Ekonomi di Bawah Bayang-bayang Antrean: SPBU dan Paradoks Energi yang Mematikan Roda Rakyat

Ketua HMI Cabang Takengon – Bener Meriah. Dok Pribadi.

Oleh, Afdhalal Ghifari*

Di balik deru mesin yang berjejer di depan SPBU, ada suara lain yang tak terdengar suara rakyat kecil yang perlahan kehilangan nafkah.

Bukan karena mereka malas, tapi karena ekonomi mereka mati pelan-pelan di samping SPBU yang hidup hanya untuk antrean, bukan untuk keadilan.

Beberapa hari terakhir, pemandangan antrean kendaraan yang mengular hingga ratusan meter bukan lagi sekadar cerita tentang kelangkaan BBM.

Ia sudah berubah menjadi simbol kelumpuhan ekonomi di tingkat jalanan. Pedagang kecil kehilangan pembeli, benkel kehilangan castemer toko-toko terpaksa tutup lebih cepat karena akses jalan tersumbat total.

Jalan yang biasanya menjadi nadi pergerakan ekonomi rakyat, kini berubah menjadi parkiran panjang tanpa arah.

Lebih ironis lagi, semua terjadi tanpa pengawasan berarti. Pengelola SPBU seolah menutup mata, pengawasnya seakan tuli terhadap jeritan masyarakat di sekitarnya.

Tak ada pengaturan, tak ada solusi, hanya deretan mobil yang menunggu nasib di bawah terik matahari sementara di sisi jalan, ekonomi rakyat mati tanpa perhatian.

SPBU memang hidup, tapi di sekitarnya kehidupan sosial ekonomi justru mati. Di mana tanggung jawab moral dan sosial pengelola?
Di mana peran pemerintah daerah dalam memastikan bahwa pelayanan publik tidak menindas publik itu sendiri?

Kita tidak sedang bicara soal bensin semata. Kita sedang bicara tentang keadilan ruang hidup rakyat kecil, tentang hak mereka untuk bernapas di tengah antrean yang seharusnya diatur, bukan dibiarkan liar.

Jika keadaan ini terus berlanjut, maka SPBU bukan lagi “Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum” — tapi “Stasiun Pemadaman Ekonomi Umat.”

*Penulis merupakan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Takengon – Bener Meriah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

2 comments

  1. HMI salah alamat.. mestinya yg kalian kritik itu pemerintah ” Pertamina yg tidak mampu memenuhi kebutuhan BBM utk masyarakat” bukan SPBU nya.. mereka (SPBU) hanya distributor yg menyuplai ke masyarakat..coba saja perhatikan saat suplai BBM dari Pertamina ke SPBU lancar apakah ada antrian seperti setiap akhir tahun??! Kondisi ini sudah berlangsung di Aceh saat pandemi covid thn 2021 yg lalu.

  2. HMI salah alamat.. mestinya yg kalian kritik itu pemerintah ” Pertamina yg tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat” bukan SPBU nya.. mereka (SPBU) hanya distributor yg menyuplai ke masyarakat..coba saja perhatikan saat suplai BBM dari Pertamina ke SPBU lancar apakah ada antrian seperti setiap akhir tahun??! Kondisi ini sudah berlangsung di Aceh saat pandemi covid thn 2021 yg lalu.