
Toweren adalah kawasan yang asri dan subur. Dengan adat dan budaya juga kearifan lokal lainnya yang masih terjaga. Penduduknya bertani, kebun kopi dan sawah,palawija hingga jadi nelayan.
Dalam satu kawasan terpadu di sisi selatan Danau dan dekat ke kota Takengon.
Namun sejak 26 November 2025,wajah kampung Toweren, berubah drastis hampir 360 derajat.
Betapa tidak, banjir bandang dengan material kayu, batu dan lumpur telah merusak kawasan perkebunan kopi dan sawah dalam satu waktu yang bersamaan.
Longsor sepanjang Kawasan kampung, yang merupakan gunung dan bukit telah merusak sumber utama ekonomi penduduk disana.
Kebun kopi yang subur tergerus dan terbenam tanah kuning longsor. Menutup hamparan persawahan hingga ke danau.
Longsor di hulu yang berkilometer dari kampung menghantam semua yang dilewatinya. Tanah hitam dam subur digantikan tanah kuning. Berubah. Luluhlantak.

Komar , salah seorang penduduk Toweren, kudapati sedang membersihkan sebuah Mersah ( Langgar) kecil kawasan perkebunan Doyah Lah. Sekitar dua kilometer di hulu Kampung Toweren. Sabtu, 20 Desember 2025.
Susah payah Komar mencangkul lumpur tanah liat dari area Mersah seorang diri sambil menunggu petani yamg membawa panen kopi warga untuk dibeli.
Jalan di samping Mersah sudah ditutupi lumpur. Tak lama. Seorang petani datang memanggul kopi. Komar membelinya seharga Rp. 16 ribu sekaleng buah merah.
Kebun orang tua Komar yang berjumlah hampir dua hektar, habis tertutup lumpur kuning, batu dan bongkahan kayu.
” Perlu waktu sekitar lima tahun memulihkan tanah ini”, kata Komar. Puluhan hektar , hingga ratusan hektar kebun penduduk disana diperkirakan Komar yamg rusak berat mencapai 50 persen. Demikian halnya sawah sepanjang aliran sungai.
Arman, tokoh masyarakat Toweren, mantan Reje, yang di Indonesia disebut Kepala Kampung menyatakan bahwa kondisi masyarakat Toweren kini terpuruk karena sumber utama ekonomi mereka rusak parah.

” Diperkirakan 50 persen sawah dan kebun tertimbun tanah. Diperlukan 5 tahun lebih untuk bisa normal”, papar Arman.
Untuk itu Arman berharap bijak dan ikut mencari solusi dari keterpurukan ini. Agar masyarakat bisa keluar dari krisis ekonomi.
Masih di Toweren, Ati Inen Yen yang berpropesi sebagai buruh tani, kini kehilangan pekerjaannya. Para petani di Toweren kesulitan jalan menuju kebun karena terkena longsor.
Kalaupun ada pekerjaan panen kopi. Harus menempuh jalan hingga dua jam baru sampai ke kebun karena melewati longsor.
Dalam kondisi normal, jalan ini bisa ditempuh hanya 15 menit dari Kampung. Menurut Ati, panen raya kopi akan berlangsung bulan dua tahin depan. Pun juga panen panen padi. Kini sebagian besar sawah di Toweren tertutup lumpur tanah kuning. Batu dan kayu.
Salah satu sawah bibik.Ati di Kuala Toweren yang bibitnya mencapai 2 kaleng, atau kurang dari satu hektar, tersisa dua petak ( tempeh ) lagi Sawah petani lain, habis tertutup tanah.
Sawah sawah di Toweren yang apabila selesai panen padi, akan ditanami bawang . Bawang merah Toweren sangat baik dan terkenal kualitasnya. Kini tak ada lagi.
Toweren yang dulu indah dan asri. Kini berubah dengan wajah yang mengerikan. Tidak ada lagi sawah yang sudah Ampar Kul, atau akan menguning. Dan panen bulan 2 tahun depan.
Yang tampak di Kampung Toweren kini adalah tanah kuning diatasnya gelondongan kayu besar menghampar dari Toweren Uken hingga ke Kuala, di tepi Danau..
Innalillahiwainailaihirajiun
(Win Ruhdi Bathin)
