Foto: Usman Nuzuly dan Win Ruhdi Batin dalam Acara Podcast lintasgayo.com

Takengon | lintasgayo.com- Konsep wisata di Aceh Tengah tidak jelas dan terstruktur dengan baik. Bahkan para wisatawan tidak mendapat informasi resmi tempat , budaya, makanan dan oleh oleh yang akan mereka bawa pulang.

Hal ini dikatakan Usman Nuzuly, seorang pengusaha gayo yang gemar berwisata keliling dunia dan Indonesia. Saat podcast dengan lintasgayo, minggu malam (22/11/25).

Menurut lawyer dan pengusaha nikel di Indonesia Timur ini, alam gayo yang sudah tersedia demikian indah sebagai Anugerah Allah, ready to use.

Namun sayangnya tidak terkonsep dengan baik. Idealnya, sarannya, Pemda dengan dinas terkait , yaitu dinas Pariwisata sebagai regulator,hadir.

Hadir dengan informasi dan peta wisata yang mudah diakses. Sehingga wisatawan bisa membuat skedul wisata selama berada di gayo.

” Ini yang tidak ada. Tidak ada informasi dan buklet yang bisa dijadikan pedoman untuk wisatawan” kata Usman.

Dijelaskannya, wisata bukanlah sesuatu yang serba wah dan mahal. Cukup menghadirkan wisata yang telah ada dari kearifan lokal. Umpamanya, wisata berkebun, bersawah, nelayan, dan hal.menarik lainnya. Dimana wisatawan berada ditengah masyarakat langsung

Selain itu, perlu konsep wisata budaya

Dimana budaya gayo ditampilkan dan bisa dilihat dengan agenda tetap dan pasti.

Selama ini, lanjutnya ,promosi wisata hanya dilakukan oleh pelaku usaha di medsos mereka. Cara ini ternyata sangat efektif dan bisa menarik wisatawan langsung, meski dari luar negeri.

” Seharusnya regulator berperan disini. Selama ini kan tidak. Masih luah jaluh”, tandasnya.

Usman Nuzuly menyayangkan bangunan dan lokasi wisata dibuat dengan merusak kontur alam dan terkesan bar bar tanpa kendali. Di Erofa dan barat, tidak ada konsep wisata merusak alam. Seperti mengeruk dan menimbun.Tapi mengikuti kontur.

“Pemda harusnya melakukan pendampingan dari awal. Agar pelaku wisata tak merusak alam”, harapnya.

Apabila pariwisata gayo tidak dikelola dengan baik, Usman Nuzuly justru kuatir. Karena wisatawan akan kapok datang lagi jika mereka merasa ditipu dengan harga yang tidak logis.

Jadi perlu kehadiran Pemda sebagai regulator. Umpamanya mengatur harga makanan, parkir, tarif penginapan, dll yang logis dan seragam di semua tingkat pelaku usaha.

Usman Nuzuly yang kini membuka lokasi wisata di Lukup Badak Resort melihat 95 persen wisatawan berasal dari luar daerah, 3 oersen wisatawan asing dan selebihnya wisatawan lokal.

Banyak wisatawan yang bertanya, kemana mereka pergi selanjutnya setelah mengelilingi Danau yang selesai dikunjungi dalam waktu setengah hari.

Pengalaman Usman Nuzuly berkeliling dunia hingga ke Israel, konsep wisata bukan hanya soal sex, alkohol dan judi. Di gayo akan sangat berbeda karena memiliki kearifan lokal yang tidak ditemui di luar negeri.

” Stigma negatif orang soal wisata,tidak berlaku di Gayo yang memiliki adat budaya dan agama. Tinggal mengelolanya jadi potensi wisata ” katanya.

Siapa Usman Nuzuly

Usman Nuzuly adalah putra gayo yang merantau ke Jakarta sejak tahun 1977. Kemudian menjadi praktisi hukum sebagai lawyer dan menjadi pengusaha nikel di Indonesia Timur.

Hobinya berwisata telah mengantarkannya keliling Indonesia dan puluhan negara di dunia. Tempat tempat yang dianggapnya menarik, dikunjunginya berkali kali meski di luar negeri.

Namun lima tahun terakhir,Tanoh Tembuninya seperti memanggil manggilnya pulang. “Lagu ipepiloki”, katanya.

Lewat sebuah riset. Usman Nuzuly melihat Pembangunan dan tujuan wisata seputar Danau mulai jenuh.

Lalu dia memilih lokasi Lukup Badak. Ditepi Das Pesangen. Satu kawasan rawa yang kemudian jadi Lukup Badak Resort.

Banyak yang meragukan kawasan Paya Lukup Badak bisa jadi sebuah Resort, pada awalnya.

Namun karena konsep yang dimilikinya jelas, Usman berhasil menjadikan Paya Lukup Badak jadi tempat wisata yang indah.

Setahun setelah dibuka, Lukup Badak Resort tak pernah sepi pengunjung dari antero Sumatra dan tamu asing, seperti dari Yordan, Malaysia, dll.

Soal wisata, katanya, bukanlah berapa banyak orang yang datang. Tapi soal berapa uang yang mereka habiskan di satu tempat.

” Tinggal bagaimana kita. Apa yang kita sediakan sehingga mereka belanjakan uangnya disini. Mereka datang dengan uang kontan”, titirnya.

Usman Nuzuly mengambil sebuah konsep , Think Big. Start Small. Fast. Thailand merilis uang dari kunjungan wisata kesana tahun 2025 mencapai 674 trilyun.

Gayo adalah anugerah Allah yang indah. Tinggal kita memanfaatkanya. Apa yang kita sediakan?

Bagi wisatawan yang penting bagaimana mereka nyaman, dihargai dan harga yang logis. Maka berapapun uang yang keluar, mereka tak peduli. Gayo dengan alam dan kearifan lokalnya adalah, “Sitimang berat. I juel murege”. Demikian Usman Nuzuly.

Dan Usmanpun pulang ke Lukup Badak Resort malam minggu itu, menungang Audi.(Win Ruhdi Bathin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 comment

  1. Pak usman Nuzuly sudah dengan komentarnya soal pariwisata, semua kita yang bergerak di bidang ini juga ingin seperti yang beliau katakan, tapi bagaimana itu bisa berjalan kalau kepala dinas dipindah pindah seenaknya layaknya pion dalam bidak catur ? Lalu kita menyalahkan kadis tertentu yang baru menjabat beberapa bulan dengan anggaran sisa dari pemerintahan sebelumnya. Para pelaku wisata hanya ingin kejelasan dari para regulator termasuk anggota dewan agar segera menggodok qanun tentang pariwisata.