
Melihat masa depan, peran guru dalam teknologi pembelajaran akan semakin strategis.
Dengan tuntutan abad ke-21 seperti literasi digital, kolaborasi global, berpikir kritis, kreativitas, dan kewirausahaan, guru bukan hanya mengajarkan konten tetapi juga mengarahkan siswa agar siap menghadapi dunia yang cepat berubah.
Teknologi menjadi jembatan menuju dunia tersebut, namun gurulah yang membawa kompas arah: membantu siswa memilih jalur yang tepat, membangun karakter tangguh, dan memanfaatkan peluang secara bijak.
Kesimpulannya, teknologi dalam pembelajaran merupakan peluang besar, tetapi bukan pengganti guru. Peran guru dalam teknologi pembelajaran mencakup menjadi fasilitator, pembimbing literasi digital, inovator pembelajaran, serta pembentuk karakter.
Guru yang mampu mengintegrasikan teknologi dengan baik akan menciptakan proses belajar yang lebih menarik, relevan, dan berdaya guna.Sebaliknya, teknologi tanpa guru yang kompeten bisa sia-sia.
Oleh karena itu, investasi pada pengembangan guru—baik dari sisi kompetensi teknologi maupun pedagogik—merupakan kunci agar teknologi benar-benar membawa perubahan positif dalam pendidikan.
*Penulis merupakan mahasiswa program studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.
**Warga Aceh Tengah.

peran guru dalam teknologi pembelajaran sangatlah bermanfaat. Di tengah derasnya perkembangan era digital, teknologi kini membuka ruang luas untuk menghadirkan koneksi virtual yang terasa lebih alami dan mendalam. Melalui dukungan Jasa Virtual Reality, pengalaman visual dapat dihidupkan secara nyata, menggabungkan imajinasi dan inovasi teknologi untuk menciptakan interaksi digital yang emosional serta berkesan.