Roda Jayami Remesen Dari Tahun 1945 Beroperasi Hingga Kini

Foto WRB : Kilang Kopi dan Padi Jayami, Remesen

Takengon | lintasgayo.com- Roda Jayami Remesen adalah Pabrik pengolahan padi menggunakan tenaga air. Dibuat tahun 1945 , hingga kini masih beroperasi.

Namun sejak 26 November 2025, sungai Remesen mengamuk dan banjir . Membawa batu dan kayu.

Bangunan gudang dua pintu dan dua tingkat disamping sungai Pesangan ini hancur. Roda yang mengandalkan aliran deras sungai ini selamat dari banjir. Satu jembatan didepan penggilingan padi ini putus.

“Kini Roda Jayami tidak lagi bisa beroperasi karena aliran air ke penggerak roda terputus dan rusak “, kata Nazli Rahmadi, pengelola Jayami, generasi ketiga

Menurutnya, mesin penggilingan padi tenaga air ini dibangun kakeknya, M.Jacub. M.Jacub dibantu seorang Jepang membuat roda ini tahun 1945.

Sejak saat itu, warga dari berbagai kampung , Remesen, Paya Beke dan Roteh , menggiling padi disana.

“Kerugian akibat banjir ini mencapai ratusan juta. Menenggelamkan gudang dua pintu, dua tingkat serta sejumlah barang lainnya”, papar Nazli.

Nazli berharap, jembatan yang terputus segera diperbaiki karena menjadi penghubung tiga kampung. Begitu juga aliran sungai ditata kembali karena kini dipenuhi kayu dan batu

“Saya berharap aliran air sebagai penggerak roda penggilingan padi segera diperbaiki. Agar mesin ini bisa jalan. Menggiling padi warga dari tiga kampung “, harap Nazli.

Nazli mengaku belum pernah mendapat bantuan. Kecuali dari Desa. Disana ada tiga keluarga terdampak.

Hamka, Reje Remesen mengungkap ada 11 rumah yang rusak berat dan 4 rusak ringan. Akibat banjir dan longsor.

Parahnya, aliran air bersih putus karena pipanya terbawa banjir dan longsor. Sumber air bersih kampung Remesen, tambahnya berasal dari daerah Gantung Langit , sepanjang dua kilometer.

“Sampai saat ini, aliran air bersih ke Remesen, belum sampai. Masih kita usahakan”, kata Hamka.

Hamka berharap perusahaan besar yang menangani proyek PLTA , bersimpati kepada warga korban banjir dan longsor. Termasuk fasilitas umum yang rusak .

“PLTA hanya bantu tiga karung beras. Sementara satu perusahaan , Andritz , rekanan Plta asal India sama sekali tidak berempati pada musibah ini”, tegas Hamka kecewa. Padahal , lanjut Hamka, Andritz berkantor dan memiliki Mes di Remesen.

” Ini bukan jamannya lagi kami harus demo dan teriak teriak agar mereka membantu. Seharusnya mereka mengerti dan berempati lah”, harap Hamka diamini beberapa warga lainnya di kantor reje Remesen.(Ashaf)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.