
Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, harus merenung lama. Bukan untuk menyesali, tapi mengulang kaji sebelum mengambil keputusan kepada siapa ia akan memberikan wewenang jabatan Eselon II di daerah yang ia pimpin.
Ibarat perang, semua Kepala Dinas merupakan jenderal penting yang tidak dapat dikecualikan bila ingin menang. Jangankan untuk bertarung, untuk baris berbaris saja perlu koordinasi dan kesepahaman.
Penanganan Darurat Bencana kemarin sedikitnya dapat Bupati jadikan pelajaran penting. Mana jenderal yang benar-benar berada di pihak panglima dan mana jenderal yang untuk mengangkat pedangnya sendiri saja ogah-ogahan.
Jangankan bergerak seirama tanpa perintah, melaksanakan perintah saja tidak mampu. Mengerjakan pekerjaan yang jadi tugas pokoknya saja ogah-ogahan konon mau berprestasi.
Sebab, memimpin wilayah dengan luas 445.404,12 hektare itu tidak mungkin bisa dilakukan sendiri. Super Man pasti kelabakan, harus super team.
Super Team dalam artian satu arah, satu ide, satu visi dan yang paling penting satu komando. Bayangkan saja dalam peperangan ada jenderal yang bergerak tidak sesuai dengan komando panglima? hancur sudah.
Disinilah sedikit egoisme harus di pakai, bukan untuk kepentingan diri, tapi demi pemerintah Aceh Tengah yang lebih baik.
Minimal, Bupati egois untuk tidak berdiskusi dengan siapapun selain dirinya sendiri dalam menyimpulkan siapa jenderal yang akan ia pilih untuk menemaninya berperang.
Khususnya jenderal untuk pasukan penting yang akan menghadapi perang dengan intensitas tinggi dalam proses rekonstruksi pasca bencana ini.
Masukan dan saran yang sifatnya politis harus di nomor dua kan. Bukan tidak di gubris, tapi di filter sedemikian rupa, di cek bibit, bebet, bobotnya.
Jangan karena politis, orang yang hobinya menyembunyikan kendaraan dinas pun diberi jabatan dan kepercayaan, kan malu.
Catatan, Mhd.
