
” Hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maula wani’man nasir ”
“Jangan menangis Muallim”, kata Azir. Yang memanggul beras dijalan longsor . Seraya meyakini bahwa kejadian banjir dan longsor akan bisa dilalui rakyat Aceh.
Seperti bencana sebelumnya yang meluluhlantakkan Aceh. Azir meneriakkan masyarakat bersama Muallim. Aceh adalah rahim para pejuang.
“Bangun Muallim. Kalau pemimpim menangis, kami masyarakat lemah Muallim”, kata Azir. Azir sempat terjatuh di tanah berwarna kuning dikirim longsor . Lalu bangkit lagi.
…
Muallim sudah menangis. Tangis itu disaksikan rakyat Aceh. Menangisnya sang gubernur Aceh itu bagi Azir dan masyarakat Aceh adalah tanda.
Tanda bahwa sedihnya gubernur melihat keadaan Aceh yang lumat namun tidak dijadikan sebagai bencana nasional.
Masyarakat Aceh tentu saja menerjemahkan bahwa Muallim kecewa pada Jakarta. Pada Presiden Prabowo.
Kekecewaan Muallim adalah kekecewaan masyarakat. Muallim kemudian meminta bantuan lembaga resmi PBB .
Artinya , Muallim tak lagi mendengar Presiden. Rakyat membacanya bahwa Muallim tak bisa berharap lebih dari Jakarta. Dan masyarakat menganggap Aceh akan menentukan nasibnya sendiri.
Yakni meminta bantuan PBB. Di beberapa tempat di Aceh telah dibawa dan dikibarkan bulan bintang. Juga bendera putih. Termasuk di Takengon.
Jika Azir saja merasa perlu memberikan dukungan dari gunung di tengah Aceh agar Muallim kuat dan tidak lagi menangis.
Ini menandakan bahwa masyarakat Aceh tak. mau melihat gubernurnya menangis lagi. Cukup sekali. Dan rakyat siap menghadapi bencana ini. Seperti lewati bencana bencana dan konplik di masa lalu.
Apapun yang akan dilakukan gubernur, masyarakat siap bersamanya.
Jangan menangis lagi Muallim. (Ashaf)
